Minggu, 14 Juli 2013

Sejarah dan Perkembangan Persagi (Persatuan Ahli Gambar Indonesia)



Sejarah dan Perkembangan Persagi
(persatuan ahli gambar indonesia)
Sejarah perjalanan seni rupa di Indonesia mempunyai rentang waktu yang cukup panjang. Tidak hanya sebatas pada waktu Indonesia sudah merdeka, tetapi jika di runut terdapat fase dalam pemetaan seni rupa di Indonesia. Tentunya ketika membicarakan sejarah panjang seni lukis Indonesia Modern, tidak dapat dilepaskan periode-periode sebelumnya. Yaitu periode Raden Saleh dan Moi Indie, jadi diharapkan akan terjadi kejelasan kausalitas dari tiap periodenya. Pembahasan tulisan ini seputar seni rupa modern di Indonesia sebelum dan sesudah kemerdekaan. Di mana kita tahu seni rupa modern Indonesia mempunyai cikalnya pada masa penajajahan Belanda. Pengaruh pemikiran dan artistik Barat sungguh besar dalam mengubah kondisi masyarakat In Lander. Walaupun ada yang beranggapan orang In Lander dikekang kebebasan dalam mengakses pendidikan, dan pendidikan hanya dinikmati oleh kalangan Ningrat atau Bangsawan.
Selanjutnya sebagai pokok bahasan tulisan ini adalah periode di mana terdapat gejolak dalam pemikiran dan artistik pada masa Pergerakan Indonesia. Yaitu ditandai dengan munculnya organisasi pelajar dan lahirnya tokoh-tokoh Pergerakan yang akan mengubah nasib Hindia Belanda menjadi Indonesia. Pada masa itu pula lahir sekelompok seniman yang tergabung dalam Persatuan Ahli Gambar Indonesia (Persagi). Sebelum kelahiran Persagi tentunya disebabkan oleh periode sebelumya, yaitu periode Mooi Indie atau mazhab Hindia Molek yang memuja keindahan alam Nusantara dan gadis pribumi.
Salah satu lukisan Mooi Indie Karya dari Wakidi, pelukis pribumi yang lukisannya tentang pemandangan.
Periode Mooi Indie yang memesona.
Kekayaan dan keindahan Nusantara tidak hanya menggoda Kolonial Belanda untuk menjajah Hindia Belanda yang subur dan hijau serta kaya akan hasil bumi. Selain menjajah Hindia Belanda(Indonesia sebelum merdeka) koloni Belanda juga terpesona dengan keindahan alamnya. Sehingga selain mengeruk kekayaan alam Hindia Belanda dan menjajah rakyat pribumi. Belanda dengan para pekerja seninya juga mendokumentasikan keindahan alamnya. Dengan mendokumentasikan alam, flora, fauna serta kehidupan untuk kepentingan ilmu pengetahuan, juga didokumentasikan melalui lukisan untuk apreasiasi seni.
Gaya lukisan mooi Indie atau Hindia Molek muncul di Batavia pada awal abad 20. Di mana pada waktu terdapat berbagai status sosial yang beragam di Batavia, salah satunya adalah kalangan masyarakat menengah Belanda yang tinggal di lingkungan pribumi. Kalangan menengah Belanda tersebut membawa pola baru dalam kehidupan, salah satunya adalah dengan megoleksi benda-benda seni termasuk lukisan. Memasuki tahun 1920-an pertumbuhan tempat tinggal orang Belanda di Batavia adalah di kawasan Weltervreden Selatan dan Tenggara. Di samping itu, sepanjang kawasan tepi kota yaitu Gondangdia Baru dan Menteng berderet-deret bangunan orang Belanda dengan halaman depan dan di belakang yang rapi dan teratur. Kelompok masyarakat menengah Belanda itulah yang menjadi patron seni lukis yang mulai berkembang. Kondisi megoleksi lukisan tersebut mulai tumbuh pada akhir abad ke-19.
Sebagai penanda sekaligus penguat akan hadirnya budaya yang mengandung nilai estetika tersebut datang dari pemerintah kolonial sendiri. Pemerintah kolonial mendirikan lembaga kebudayaan Nederlandsch Indische Kunstkring pada 1 April 1902. Kemudian dalam perkembangannya lembaga kebudayaan ini dikenal di Batavia dengan sebutan Bataviaasche Kunstkring. Lembaga kebudayaan tersebut menjadi penampung aspirasi kalangan elite Belanda dan intelektual pada kelas menengah Belanda. Lembaga kesenian tersebut menaungi berbagai seni, antara lain seni lukis, musik, tari, drama, maupun pidato kebudayaan dan membaca. Dengan adanya lembaga kebudayaan tersebut, maka dunia seni pada zaman itu menjadi semarak dan bergairah. Pameran dan pertunjukan sering diadakan di gedung tersebut. kegiatan yang dibuat dengan makna sejarah besar adalah pameran seni lukis pada tahun 1903 yang menampilkan karya duplikat dari Rembrant van Rijn di Batavia.
Dengan berdirinya lembaga kesenian sebagai patronase seni lukis dan tersedianya prasarana-prasarana yang lain semakin membuka kesempatan ruang yang kondusif untuk mempertemukan minat masyarakat dan visi pelukis. Maka dari itu banyak pelukis profesional Eropa yang berdatangan ke Hindia Belanda, untuk dapat mengeksplor alamnya yang indah. Walaupun sebelumnya ada pelukis yang bekerja di bawah instruksi pemerintah Belanda. Mereka adalah pelukis yang ditugasi oleh V.O.C atau pemerintah Hindia Belanda untuk membuat pendokumentasian sebagai laporan dinas dan kepentingan ilmiah. Mereka itu boleh dikatakan pekerja di bidang artsitik yang mendokumentasikan melalui sketsa atau lukisan. Pelukis yang ditugaskan antara lain C.G.C. Reinwardt, A.J.Bik, Th.Bik dan A.A.J. Payen. Pelukis yang terakhir disebut dikenal sebagai guru dari pelukis pribumi bangsawan Raden Saleh.
Lukisan dari Walter Spies "Die Landschaft un ihre Kinder" 1941, yang melukiskan pemandangan alam di Bali.
Selain itu pula muncul pelukis-pelukis profesional yang bekerja untuk melukis, tidak diperintah oleh pemerintah kolonial. Mereka datang dari daratan Eropa tepatnya negeri Belanda, pelukis tersebut datang untuk dapat mendokumentasikan keindahan alam Hindia. Tercatat nama-nama pelukis terkenal di Hindia Belanda seperti, P.A.J. Moojen, W.O.J. Nieuwenkamp yang datang pada tahun 1904. Selanjuthya menyusul pelukis lain seperti, Du Chattel, Carel Dake, Dolf Breetvelt, Isaac Israel, Marius Bauer, dan Romualdo Locatelli. Kedatangan pelukis tersebut membawa faham baru dalam aliran seni, yaitu aliran impresionisme dan ekspresionisme. Di mana pada waktu itu di Eropa memang sedang berkembang aliran jenis baru tersebut, sehingga para pelukis tersebut membawa faham baru yang lebih segar bagi wacana seni di Hindia Belanda. Mereka melukis alam dan kehidupan di negeri yang eksotis dan kaya akan cahaya. Sehingga mereka rela datang dari jauh untuk dapat menangkap momen estetis tersebut. Di mana pemandangan alam dengan hamparan sawah, sungai, tumbuhan tropis, dan adat penduduk pribumi, selalu menggoda untuk dapat digoreskan di atas kanvas.
Kedatangan para pelukis dari Eropa tersebut membuat semarak dunia kesenian di Batavia pada waktu itu. Para pelukis tersebut pada umumnya tergoda oleh eksotisme dunia timur. Mereka mendatangi tempat-tempat seperti lembah, gunung, desa, sungai, hamparan sawah, melukis kegiatan adat dan gadis desa yang cantik. Mereka berkelana ke berbagai daerah di Jawa, Sumatra hingga ke Bali. Keindahan alam Hindia memaksa mereka untuk dapat berlama-lama tinggal di Hindia, untuk dapat mendokumentasikan moment estetis alam dan kebudayaan. Para pelukis yang menetap lama di Hindia antara lain Willem Dooyewaard, Rolland Strasser, Walter Spies, Rudolf Bonnet, dan Willem Hofker. Para pelukis di atas tergoda dengan eksotisme alam Hindia, khususnya pulau Bali yang memiliki keindahan alam bagai surga.
Pada intinya para pelukis Eropa tersebut datang ke Hindia untuk melukis keindahan alamnya yang eksotis. Dan dari lukisan yang dihasilkan para pelukis Eropa tersebut melahirkan istilah Mooi Indie. Sebutan istilah tersebut tentunya tidak terdapat dalam terminologi sejarah seni lukis mainstream Barat. Karena istilah Mooi Indie sendiri menjadi populer di Hindia Belanda (Indonesia) semenjak S.Sudjojono memakainya untuk mengejek pelukis-pelukis pemandangan dalam tulisannya pada tahun 1939. Namun sebelumnya istilah Mooi Indie pernah dipakai untuk memberi judul reproduksi lukisan pemandangan Hindia Belanda karya cata air Du Chattel yang diterbitkan dalam bentuk portofolio di Amsterdam tahun 1930.
Periode Mooi Indie telah begitu besar menyumbang dalam lanskap seni rupa modern di Indonesia awal. Tetapi setelah cukup lama menjadi barometer seni lukis modern Hindia Belanda, akhirnya Mooi Idie mendapat reaksi keras dari kaum Bumiputera. Dan seiring dengan gejolak ekonomi serta politik yang tidak kondusif menjelang tahun 1930-an. Di mana pada tahun-tahun tersebut lahir pemikiran kritis dari kaum Bumiputera, mereka merindukan akan kebebasan yang setelah sekian lama terpasung oleh kolonial. Gerakan-gerakan mulai muncul dalam bidang pendidikan, politik, kebangsaan, nasionalisme dan kebudayaan. lahir pula kelompok-kelompok pergerakan yang nantinya akan membawa ke gerbang kemerdekaan bangsa Indonesia. Di lain pihak lahir pula pergerakan budaya yang memperjuangkan nilai-nilai nasionalisme, salah satunya adalah Persagi (Persatuan Ahli Gambar Indonesia.
Foto Anggota Persagi dalam rapat tahunan 1940 di Jakarta.
Lahirnya Persagi (Persatuan Ahli Gambar Indonesia).

