Sabtu, 01 Juni 2013

Tradisi Wagean di Bumiayu



 
Tradisi Wagean di Bumiayu
 
Masyarakat Bumiayu tentunya sudah tidak asing lagi dengan istilah “Wagean”, ya sebuah aktifitas jual beli masyarakat Bumiayu yang mengacu pada penanggalan  Jawa atau kalender Jawa. Sebagaimana kita tahu bahwa kalender Jawa merupakan perpaduan antara budaya Islam dan budaya Hindu-Budha. Dan dalam sistem kalender Jawa, siklus hari yang di pakai ada dua yaitu siklus mingguan yang terdiri dari 7 hari dan siklus pekan Pancawara yang terdiri dari 5 hari pasaran. Sistem yang di pakai untuk hari pasaran adalah menggunakan siklus pekan Pancawara yang terdiri dari hari-hari seperti Legi, Pahing, pon, Wage dan Kliwon. Jadi Pasar Wage sebuah aktifitas pasar yang berdasarkan penanggalan Jawa, di mana masyarakat Bumiayu dan sekitarnya yang memperjualbelikan barang-barang dagangan. Sebenarnya konsep dari wagean sendiri pada awalnya adalah sebuah wadah untuk memperjualbelikan hewan ternak seperti sapi, kerbau, dan kambing. Secara historis memang mengacu pada penanggalan Jawa, dimana penanggalan Jawa selalu mempertimbangkan pada hari baik atau keberuntungan melalui Primbon.
 Tradisi masyarakat Jawa selalu berpegang pada aturan atau panduan yaitu berupa Primbon. Di mana pengertian Primbon menurut Franz Magnis Suseno, adalah buku-buku di mana dicatat saat-saat, tempat-tempat dan syarat-syarat lain yang tepat untuk segala macam usaha. Jadi dalam segala sesuatunya masyarakat Jawa selalu memepertimbangkan keseimbangan dalam kehidupan. Hal itu mencakup keseimbangan dengan alam, dunia lain dan kekuatan kosmis. Oleh karena itu manusia (masyarakat Jawa) tidak boleh bertindak gegabah seakan-akan masalahnya terbatas pada dimensi sosial dan ilmiah. Termasuk dalam pemilihan tempat jual beli, pemilihan hari, pemberian nama, pekerjaan dan lainnya masyarakat Jawa mempertimbangkan kesatuan dan keserasian.
Dalam hal pemilihan tempat misalnya menjadi penting dengan alasan keselamatan. Menurut Franz Magnis Susuno, bahwa dalam rangka pandangan Dunia Jawa, manusia tentu berkepentingan agar setiap orang menempati tempatnya yang tepat. Di tingkat masyarakat, tanda yang paling jelas bahwa setiap pihak berada pada tempat kosmisnya yang tepat adalah keselarasan sosial. Dari semua pertimbangan di atas maka tidak salah pemilihan tempat jual beli seperti pasar, memerhatikan aturan yang ada seperti yang di anut masyarakat Jawa. Kenapa hari pasaran Wage berada di Bumiayu, tentunya berdasarkan pertimbangan Primbon dan kalender Jawa serta menurut pendapat para sesepuh.
Aktifitias perdagangan yang berada di ruas jalan utama Bumiayu-Salem, secara historis pada awalnya adalah pasar tempat penjualan hewan ternak dan dinamakan Pasar Hewan. Karena pasar tersebut jatuh pada hari pasaran Wage, maka masyarakat Bumiayu menyebutnya dengan sebutan Pasar Wage. Dan aktifitas warga yang datang  melakukan transaksi jual beli dan interaksi sosial di pasar wage disebut dengan istilah “Wagean”. Hewan ternak yang di perjualbelikan di Pasar Wage antara lain seperti sapi, kerbau, kambing, kelinci,  jenis burung dan ikan. Pasar Hewan dalam perkembangan selanjutnya, mulai di padati pedagang-pedagang yang berjualan alat pertanian, perkebunan, perikanan, dan kebutuhan lainnya. Di mana komoditi dalam pertanian dan peternakan di dukung oleh alat dan juga kelengkapan lainnya. Maka dari itu tidak heran jika dalam perkembangannya Pasar Wage terdapat pedagang yang mensuplai kelengkapan alat pertanian dan peternakan.
Pedagang alat pertanian yang menjual barang dagangannya di sepanjang Pasar Wage.