Lahirnya Persagi tentunya bukan tanpa sebab atau kasualitas, Persagi lahir sebagai bentuk protes atas nilai estetika oleh yang di usung oleh Mooi Indie. Tentu saja tidak disebabkan oleh satu persoalan tersebut di atas, tetapi banyak faktor yang melatarbelakangi lahirnya pergerakan budaya tersebut. kondisi ekonomi dan politik pada masa tersebut memang menuntut pembaruan dalam segala bidang, tak terkecuali dalam bidang seni dan budaya. Di mana pada waktu kondisi ekonomi di Batavia memang sedang kacau. Memasuki  tahun 1930-an, keadaan Batavia telah  berbeda dengan awal abad 20. Keadaan semacam itu membuat keadaan masyarakat pribumi semakin sulit dalam kehidupan, dan memang keadaan pada zaman tersebut belum dapat dikatakan nyaman. Kondisi sosial masyarakat bawah yang kehidupannya berat, ternyata menggugah kesadaran dan visi baru kelompok Persagi untuk mengungkapkan realitas yang ada.  Tokoh utama dalam pergerakan budaya tersebut adalah Sudjojono yang menorehkan pemikirannya dalam tulisan yang banyak di muat di majalah atau surat kabar pada waktu itu.
Memang pada waktu itu kondisi Hindia Belanda sedang dalam progres untuk menuju pencerahan yang dikomandoi oleh kaum Pribumi terpelajar. Pada dasawarsa kedua abad 20-an memang muncul pergerakan pemuda yang di pelopori oleh Boedi Utomo sejak tahun 1908. Selanjutnya di susul dengan berdirinya perguruan Taman Siswa tahun 1922, Sumpah Pemuda 1928, dan pada bidang sastra muncul Poejangga Baroe tahun 1933, serta Polemik Kebudayaan 1935 sampai 1939. Dengan adanya organisasi pergerakan pemuda tersebut, ternyata menjadi stimultan dan terus memunculkan perkumpulan di bidang lain. Salah satunya adalah perkumpulan seniman yang mengibarkan bendera Nasionalisme dan berpihak pada Kerakyatan. Tepatnya pada tanggal 23 Oktober 1938 Persagi lahir, yang merupakan akronim dari Persatuan Ahli Gambar Indonesia.
Suasana rapat tahunan Persagi.
Deklarasi Persagi pada bulan Oktober tersebut berlangsung di  Gedung Sekolah Rakyat “Ksatryan School met de Qur’an”, di Gang Kaji Batavia. Pengurus Persagi pada periode pertama terdiri dari Agus Djaja sebagai ketua, Sudjojono sebagai sekretaris dan Rameli sebagai komisaris. Selain nama pengurus di atas sebagai anggota Persagi antara lain Soediardjo, L.Setiyoso, Emiria Soenassa, Saptarita Latief, Herbert Hoetagaloeng, S. Toetoer, Sindhusisworo, Soeaib, Soekirno, Soerono, Suromo dan Otto Djaja. Sebagai kelompok pergerakan di bidang budaya yang mengibarkan semangat baru dan panji-panji Nasionalisme Kerakyatan, Persagi aktif mengadakan rapat tahuan, diskusi, melukis bersama, dan pameran.
Tujuan dari kelompok Persagi ditekankan pada pencarian corak seni lukis Indonesia yang baru lewat kerjasama di sanggar dan diskusi antara sesama anggota. Pemahaman dari Persagi melukis tidak hanya pemandangan sawah, sungai, pantai dan gadis yang cantik. Tetapi melukis harus juga melihat dari sisi kemanusiaannya, selain estetika tedapat nilai lain yang harus dimunculkan dalam sebuah karya seni. Keyakinan lainnya adalah dalam melukis hendaknya bersikap sederhana dan jujur mengungkapkan objek. Realitas objek-objek di sekitar pelukis sesungguhnya merupakan kesaksian kehidupan yang kaya. Berkarya dengan jujur dan sederhana artinya membuat karya seni sesuai dengan realita yang ada dan tanpa ada untuk membaguskan objeknya. Misalkan lingkungan sekitar tentang peperangan, penderitaan rakyat kecil, gadis desa, objek tersebut digambar dengan jujur tanpa ada unsur rekayasa untuk memperindahnya. Biarkan realita itu bicara dalam sebuah karya seni, itulah faham yang diterus dikobarkan oleh kelompok Persagi.
Adalah S. Sudjojono yang aktif menyuarakan semangat seni lukis Indonesia Baru melalui tulisan-tulisannya yang dimuat di majalah dan surat kabar. Seni lukis sebagai salah satu unsur kebudayaan suatu bangsa dengan sendirinya seharusnya mengungkapkan  corak yang cocok dengan watak bangsa itu. Meskipun demikian, lukisan-lukisan Indonesia pada saat itu belum juga mempunyai corak Indonesia. Hal itu karena kultur yang ada masih hilir-mudik. Di satu pihak masih besifat kejawaan, kekunoan, dan di lain pihak bersifat kebaruan jawa dan bahkan kebarat-baratan. Lewat tulisannya, Sudjojono menganjurkan kepada para pelukis untuk mempelajari kehidupan rakyat jelata di kampung-kampung dan di desa-desa.
Lukisan Agus Djaja "The Pursuit"
Bertolak dari kebiasaan para pelukis Mooi Indie, para pelukis yang tergabung dalam Persagi mencipta lukisan dari objek yang ada di lingkungan sekitar. Para pelukis tersebut melukis tentang kehidupan nyata yang ada di sekitar mereka, tentang susana kampung, tentang penderitaan rakyat, seni pertunjukan, perjuangan, gerilyawan, dan gadis pribumi dengan nuansa yang sesungguhnya. Jadi para anggota persagi melukis realita tentang penderitaan rakyat jelata, selain menyentuh nilai estetika lukisan hendaknya menyentuh nilai kemanusiaan. Tetapi tidak semua anggota persagi mencipta karya yang berbau kemanusaiaan tetapi ada juga yang masih menggambar pemandangan. Selain itu ada juga yang mengadopsi tema budaya lokal seperti wayang, dimana itu terlihat pada corak lukisan Agus Djaja. Lukisan Agus Djaja mengadopsi unsur wayang, yang telah dideformasi dan tampak lebih ekspresif dan manusiawi. Hal ini dapat dilihat pada lukisannya yang berjudul “The Pursuit” (Pengerjaran). Dalam lukisan tersebut tampak sosok wayang sedang naik kuda sambil memanah, dimana lukisan tersebut merepresentasikan tokoh Arjuna yang gagah berani dalam dunia pewayangan.
Selain itu lukisan-lukisan Agus Djaja menggambarkan tentang kesenian rakyat, seperti yang berjudul “Ronggeng”, Tjap Go Meh”, “Topeng”, De Goochelaar (Tukang Sulap), dan “Koeda Kepang”. Lain lagi dengan Sudjojono, lukisan Sudjojono mencerminkan kegelisahan dalam menyelami realitas kehidupan. Karya-karya dari Sudjojono antara lain “Di Depan Kalmboe Terboeka”, “Mainan”, “Djoengkatan”, “Anak-anak Soenter”, “Tjap Go Meh” dan “Kawan-kawan Revolusi”. Selanjutnya ada pelukis Emiria Soenassa, adalah salah satu pelukis wanita Indonesia pertama yang bergulat dengan seni lukis sebagai ekspresi. Maka dari itu Emiria bergabung dengan Persagi sebagai media untuk mengepreksikan konsep estetikanya. Karya dari Emiria memiliki corak primitif yang mengungkapkan rasa naif yang jujur. Dimana itu tercermin dalam beberapa karyanya antara lain “Roemah di Tepi Hoetan” dan “Perkawinan Dajak”.
Karya dari Sudjojono "Di Depan Kalambu Terbuka" sedang di display oleh Mike Susanto (Dosen saya sewaktu Kuliah) dalam suatu pameran.
Otto Djaja merupakan pelukis termuda dalam Persagi, dan merupakan adik dari Agus Djaja. Karakter lukisan dari Otto Djaja mempunyai karakter naif yang cukup kuat. Karya-karyanya yang dikenal mempunyai karakter naif antara lain pada “Pertemoean” dan “Kethoek Tiloe”. Selanjutnya pelukis Persagi lainnya adalah R.M. Soerono, Soediardjo, dan Suromo. R.M. Soerono merupakan salah satu pelukis yang berbakat dalam seni lukis. Bakat seninya diasah oleh pulukis Belanda yaitu Velthyusen, hingga menjadi pelukis profesional. Lukisan-lukisannya antara laian berjudul “Terug van de Weide” (Kembali dari Padang Rumput), “Tarian Timoer” dan “Perahu Majang”. Anggota lain yang sudah terjun ke dunia profesional dalam dunia artistik adalah R.Soediardjo dan Suromo. Kedua orang tersebut bekerja sebagai drafter (penggambar) yang menangani pekerjaan lukisan kaca, mural dan keramik di biro arsitek Robert Deppe, di Batavia. S.Soediardjo mendapat perhatian besar dari para pengamat seni, karena kekuatan ekspresi lukisannya yang di pamerkan di Batavia Kunstkring yaitu “Bade om Zielenheid” (Doa untuk Pendeta)
Suromo adalah pelukis yang mengasah kemampuan artistiknya dengan bekerja di Batavia, sebagai desainer atau penggambar pada perusahaan Robert Deppe. Selain itu Suromo memeroleh kemampuan melukisnya dengan belajar akademis di Pringadi. Setelah pada masa setelah Persagi Suromo tetap dikenal sebagai pelukis yang aktif, dengan sifat sebagai “een geboren schilder” (pelukis berbakat), yang lebih suka bekerja dengan produktif daripada berdebat dalam wacana. Anggota Persagi lainnya adalah Abdul Salam, pelukis kelahiran Banyumas 1912, adalah ilustrator majalah mingguan “Pembangoen” dari surat kabar “Pemandangan”. Selain itu ia juga bekerja di bagian menggambar Kantor Statistik dan di kantor Biro Reklame “A de le Mar” Batavia. Suromo juga mengasah bakat melukisnya pada pelukis Belanda Pip Pijpers. Karya-karya dari Suromo memunculkan karakter kejujuran dan mengabdi pada realitas yang ada.
Pelukis Persagi selanjutnya adalah G.A. Soekirno, yang karakter lukisannya mempunyai kecenderungan pada gaya karikatural. Pelukis-pelukis di atas adalah yang memegang mempunyai karakter dalam ide maupun konsep. Mereka mencoba membuat lukisan dengan gaya tersendiri tanpa dibayang-bayangi oleh gaya Moii Indie. Sehingga dari corak lukisannya  cenderung ekspresif dan impresionisme, di Smana kedua aliran tersebut memang berasal dari Eropa. Tetapi ada Pelukis Persagi yang masih tetap berkarya di bawah pengaruh Mooi Indie. Mereka adalah Herbert Hutagaloeng dan S. Toetoer, yang masih berkutat dengan lukisan pemandangan yang indah dan hijau. Lukisan dari Herbert Hutagalung yang pernah dipamerkan dalam pameran bersama Persagi adalah “Eenzaam Bamboevolt” (Rakit Bambu yang Terasing). S. Toetoer yang masih senada karyanya dengan Herbert Hutagaloeng, menampilkan jenis karya yang masih berbau Mooi Indie. Karya-karya yang pernah dipamerkan dalam pameran pertama persagi antara lain “Indonesische Venus”, “Pemandangan di Molenvliet” dan “Pemandangan di Mega Mendoeng”. Menurut beberapa pengamat S.Toetoer mempunyai kekuatan warna yang berkualitas.