Tetapi dengan adanya pedagang yang memperjualbelikan barang-barang kebutuhan pertanian sampai dengan pakaian, tidak membuat transaksi jual beli ternak kehilangan identitasnya. Pasar Wage tetap menjadi ajang jual beli ternak di wilayah Bumiayu dan sekitarnya. Dengan adanya pedagang yang memperjualbelikan barang-barang kebutuhan rumah tangga dan perlengkapan lain, Pasar Wage semakin ramai di padati oleh pembeli dari berbagai daerah. Warga masyarakat Bumiayu Wagean untuk mencari dan membeli barang-barang dengan harga yang bersaing dan murah. Di pasar Wage memang memperjualbelikan barang dengan harga yang murah, tetapi dengan kwalitas yang tidak berbeda jauh dengan yang ada di toko-toko.
Di Pasar Wage dapat ditemui barang-barang yang tidak ada di toko-toko dan tentunya harga juga lebih murah. Barang-barang seperti fashion, elektronik, barang antik, obat-obatan alternatif, buku-buku, onderdil motor, pernak-pernik asesoris, sampai dengan kuliner semua ada di Pasar Wage. Semua barang-barang tersebut ada dalam kondisi baru dan juga ada yang second, dan tentunya harga juga berbeda dengan yang ada di toko. Di samping itu di Pasar Wage kadang di temui para pedagang yang menjual hewan dari mulai kelinci, ikan, ular, kura-kura, tokek, iguana, burung hantu, monyet, landak dan hewan-hewan eksotik lain, yang tidak lazim dipelihara tersedia di Pasar Wage Bumiayu. Itulah yang membuat daya tarik dari Pasar Wage di Bumiayu selain sebagai ajang jual beli, pasar tersebut sebagai wahana hiburan warga Bumiayu dan sekitarnya.
Dengan adanya para pedagang tersebut membuat daya tarik Pasar Wage, sehingga pasar tersebut selalu ramai dipadati oleh para pembeli dari berbagai wilayah di Brebes Selatan. Dan keramaian pada hari wage tersebut membuat lalu lintas di kota Bumiayu macet selama ada aktifitas Pasar Wage. Dimana kita semua juga tahu, kota Bumiayu pada hari-hari biasa juga selalu macet karena aktifitas pasar dan juga parkir yang semrawut. Apalagi kalau bertepatan dengan adanya Pasar Wage, lalu lintas di Bumiayu dari ruas jalan utama sampai jalan-jalan kecil macet dan tersendat. Jika hari pasaran Wage bertepatan dengan hari minggu atau hari libur Nasional, Pasar Wage semakin ramai dan lalu lintas semakin macet.
Terlebih lagi jika mendekati hari raya Idul Fitri atau Idul Adha, Pasar Wage semakin ramai dan dipadati pengunjung. Hal ini dikarenakan para perantau yang pulang kampung belanja kebutuhan untuk keperluan lebaran di Pasar Wage. Sehingga warga Bumiayu yang dari rantau tumplek jadi satu, ditambah lagi dengan warga dari sekitar Bumiayu seperti Paguyangan, Tonjong, Bantarkawung dan Salem. Di sisi lain masyarakat Bumiayu juga mengenal tradisi “Prepegan”, adalah waktu dalam hitungan hari yang menandakan akan berakhirnya bulan Ramadhan dan menyambut datangnya Hari Raya. Dengan adanya Prepegan warga Bumiayu mengungkapkan dalam wujud rasa syukur dan kegembiraan menyambut Hari Raya. Sehingga warga mempersipakan segala kebutuhannya menjelang hari raya, sasaran untuk membeli kebutuhan tersebut salah satunya adalah di Pasar Wage. Baik dalam perayaan hari raya Idul Fitri atau Idul Adha, warga  Bumiayu selalu memadati Pasar wage dan melakukan aktifitas wagean.
Aktifitas jual beli di Pasar Wage dan interaksi sosial di pasar tersebut, apabila dicermati merupakan bentuk budaya yang telah tarkait dengan masyarakat dan terbentuk melalui relasi sosial. Di dalam Pasar Wage terbentuk relasi perdagangan melalui kesadaran kolektif secara ekonomi, sosial dan budaya sekaligus. Bedanya dibanding pasar-pasar lain, di pasar Wage ini iklim perdagangan yang terbentuk masih bersifat tradisional. Bentukan dari tindakan-tindakan terdahulu (tradisi) yang terproses panjang oleh perjalanan waktu. Jadi pada intinya memang tradisi “Wagean” bertumpu pada tradisi Jawa baik dalam penanggalan maupun dalam interaksi jual belinya. Bentuk budaya yang dimaksud adalah berlangsung aktivitas jual-beli yang kaya nilai-nilai lokal. Seperti keramahan masyarakat dalam bertegur sapa dan ramainya suasana tawar-menawar untuk mencapai kesepakatan harga. Sehingga yang terjadi adanya interaksi sesama warga Bumiayu dan sekitarnya yang lebih hidup ketika berada di dalamnya.