Untuk dapat membuktikan eksistensi kelompok mereka, maka dari itu Persagi mencoba mengadakan pameran sebagai bukti keberadaannya. Tetapi bukan usaha yang mudah untuk dapat memamerkan karya seni mereka pada zaman itu. Di mana kekuatan birokrasi pemerintahan di Batavia pada waktu itu masih dipegang oleh pemerintah Belanda. Persagi mencoba untuk dapat berpameran di gedung Bataviasche Kunstkring, tetapi upaya untuk pameran di gedung tersebut di tolak. Penolakan tersebut langsung dilontarkan oleh ketua dari Bataviasche Kunstkring, Mvr. De Loos Haaxman bahwa bangsa Indonesia dianggap hanya cocok sebagai petani. Pernyataan yang senada datang dari pelukis Velthuysen di koran Nieuwsgier , bahwa pelukis Indonesia lebih baik menanam padi saja, daripada melukis. sebab kalau menanam padi, orang Jawa udah mengerti dan menguasai.
Lukisan Otto Djaja "Pertemuan" yang memilki corak naif yang kuat.
Itulah pernyataan dari para penguasa Belanda yang diskriminatif, maka dari itu Persagi mencari jalan lain untuk dapat pameran perdana. Tetapi pada akhirnya Persagi dapat berpameran di toko buku Koff & Co. Pameran perdana tersebut diikuti oleh para anggota Persagi dan karya yang dipamerkan tanpa seleksi yang ketat, para pelukis dapat memutuskan lukisan yang akan dipamerkan. Pameran perdana tersebut berlangsung di bulan April 1940. Tahun berikutnya Persagi akhirnya dapat juga berpameran di gedung Bataviasche Kunstkring pada tanggal 7 sampai 30 Mei 1941. Keberhasilan tersebut merupakan fenomena yang sangat bermakna untuk pelukis pribumi. Laporan bernada positif datang dari surat kabar Bataviaasch Nieuwsblad, mengungkapkan bahwa pelukis pribumi yang sebagian besar adalah para pemuda, tidak menemui kesulitan dalam berkarya. Warna-warna lukisan mereka mencolok, dan pandangan keseniannya sering muncul lebih menyakinkan daripada bentuk lukisannya yang masih mencari-cari.
Itulah beberapa kegiatan yang dilakukan oleh Persagi sebagai bukti eksistensi kelompok. Dengan membawa faham baru tentang corak seni lukis Indonesia yang baru, pelukis tersebut lepas dari tradisi lama. Dalam karya-karya mereka menampilkan beragam objek yang tidak hanya eksotis dan romantis. Tetapi dalam karya mereka terdapat kedalaman makna berupa nilai-nilai yang ditanamkan terhadap karya seni. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Sudjojono tentang gaya lukisan Mooi Indie. Bahwa lukisan-lukisan Mooi Indie yang serba tenang dan damai dikatakan sebagai pelepas jemu para turis yang dinegerinya hanya melihat skyscrapers (bangunan-bangunan pencakar langit). Lebih jauh Sudjojono mengungkapkan bahwa seniman Persagi tidak bisa menghormati pelukis-pelukis yang enak-enak menggambarkan lembah, gunung, awan-awan, dan mimpi di sorga sambil berkata : “O, romantisnya Priangan”. Disisi lain pelukis-pelukis itu tidak mendengarkan para petani yang mengeluh, merintih, dan menangis sebab kakinya terekena cangkul, berdarah dan luka parah. Lukisan-lukisan Mooi Indie itu barankali bagus, namun rasa kemanusiaannya tidak ada.
S.Sodjojono tokoh sekaligus penggerak Persagi.
Dengan keragaman konsep estetis atau kekayaan wacana dalam tubuh Persagi akhirnya melahirkan berbagai bentuk karya yang khas dari setiap senimannya. Disamping itu mereka mempunyai pandangan yang sama dalam mencari corak seni lukis Indonesia yang baru. Serta memperjuangkan harkat pelukis pribumi di mata orang Belanda, maka dari itu lukisan-lukisan anggota Persagi mempunyai corak yang lain dibandingkan dengan Mooi Indie. Kredo antiteknik dalam proses kreatif mereka semakin menguatkan kecenderungan kebebasan menuju ke corak lukisan ekspresionisme. Dalam perjalanan Persagi yang cukup singkat itu, tahap pematangan visi estetik anggotanya baru tercapai setelah Persagi bubar. Persagi bubar pada waktu pendudukan Jepang di Batavia sekitar tahun 1942, tetapi eksponen-eksponennya masih tetap berkarya dan tumbuh menjadi pelukis-pelukis yang mengisi kehidupan seni lukis Indonesia modern.
Itulah Persagi yang memberontak tradisi lama yang ditanamkan oleh kolonial Belanda, dimana konsep estetis yang menurutkan selera turistis dihantam dengan konsep jiwa Nasionalisme kerakyatan. Dengan megibarkan panji-panji kerakyatan diharapkan corak seni lukis Indonesia baru akan muncul. Walaupun secara teknik karya dari pelukis Persagi masih mengadopsi dari Barat, yaitu teknik ekspresionisme dan impresionisme. Tetapi kandungan estetika dan konsep seni yang ada dalam karya seniman Persagi, mempunyai jiwa yang diharapkan membawa corak yang baru. Melalui penciptaan objek yang sesuai dengan realita diharapkan dapat memunculkan semangat dan jiwa Nasionalisme akan tumbuh pada tiap senimannya. Wacana paradigma seni lukis Indonesia Baru dari Persagi, akhirnya memberikan warisan yang laten yaitu perdebatan orientasi antara Timur dan Barat. Indentitas merupakan elemen yang menjadi wacana krusial dalam setiap periode perkembangan seni lukis modern Indonesia. Dengan itu Persagi telah membuktikan lewat paradigma dan karya yang membawa perubahan dalam seni lukis Indonesia modern.[]
///Diolah dari berbagai sumber.