Dalam budaya Jawa memang selau mengedepankan nilai-nilai luhur yang berkaitan dengan keramahan dan kebersamaan antar sesama. Filsafat masyarakat Jawa mengajarkan orang dalam pergaulan masyarakat bersikap ramah tamah, menghargai sesama manusia. Lebih spesifik Franz Magnis Suseno menjelaskan, bahwa masyarakat Jawa mengatur interaksi-interasksinya melalui dua prinsip, prinsip kerukunan dan hormat. Sehingga warga Bumiayu melangsungkan segala aktifitasnya berpegang pada nilai-nilai kearifan lokal tersebut. Tak terkecuali dalam aktifitas jual beli di Pasar Wage, sehingga yang terjadi adalah terjalinnya pertemanan dan persaudaraan. Itulah istimewanya sebuah wagean disamping sebagai transaksi jual beli, juga sebagai ajang untuk silaturahmi dan persaudaraan. Dengan pergi ke wagean kita dapat dipertemukan dengan saudara, teman lama atau bahkan menambah teman melalui transaksi jual beli.
Aktifitas jual beli hewan ternak di Pasar Wage Bumiayu.
Itulah kelebihan dari tradisi wagean di Bumiayu, sehingga setiap hari pasaran wage senantiasa ramai dikunjungi oleh warga Brebes Selatan. Tradisi wagean juga melebur status sosial yang ada di masyarakat, yaitu bertemunya orang kaya dan orang kecil (wong cilik). Di mana kita tahu dalam tradisi Jawa terdapat dua status sosial yaitu Wong Cilik dan Kaum Priyayi. Wagean telah menjadi bagian dari Budaya yang ada di wilayah Bumiayu, dan senantiasa ramai di kunjungi dan dipadati oleh warga. Wagean telah menjadi aktifitas warga Bumiayu dan sekitarnya, yang berdasarkan nilai-nilai luhur budaya Jawa. Maka dari itu Dengan tingginya animo warga masyarakat Bumiayu yang mengunjungi Pasar Wage, seharusnya perlu di imbangi dengan pembenahan sarana dan prasarana yang lebih menunjang dan lebih baik lagi. Pembenahan jalan raya, peraturan pedagang, retribusi parkir, dan sarana pasar yang ideal, merupakan beberapa upaya dalam melestarikan tradisi wagean di Bumiayu.
Pembenahan sistem yang baik dan teratur diharapkan dapat membuat pasar wage tetap bertahan tanpa meninggalkan tradisi lokal yang ada di wagean. Di sisi lain dengan adanya era globalisasi dan era teknologi, yang tak dapat dibendung  tidak membuat tradisi wagean di Bumiayu itu hilang. Maka dari itu pemerintah harus bersikap bijak dalam menyikapinya, dan tetap berpihak pada budaya kearifan lokal. Dengan menjamurnya budaya pasar modern seperti supermarket, minimarket, dan mall, pemerintah setempat harus tetap mempertimbangkan kearifan budaya lokal yang berpihak pada kerakyatan. Tradisi wagean yang ada di tengah kota Bumiayu tanpa harus kehilangan identitasnya sebagai salah satu simbol ekonomi dan budaya kerakyatan. Semakin banyak perhatian pemerintah dapat mewujudkan keberpihakan kepada rakyat dalam kebijakan pembangunan, maka pembangunan kota akan semakin mendapat tempat di hati masyarakat. Kita sebagai bagian dari masyarakat Jawa, ikut berperan serta dalam melestarikan kearifan budaya lokal. Maka dari itu sebagai warga masyarakat Bumiayu, mari kita lestarikan budaya “wagean” dengan mengunjungi pasar wage dengan sikap yang rukun dan ramah tamah. Dengan semua itu diharapkan tradisi “wagean” yang sudah ada sejak dulu dapat tetap lestari ditengah era globaliasasi.

Salam Budaya!!

Minggu, 26 Mei 2013

Pesan Moral dalam Musik




Pesan Moral Dalam Musik

“lagu-lagu sekarang diciptakan untuk kepentingan komersial
belaka dan kebanyakan mengabaikan pesan moralnya.
Lagu-lagu sekarang jarang mengandung pesan moral atau spiritual.
Musiknya juga lebih diarahkan untuk kepentingan irama tari-menari
 yang bersifat entertainment sesaat, karena itu tidak bertahan lama.”
(Yahya A. Muhaimin)

Kutipan di atas bukan dari seorang pengamat musik, tetapi dari tokoh pendidikan Nasional kelahiran Bumiayu, Bpk. Yahya A. Muhaimin. Yahya. A Muhaimin prihatin dengan kondisi musik Pop Indonesia, yang menurut Beliau hanya untuk kepentingan komersil dan mengabaikan pesan moral. Kutipan di atas penulis ambil dari buku biografinya, dimana beliau senang dengan seni diantaranya adalah musik. Hal ini relevan dengan pokok bahasan yang akan di bahas di sini, yaitu tentang kondisi musik pop di Indonesia sekarang. Kondisi musik populer di Indonesia memang dirasa hanya mementingkan profit, sehingga yang terjadi adalah laju kapitalisme global akan terus berjalan.
Menciptakan sebuah karya seni bukan semata untuk kepentingan nominal, harus ada nilai-nilai yang ditanamkan dalam sebuah karya seni. Seorang seniman setidaknya adalah sang pencipta karya seni, juga produsen makna dalam sebuah karya seni. Ada makna yang akan disampaikan dalam sebuah karya seni, karya seni tidak hanya menonjolkan atau mengutamakan estetika dan artistik, tetapi lebih dari itu. Ketika kreator menciptakan karya seni, tentunya ada konsep atau makna yang akan disampaikan ke pada audiens.  Dalam konteks ini adalah musisi yang menjadi pencipta tanda(creator of sign), terdapat muatan dalam sebuah lagu atau syairnya.
Musisi menciptakan kompisisi musik tidak hanya untuk nyaman di dengar, tetapi ada pesan yang akan disampaikan.  Dalam konteks ini mengacu ke teori semiotikanya Rolland Barthes, dimana setiap makna mempunyai dua arti yaitu makna denotasi dan konotasi. Makna denotasi yaitu makna yang tersurat (low context) dan makna konotasi adalah makna tersirat (high context). Pesan dalam sebuah karya seni tersebut sebagai senjata dari sang seniman. Dalam hal ini adalah musisi sebagai agen perubahan dengan komposisi musik yang diramunya. Musik tidak hanya sebuah lagu yang enak di dengar, terdapat sebuah makna tersirat (high context). Pesan yang disampaikan dapat berupa kritik sosial, moral, budaya, cinta, humanisme atau yang lainnya.
Musik Pop Indonesia sekarang dirasa telah mengabaikan pesan-pesan tersebut, musik pop telah larut dalam laju komersialisasi dan pencapaian nilai profit. Seorang seniman seharusnya adalah sebagai agen perubahan, melalui karya seninya. Musisi dengan musiknya membawa misi-misi, yang diharapkan dapat memberikan perubahan pada penikmatnya juga lingkup lebih luas. Pesan moral atau spiritual dapat dikonsep dalam sebuah musik pop. Dengan adanya pesan tersebut dalam sebuah musik, diharapkan makna akan lebih dapat diterima pendengar. Kondisi musik Pop Indonesia sekarang dirasa hanya mengumbar cerita cinta dua individu. Kebanyakan tema cinta yang ditampilkan melulu dengan nuansa cengeng, galau, patah hati, kegagalan, gundah gulana dll.
Itulah tema cinta yang mendominasi lagu-lagu Pop Indonesia, jarang sekali terkandung pesan moral atau spiritual dalam lagu-lagu. Dimana cinta itu tidak hanya melulu hubungan antara dua individu. Cinta itu bersifat universal, cinta antar sesama manusia, cinta dengan Tuhan, cinta dengan alam, cinta dengan sesama mahluk dll.  Kecenderungan tema cinta yang dangkal tersebut, mengakibatkan pendengar larut dalam kondisi memabukan akibat  cinta. Disisi lain musik pop Indonesia atau style musik cenderung plagiat tidak mencirikan ke-Indonesia-an. Dapat disaksikan melalui layar kaca hampir setiap waktu, boys band dan girls band tampil dengan style ala Korea atau Amerika. Sungguh kondisi yang memprihatinkan, mereka (musisi indonesia) bangga dengan tampilan plagiat  musisi mancanegara.