Rabu, 26 Juni 2013

Atribut Ikatan Pengembang Bakat Seni (IPBS) Bumiayu.

Atribut Ikatan Pengembang Bakat Seni (IPBS) Bumiayu

1. Lambang IPBS.

Lambang Ikatan Pengembang Bakat Seni (IPBS)






2. Stempel IPBS

3. Kaos Seragam IPBS.


Artikel Penulis yang pernah dimuat jurnal "Dialektika STKIP Islam Bumiayu"

MENGEMBANGKAN KECERDASAN VISUAL  DALAM KEMAMPUAN MENGGAMBAR PADA ANAK DI SEKOLAH DASAR

Abstrak
Perkembangan dan pertumbuhan anak tentunya dipenagaruhi oleh banyak faktor. Anak memiliki kecerdasan yang ada sejak lahir, yang belum terpogram. Dan peran orang tua dan dunia pendidikan merupakan hal yang diperlukan dalam proses pemunculan dan pembentukan kecerdasan yang dimiliki anak. Karena setiap anak memiliki kecenderungan kecerdasan yang berbeda-beda. Dalam hal ini setiap anak mempunyai kecerdasan ganda, yang salah satuny dapat dimunculkan. Kecerdasan Visual adalah salah satu kecderdasan yang dimilki oleh anak-anak.
Kecerdasan Visual menjadi penting ketika anak didik memilikinya, dan tugas guru adalah memunculkan kecerdasan tersebut. Kecerdasan Visual merupakan kecerdasan yang lebih menekankan pada indera penglihatan. Dan anak yang mempunyai kecenderungan tersebut secara tidak langsung akan menyukai bentuk-bentuk yang bersifat visual atau seni menggambar. Di samping itu guru juga dituntut untuk memiliki kecakapan dalam hal seni visual dan seni-seni lainnya. Dan Sekolah Dasar (SD), merupakan lembaga pendidikan dasar yang dapat mencetak anak dalam hal minat dan bakatnya.
Kata Kunci : Mengembangkan Kecerdasan Visual Anak, Menggambar, Sekolah Dasar (SD)
A.     Pendahuluan.
1)      Latar Belakang.
Manusia lahir di dunia dibekali dengan akal dan pikiran, yang membedakan dengan mahluk lainnya. Selain dibekali akal dan pikiran, kita juga dikarunia indera untuk dapat menjalankan kehidupan di bumi. Keseimbangan antara indera dan akal akan menghasilkan suatu kepandaian atau kecerdasan dalam diri kita. Pendidikan adalah salah satu komponen penting dalam menciptakan dan membentuk kecerdasan kita. Kesadaran dalam memperoleh pendidikan perlu ditumbuhkan sedini mungkin, melalui lembaga-lembaga pendidikan. Pendidikan pada usia dini sangat diperlukan dalam menumbuhkan kecerdasan pada anak. Anak pada usia dini, diharapkan dapat memperoleh pendidikan sesuai dengan kapasitasnya.
Seorang anak sebelum mendapat pendidikan formal di sekolah-sekolah, sebenarnya anak itu sudah mendapatkan kecerdasan secara verbal dan visual. Dalam artian kecerdasan verbal atau visual itu belum terarahkan atau terprogram. Kita sering mendengar dan melihat, seorang anak menyanyi dan atau mencorat-coret di kertas. Sebenarnya itulah keceradasan yang fundamental dalam diri seorang anak, sebelum anak itu dapat menulis dan membaca. Selanjutnya peran lembaga pendidikan adalah memprogram atau menumbuhkan  kecerdasan tersebut. Seorang anak biasanya mempunyai kecenderungan kecerdasan yang berbeda-beda. Inilah yang harus diperhatikan oleh para orang tua dalam menumbuhkan minat dan bakat anak dalam mencapai kepandaian suatu bidang.
Seorang anak yang mempunyai kecenderungan verbal secara tidak sadar akan sering menyanyi, sedangkan seorang anak yang mempunyai kecenderungan visual akan senang mencorat-coret. Dalam kata lain kepandaian yang dimliki anak-anak ini adalah kepandaian yang masih murni belum ada sentuhan dari dunia luar, yaitu pendidikan. Anak yang mempunyai kecenderungan visual, secara tidak langsung akan suka mencorat-coret atau menggambar.Kebebasan dan kemurnian yang dimiliki anak-anak sangat dominan baik dalam coretan, bentuk obyek, warna dan komposisinya, sehingga sering dikatakan bahwa seni lukis anak-anak merupakan lukisan yang paling murni karena belum terpengaruh seperti orang dewasa.
Disini peran dunia pendidikan diperlukan dalam mengembangkan minat dan bakat anak dalam kecerdasan visual, disamping peran orang tua. Kecenderungan kecerdasan visual dalam diri anak, mungkin dirasa hanya kecerdasan nomor dua setelah kecerdasan verbal, kecerdasan lingustik, kecerdasan logika dan kecerdasan lainnya. Sebenarnya kecerdasan visual merupakan bagian penting juga, yang dimiliki oleh anak yang perlu dikembangkan. Dalam hal ini peran guru diperlukan dalam membangkitkan minat dan bakat anak yang mempunyai kecenderungan kecerdasan visual. Pendidikan Sekolah Dasar (SD) adalah pendidikan yang efektif dalam menumbuhkan dan mencetak anak yang mempunyai kecerdasan visual.
Pendidik dalam konteks ini adalah, seorang guru sekolah dasar dituntut untuk dapat menguasai ketrampilan, minimal menggambar. Menggambar dapat diajarkan  pada anak didik di Sekolah Dasar (SD), sebagai mata pelajaran muatan lokal (mulok) dilengkapi dengan ketrampilan. Disamping itu guru diharapkan peka dalam melihat anak yang mempunyai kecenderungan kecerdasan visual. Pembelajar visual lebih suka informasi yang dihadirkan secara visual, yakni dalam bentuk gambar, diagram, bagan, garis waktu, film, dan berbagai demonstrasi, dibandingkan dalam bentuk kata-kata tertulis atau yang dibicarakan.[1]
2)      Rumusan Masalah.
Dari latar belakang masalah di atas, maka dapat dirumuskan  masalah sebagai berikut : bagaimanakah mengenali dan mengembangkan kecerdasan visual dalam menggambar pada anak di sekolah dasar (SD)?
B.     Pembahasan.
1)      Memahami Kecerdasan Visual
              Manusia memang dianugrahi kecerdasan yang membedakan dengan    mahluk lainnya. Dalam istilah populer kita memeliki Intelligence Quotient(IQ), dan kecerdasan tersebut sebagai modal untuk kita menjalani kehidupan. Menurut Howard Gardner, Profesor Pendidikan Harvard, menyatakan bahwa IQ hanya sebagian dari kecerdasan manusia. Kecerdasan manusia jauh lebih besar dari sekedar IQ.[2] Jadi peran IQ itu didukung dengan beberapa kecerdasan lagi, tidak hanya IQ yang berperan dalam membentuk kecerdasan. Bentuk-bentuk kecerdasan yang dimiliki oleh manusia ini dikenal sebagai Multiple Intelligences.
              Masih menurut Howard Gardner, Multiple Intelligences itu antara lain, kecerdasan logis-matematis, Kecerdasan linguistik-verbal, kecerdasan visual-spatial, kecerdasan musical, kecerdasan kinesthetic, kecerdasan emosional (intrapersonal dan interpersonal), kecerdasan naturalist, kecerdasan instuisi, kecerdasan moral, kecerdasan eksistensial, kecerdasan spiritual dan lain-lain.[3] Jadi dari sebagian kecerdasan yang dimiliki oleh anak-anak, salah satunya adalah Kecerdasan Visual.

   Pengertian kecerdasan visual adalah adalah kecerdasan gambar dan visualisasi, Kecerdasan ini melibatkan kemampuan untuk memvisualisasikan gambar di dalam kepala seseorang atau mencitrakannya dalam bentuk dua atau tiga dimensi.http://duniaanakcerdas.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/wordpress/img/trans.gif[4]
   Dari pengertian di atas tersebut menjadi jelas, bahwa kecerdasn visual lebih menekankan pada bentuk gambar, atau dengan kata lain menggambar atau melukis. Dengan demikian kecerdasan visual yang dimiliki seorang anak perlu ditumbuhkan dalam mencapai kemampuan yang optimal. Dunia pandidikan Sekolah Dasar (SD), merupakan peletak dasar dalam menggali kecerdasan visual yang dimiliki oleh anak-anak. Guru mempunyai peranan penting dalam hal ini, maka dari itu seorang gruru diharapkan mengetahui ciri anak yang mempunyai kecerdasan visual.
Adapun ciri-ciri anak yang mempunyai kecerdasan visual antara lain :
  1.  Biasanya mereka  suka memperhatikan peta, chart gambar, video dan film.
  2. Mempunyai  kelebihan dalam hal baca tulis.
  3. Biasanya mempunyai kemampuan yang baik dalam bidang  menggambar/seni lukis.
  4. Mereka mengunakan penalaran dan logika berdasarkan gambar atau lambang dengan baik.
  5. Mereka berfikir  secara konseptual dalam kerangka pola-pola gambar atau simbol dan mampu membuat hubungan hubungan antara berbagai  ragam informasi yang didapat.[5]
Dengan demikian dalam langkah selanjutnya, guru menyiapkan dengan kompetensi yang dimilikinya, berupa ketrampilan dalam menggambar, membuat objek gambar, mewarnai, dan melukis. diharapkan nantinya anak didiknya memperoleh kecakapan, kreatifitas, dan ketrampilan pada bidang yang disukainya yaitu menggambar dan melukis. Karena kegiatan tersebut dapat mentimulus anak yang mempunyai kecerdasan visual. Lebih jauh Bobbi dePorter dan Mike Hernacki, meyarankan agar kecerdasan yang telah muncul dapat dirawat dengan baik, berikut beberapa persyaratan yang harus dipenuhi :
1.      Struktur saraf bagian bawah harus tetap berkembang agar energi dapat mengalir ke tingkat lebih tinggi
2.      Anak harus merasa aman secara fisik dan emosional
3.      Harus ada model untuk memberikan rangsangan yang wajar.[6]
Itulah beberapa hal yang harus diperhatikan untuk dapat menjaga dan mengembangkan kecerdasan pada anak.
2)      Peranan Guru Dalam Mengembangkan  Kecerdasan Visual pada Anak.
Profesi guru dalam dunia pendidikan merupakan hal yang utama dalam mendidik dan menciptakan anak didik yang berguna bagi maysrakat dan bangsa. Pendidikan seni dan budaya di Sekolah Dasar (SD), diharapkan menjadi mata pelajaran yang bukan hanya pelengkap saja, tetapi juga mempunyai andil dalam memunculkan kreativitas anak. Hendaknya pelajaran kesenian dapat dijadikan pelajaran yang menyenangkan dan mendukung pelajaran umum lainnya. Pelajaran kesenian, yang sesungguhnya merupakan sinonim dari penghalusan budi, perlu perjumpaan langsung, dengan melibatkan pancaindera. Karena memang begitulah rumus lama : tak ada segala sesuatu yang masuk dalam pikiran manusia tanpa lewat pancaindera. Nihil est intellectu, quod non prius fuerit in sensu, kata orang pintar dari jauh sana[7]
Kreatifitas pada anak didik dalam menumbuhkan Kecerdasan Visual perlu ditanamkan sedini mungkin, salah satunya melalalui pendidikan Sekolah Dasar (SD). Untuk dapat menumbuhkan dan mewujudkan Kecerdasan Visual, Guru harus dapat memahami dan melakukan hal-hal sebagai berikut :
a.       Sering diajak bepergian dan minta mereka untuk memperhatikan lokasi sebuah  tempat, letak toko, dll
b.      Minta mereka menceritakan bagaimana cara mencapai sebuah tempat (misalnya ke rumah nenek)
c.       Perbanyak kegiatan menggambar, mulai dari gambar dua dimensi lalu tingkakatkan ke tiga dimensi
d.      Perkenalkan dengan alat-alat bantu belajar berupa tiga dimensi, misalnya anatomi tubuh atau kerangka binatang
e.       Permainan semacam rubik juga dapat membantu meningkatkan kecerdasan  visual juga kecerdasan logika matematika
f.        Kegiatan mencari jejak kelompok selain meningkatkan visual, juga bisa meningkatkan beberapa kecerdasan lain seperti kecerdasan naturalis, kecerdasan logika matematika dan interpersonal
g.       Buku-buku yang cocok untuknya adalah jenis buku bergambar menarik apa saja berkaikan dnegan ilmu pengetahuan, daerah wisata, bangunan-bangunan bersejarah, tempat-tempat terkenal, tofografi, tubuh, peta dunia, dll.[8]
Guru digharapkan dapat melihat masing-masing kecenderungan yang dimilki oleh anak didiknya, karena tidak semua anak didik yang mempunyai kecenderungan dalam kecerdasan visual. Dalam hal ini guru harus mengetahui asas pendidikan, sebagaimana di kemukakan oleh bapak pendidikan kita Ki Hajar Dewantara,  yaitu ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso dan tut wuri handayani. Dalam tut wuri terkandung maksud membiarkan peserta didik menuruti bakat dan kodratnya sementara guru memperhatikannya. Dalam handayani berarti guru mempengaruhi peserta didik, dalam arti membimbing dan mengajarnya.[9]
Jadi dari dalam asas tut wuri handayani, sudah jelas tentang konsep pembelajaran yang efektif antara guru dan anak didik. Menuruti bakat dalam pengertian di atas adalah kecenderungan kecerdasan yang dimiliki oleh anak didik. Maka dari itu guru diharapkan dapat memunculkan salah satu kecerdasan yang dimiliki oleh anak didiknya. Dalam Sekolah Dasar (SD) pola pengajaran yang paling dasar untuk memunculkan kecerdasan visual, adalah dengan mengajarkan menggambar dan ketrampilan.
Dalam Handayani mengandung makna membimbing dan mengajar,lebih jauh menurut Drs. Slameto sebagai pembimbing dalam belajar, guru diharapkan mampu untuk :
a.       Mengenal dan memahami setiap siswa baik secara individual maupun kelompok.
b.      Memberikan penerangan kepada siswa mengenai hal-hal yang diperlukan dalam proses belajar.
c.       Memberikan kesempatan yang memadai agar setiap siswa dapat belajar sesuai dengan kemampuan pribadinya.
d.      Membantu setiap siswa dalam mengatasi masalah-masalah pribadi yang dihadapinya.
e.       Menilai keberhasilan setiap langkah kegiatan yang telah dilakukannya.[10]
Dengan demikian akan terjadi keseimbangan dan keharmonisan, dalam belajar mengajar antara guru dan murid. Dan pengajaran akan dapat diterima dan diserap oleh murid dengan baik.
3)      Pembelajaran Seni rupa di Sekolah Dasar (SD)