Sungguh keadaan Ironis yang dimana kita tahu, Indonesia adalah negara yang kaya akan budaya. Tetapi para musisi dengan bangga memoles karya seni hingga style mereka serupa dengan budaya negara lain. Krisis budaya menjangkiti kondisi musik pop Indonesia, sehingga pesan moral juga hilang dalam sebuah musik. Jarang sekali musisi sekarang yang membawa pesan moral dalam musiknya. Tidak seperti dulu, kita tengok ke belakang musisi seperti Iwan Fals, Rhoma Irama, Gombloh, Ebiet G. Ade, Franky Sahilatua, Leo Kristi, Uly Sigar dll.  Mereka adalah contoh musisi yang mengusung pesan moral, sosial, spiritual dalam lagu-lagunya, musik mereka sebagai senjata untuk mendobrak ketidakadilan.
Disadari atau tidak nama-nama di atas justru lebih abadi begitu juga lagu-lagunya. Karya mereka akan selalu dikenang sepanjang masa, karena nilai-nilai yang dikandung dalam lagunya tidak hanya untuk kepentingan komersil tetapi lebih dari itu ada misi kemanusiaan. Kondisi musik pop Indonesia sekarang jarang sekali di temui musisi atau group band, yang tampil atau mengusung ke-Indonesiaan nya. Yang terjadi dalam kondisi musik pop sekarang, hanya kenikmatan dan kesementaraan dalam proses apresiasi terhadap musik tersebut. Tidak ada makna yang dalam sebuah musik pop, tetapi memang seperti itulah kondisi musik pop yang serba dangkal. Dan di sisi lain hanya untuk mengejar kepentingan komersial dan pencapaian sebuah ekstase dalam menikmati sebuah karya seni.
Nilai-nilai moral dan humanisme telah diabaikan dalam sebuah karya seni pop. Maka yang terjadi adalah tidak bertahan lamanya musik pop tersebut dalam proses apresiasi. Penikmat akan cepat mengalami kejenuhan dan bosan dalam menikmati musik pop, dan musik pop hanya akan bertahan dalam beberpa waktu saja. Hal ini dipengaruhi oleh banyak faktor diantaranya adalah, karena musisi kebanyakan instan dalam mencipta lagu dan tidak ada kedalaman dalam sebuah lagu tersebut. Ketika proses mencipta seperti itu terjadi maka dalam menikmati musik tersebut juga akan  instan dan mengalami kedangkalan dalam mengapresiasinya.
Karena dalam musik tersebut hanya mengumbar cerita-cerita percintaan yang cengeng dan kegalauan anak muda dalam percintaan. Kondisi semacam itulah yang mendominasi dalam mencipta sebuah karya seni dan tak terkecuali dalam musik pop. Sehingga mengakibatkan gejala psikologis yang lesu dan serba lemah terhadap audiens yang menikmatinya. Ketika audiens mendengarkan musik pop, secara tidak lagsung pesan cinta yang cengeng tersebut membawa imbas dalam keseharian audiens, dalam hal ini adalah masyarakat. Kondisi semacam itu membuat kelesuan, kelemahan, cengeng, serba kekurangan dalam menjalani hidup.
Zeitgeist semacam itulah yang tengah menjangkiti bangsa Indonesia, akibat dari musik pop yang minim pesan moral melemahkan spririt generasi muda. Generasi muda yang seharusnya sebagai agen yang mengobarkan semangat perubahan dan ketidakadilan di negeri ini. Ternyata larut dalam buaian musik pop dengan balutan cinta yang cengeng dan mematikan semangat. Seharusnya musisi dengan musik yang di usungnya, diharapkan dapat mengobarkan semangat kaum muda dengan nilai-nilai moral dan humanismenya. Maka dari itu nilai dalam sebuah karya seni memang diperlukan, musik atau karya seni lainnya tidak hanya mengejar kepentingan kapital belaka. Nilai moralitas harus diselipkan dalam sebuah karya seni, dengan adanya nilai tersebut diharapkan zeitgeist yang penuh semangat dapat ditemukan kembali. Sebagaimana yang dikatakan filsuf besar Jerman, bahwa moralitas adalah kelanjutan agama, namun melalui cara lain, pengetahuan adalah kelanjutan moralitas dan agama, namun juga melalui cara lain. []