Pelajaran  Seni dan Budaya di negeri sendiri sangat minim, bahkan mungkin tidak ada. Keadaan seperti ini banyak di pengaruhi banyak faktor, salah satunya adalah situasi sosial-politik yang carut marut yang terjadi dalam pemerintahan. Menurut Agus Dermawan T, dan hancurnya ahlak itu, yang ternyata juga diikuti suntuknya generasi baru dalam dunia narkoba, dianggap telah terindikasi sejak kurikulum sekolah era Orde Baru kurang mengindahkan mata pelajaran kebudayaan atau kesenian. Sebuah mata pelajaran yang sesungguhnya menebarkan banyak fungsi : sebagai forum kreasi dan rekreasi, ventilasi psikologis, medium penghiburan, , pembangkit rasa percaya diri.[11]
Pelajaran  kesenian dalam konteks ini adalah mennggambar dan ketrampilan, merupakan bagian dari mata pelajaran pendukung atau muatan lokal. Hendaknya pelajaran menggambar dan ketrampilan dapat diajarkan di Sekolah-sekolah dasar, dan diharapkan siswa mempunyai kecakapan kreativitas, disamping kecakapan intelektual.
a)      Mengenal unsur-unsur dalam Gambar atau Lukisan.
Pelajaran menggambar di Sekolah Dasar (SD), hendaknya meliputi elemen-elemen seni rupa antara lain :
1)      Titik.
Titik merupakan unsur dasar pembentuk suatu garis, dan pengoperasian titik ini dapat dipraktikan dalam melukis. misalnya pengoperasian titik untuk membentuk suatu bidang atau objek. Denganh menggunakan media seperti pastel, pensil warna dan lainnya.
2)      Garis.
Garis adalah unsur kedua dalam sebuag lukisan atau lukisan. Bentuk garis dapat menarik apabila diolah semaksimal mungkin. Pengoperasian garis, sedangkan garis dapat menarik apabila bervariasi. Tebal tipisnya garis akan menghasilkan suatu gambar yang menarik dan artistik.
3)      Warna.
Warna adalah unsur ketiga dalam seni rupa, penggunaan warna untuk pendidikan dasar hendaknya menggunakan media yang aman dan mudah. Dalam konteks ini media yang tepat berupa pensil warna, crayon atau pastel. Dimana penggunaan media tersebut praktis dan mudah dalam penggunaannya.
4)      Bidang.
Bidang merupakan salah satu unsur penting dalam sebuah gambar atau lukisan. Dengan pendoperasian garis dan warna maka akan terbentuk suatu bidang. Bidang dalam seni rupa dibagi dua, yaitu bidang beraturan dan bidang tak beraturan. Komposisi bidang-bidang dapat dipraktikan disekolah dasar, selanjutnya dapat diwarnai.
b)      Menggambar objek lukisan atau gambar.
Objek dalam seni rupa adalah bentuk yang meliputi mahluk hidup dan benda mati. Objek yang termasuk dalam kategori mahluk hidup anatara lain manusia, hewan dan tumbuhan, sedangkan untuk benda mati dapat disebut dengan isatilah alam benda. Menggambar objek di lingkungan Sekolah Dasar (SD), hendaknya mencakup kedua kategori tersebut. penggambaran objek-objek yang digambar oleh anak-anak tersebut tidak dituntut untuk realistik, cukup dengan penekanan pada bentuk objeknya saja.
Hal yang perlu kita perhatikan bersama, kreatifitas pada anak tidak diukur dari bagaimana ia menggambarkan sesuatu dengan bagus dan sempurna. Hal ini dikarenakan pada dasarnya kesempurnaan bentuk pada gambar merupakan hasil dari proses perkembangan motorik halus si anak, tidak ada hubungannya dengan kreatifitas itu sendiri. Anak dikatakan kreatif apabila ia bisa dengan lancar menuangkan ide, pikiran bahkan terkadang emosinya sendiri dan menceritakannya dalam bentuk gambar.
Selanjutnya bentuk objek yang telah digambar, dapat diwarnai dengan menggunakan warna-warna sesuai dengan keiinginan si anak. Tetapi disisi lain guru juga harus tetap mengawasinya, dalam arti diharapkan proses pewarnaan dilakukan dengan baik.
c)      Wisata Seni.
Pembelajaran alternatif dapat dilakukan oleh guru Sekolah Dasar (SD), salah satunya  adalah dengan wisata seni. Wisata seni sebagai media pembelajaran yang mungkin dirasa cukup menyita waktu dan tenaga, dengan adanya wisata seni diharapkan dapat menjadi stimulus kecerdasan visual pada anak. Maka ditengah krisis pendidikan seni di bangku sekolah lantaran tiadanya guru menyanyi, menggambar, menari, teater dan prakarya yang mumpuni (terampil dan menguasai teori), cara “kunjungan seni” apik bila jadi alternatif. Karena kunjungan itu mempertemukan indera dengan realitas seni yang ada.[12]
Kunjungan dapat dilakukan dengan mendatangi tempat-tempat yang berbasis seni, seperti museum, sanggar seni, pameran seni, home industri kerajinan, dan galeri seni. Sang Guru dalam proyek ini hanya bertindak sebagai mediator, Cuma memberi pengarahan proses pengenalan seni, bukan memberi pelajaran seni.[13] Dengan berwisata sekaligus diharapkan menjadi suatau pelajaran yang menarik bagi siswa. Diharapkan dengan dilaksanakannya pembelajaran alternatif, yaitu wisata seni siswa akan mendapatkan pemahaman baru dalam menstimulus kecerdasan visual.
Dengan diadakannya wisata seni diharapkan para siswa akan, mnedapatkan pengalaman dan pemahaman baru seperti berikut :
1.      Mengenal benda seni secara lngsung.
2.      Mengetahui proses pembuatan benda-benda seni.
3.      Mengetahui jenis-jenis karya seni.
4.      Memotivasi siswa dalam membuat karya seni.
Pelajaran kesenian khususnya seni rupa, akan menjadi mengasikan dengan adanya wisata seni yang dilakukan oleh sekolah-sekolah. Menurut Agus Dermawan T, dan jangan lupa, pelajaran kunjungan seni sini bisa dilakukan oleh sekolah dimana saja. Karena kesenian tumbuh memmikat sampai desa-desa. Apalagi ketika diketahui bahwa ketinggian olah budaya di Indonesia jauh telah mengkristal di segala pelosok.[14]
C.     Penutup.
Pelajaran kesenian dan ketrampilan perlu dikembangkan di Sekolah Dasar (SD). Dalam hal ini peran Sekolah Dasar (SD) merupakan peletak dasar dalam dunia pendidikan, sebagai lanjutan untuk siswa melanjutkan pada jenjang pendidikan selanjutnya. Disamping itu, Sekolah Dasar (SD) dapat memunculkan kecerdasan yang dimilki oleh tiap murid. Karena kecenderungan kecerdasan yang dimiliki anak didik tidaklah sama. Kecerdasan visual merupakan salah satu dari kecerdasan ganda (multiple Intelegence), yang dimiliki oleh anak dididk. Dan diharapkan peranan guru dalam memunculkan kecerdasan visual, diimbangi pula dengan kecakapan guru dalam ide, kreatifitas dan ketrampilan guru dalam mengolah dan menciptakan karya visual (visual art).
Dalam praktek pembelajarannya pelajaran kesenaian di Sekolah Dasar (SD), diharapkan menjadi pelajaran yang wajib dilaksanakan di tiap-tiap sekolah. Akan menjadi ironis, ketika kesenian mengalami kemandekan di sekolah, sedangkan negara kita adalah negara yang kaya akan seni dan budaya adiluhung. Kebijakan pemerintah dalam menyusun kurikulum penididikan diharapkan dapat seimbang. Dalam arti pendidikan kesenian juga merupakan salah satu yang penting dan perlu di ajarkan di Sekolah Dasar (SD). Dengan adanya kesenian maka diharapkan anak didik akan mempunyai kecakapan intelektual dan kecakapan kreativitas.