Salam Budaya!!

Minggu, 05 Mei 2013

Boemiajoe Tempoe Doeloe

Boemiajoe Tempoe Doeloe

Pembangunan Jemabatan Sakalimalas Sekitar tahu......

Petingggi Belanda Berpose di Kali Keruh saat pembangunan Sakalimalas.


Tentara Belanda saat berjaga di Jembatan Kalikeruh (pasar kakilima sekarang)

Tentara Belanda sedang siaga, tempat masih belum jelas Bumiayu sebelah mana??

Kali Keruh Tempo Dulu.

Kali Keruh Tempo Dulu.

Kali Keruh Tempo Dulu.


Senuah Foto yang di Indikasikan di Stasiun Talok, Bumiayu tempo dulu.




Foto-foto merupakan koleksi dari Tropen Museum, Belanda.

Minggu, 28 April 2013

Sejarah dan Perkembangan Pensil

Sejarah dan Perkembangan Pensil



Pensil, benda yang satu ini jelas sudah tidak asing lagi dalam kehidupan kita. Benda yang panjang, bulat, atau segi enam dan ditengahnya terdapat elemen hitam yang dapat meninggalkan goresan hitam ketika di gores di atas kertas. Ya, itulah pensil yang sudah kita ketahui keberadaannya dan tentunya sudah tidak asing lagi di kehidupan kita sehari-hari. Kata pensil sendiri berasal dari bahasa Latin penicillus, yang artinya ekor kecil karena bentuknya memang seperti kuas kecil. Penggunaan pensil sebagai alat tulis, dan juga untuk membuat karya seni memang praktis dalam pengaplikasiannya. Benda yang praktis, kecil, mudah disimpan, dan digunakan tentunya mempunyai sejarah yang tidak tiba-tiba. Semuanya melalui tahapan demi tahapan. Tentunya kita harus tahu sejarah ditemukanya pensil dan perkembangan dari alat tulis yang sederhana tersebut. Berikut penulis akan mencoba merangkum tentang sejarah pensil dari literatur yang ada, dan semoga bermanfaat bagi kita semua.