DAFTAR PUSTAKA
Agus Nggermanto. 2003. Quantum Quotient, Kecerdasan Quahtum. Bandung :Nuansa.
Agus Dermawan T. 2004.  Bukit-Bukit Perhatian, Dari Seniman Politik, Lukisan Palsu sampai Kosmologi Seni Bung karno. Jakarta : Gramedia.
Bobbi DePorter dan Mike Hernacki. 2011. Quantum Leraning. Bandung: Kaifa.
Dina Indriana. 2011. Mengenal Ragam Pembelajaran Efektif. Yogyakarta: Diva Press.
Masterdac, KecerdasanVisualSpatial.(http://www.duniaanakcerdas.com/kecerdasan-visual-spasial.html.), diakses tanggal 11 April 2012.

Slameto. 2010.  Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta : Rineka Cipta.

Soetjipto dan Rafis Kosasi. 2009. Profesi Keguruan. Jakarta:Rineka Cipta.

                                              

 Footnote


[1] Dina Indriana, mengenal ragam pembelajaran efektif, (Yogyakarta, Diva Press, 2011), hlm. 8
[2] Ir. Agus Nggermanto, Quantum Quotient, Kecerdasan Quahtum, (Bandung :Nuansa, 2003),hlm.49
[3] Ibid.hlm.49
[4] www.duniaanakcerdas.com
[5] www.infogue.com
[6] Bobbi DePorter dan Mike Hernacki, Quantum Leraning, (Bandung: Kaifa,2011), hlm.30.
[7] Agus Dermawan T, Bukit-Bukit Perhatian, Dari Seniman Politik, Lukisan Palsu sampai Kosmologi Seni Bung karno, (Jakarta : Gramedia, 2004), hlm. 188.
[8] www.duniaanakcerdas.com
[9] Prof.Soetjipto, Drs.Rafis Kosasi, M.Sc., Profesi Keguruan,(Jakarta:Rineka Cipta, 2009),hlm.50.
[10] Drs. Slameto, Belajar dan faktor-faktor yang mempengaruhinya, (Jakarta : Rineka Cipta, 2010), hlm.100.
[11] Agus Darmawan T, Bukit-Bukit........, hlm. 185.
[12] Agus Darmawan T, Bukit-Bukit........, hlm. 188.

[13] Agus Darmawan T, Bukit-Bukit........, hlm. 189.

[14] Agus Darmawan T, Bukit-Bukit........, hlm. 189.