Latar belakang sejarah.
Sejarah ditemukannya pensil kira-kira dapat telusuri sejak jaman Renaisance, tepatnya pada abad ke 15 dimana humanisme, ilmu pengetahuan dan seni modern sedang mulai berkembang di Eropa. Pada periode Renaisance pensil masih dalam bentuknya yang belum sempurna seperti sekarang. Pada zaman tersebut seniman Renaisance sudah mempergunakan batangan perak yang dibentuk seperti potlot untuk menggambar dan membuat sketsa. Bentuk awal pensil yang berupa batangan perak tersebut dikenal dengan nama zilverstift atau silverpoint. Secara teknis bentuk dari silverpoint masih agak tajam sehingga dapat merusak permukaan kertas. Maka dari itu penggunaannya pada waktu dengan cara menggosok ujungnya dengan amplas halus. Dan biasanya untuk mendapatkan warna keabu-abuan yang bagus, maka landasan yang dipakai berupa kertas dan papan yang dilapisi dengan pigmen putih.

silverpoint, pensil generasi pertama
Pada zaman Renaisance pensil generasi pertama tersebut sudah banyak digunakan oleh para seniman pada waktu itu. Seniman seperti Leonardo da Vinci, Albercht Durer, dan Rembrant Van Rijn dll. Selanjutnya bentuk pensil mengalami perkembangan dalam bentuk dan bahan baku dan kemasannya. Setelah periode Renaisans dengan pensil peraknya, selanjutnya pensil menggunakan bahan baku dari timah hitam. Pada waktu itu penggunaan timah hitam(lead/lood), dimasukan ke dalam selongsong (pot) seperti kulit domba atau potongan kecil berbentuk tongkat dibebat dengan tali. Pembungkusan timah hitam tersebut dikarenakan sifat dari timah yang teksrurnya mengandung minyak.Tidak seorang pun tahu siapa yang mula-mula mempunyai ide untuk memasukkan timah hitam ke dalam wadah kayu. Karena itu istilah lead pencil (pensil timah) atau pot lead/lood  masih digunakan sampai sekarang. Dari penggabungan kata pot dan lead, maka lahirlah istilah potlod atau potlot digunakan untuk menyebut jenis pensil ini yang berbahan timah hitam.
 Pada tahun 1504 di Borrowdale/Cumberland Inggris, perkembangan selanjutnya para seniman sudah memikirkan untuk mengolah dan menggunakan bahan mineral grafit sebagai bahan untuk melukis. Pemikiran dari para seniman tersebut, baru mulai di buat menjadi bentuk pensil yang berbahan baku dari grafit pada tahun 1662. Walaupun bahan grafit sudah dikenal pada tahun 1400-an. Kemudian bahan grafit tersebut digunakan menjadi bahan baku pensil, menggantikan timah hitam dalam selongsong kayu (pot). Namum penamaan “potlood”, sudah terlanjur untuk menyebut jenis pensil dari grafit, yang sebenarnya adalah sebutan untuk jenis pensil berbahan timah. Untuk mengklarifikasi penyebutan pada jenis pensil timah hitam yang dikenal dengan nama potlood, maka pada tahun 1789, ahli Geologi Jerman, Abraham G. Werner memberikan nama grafit, yang berasal dari perkataan Yunani graphein, yang berarti menulis. Jadi, isi pensil bukan timah melainkan bahan mineral grafit, yang kita kenal dengan pensil dengan bentuknya yang sekarang ini (modern).
Perkembangan pensil grafit selama bertahun-tahun, akhirnya Inggris memonopoli industri pembuatan pensil. Karena bahan grafit cukup murni untuk digunakan tanpa perlu diproses lagi. Tetapi di Prancis, seorang insinyur melakukan eksperimen dalam pengolahan bahan baku pensil tersebut. Hal ini dikarenakan  grafit Eropa kurang bermutu, maka pabrik-pabrik pensil di sana bereksperimen dengan berbagai cara untuk memperbaiki isi pensil. Insinyur Prancis tersebut adalah Nicolas-Jacques Conté. Conte mencampur bubuk grafit dengan tanah liat, membentuk campuran itu menjadi batang-batang, dan membakarnya dalam perapian. Dengan mengubah-ubah perbandingan grafit terhadap tanah liat, ia bisa membuat isi pensil yang menghasilkan berbagai gradasi warna hitam, proses yang digunakan sampai sekarang. Penemuan Nicholas Jaques Conte tersebut dikenal dengan sebutan “Pensil Konte”. Jenis pensil ini mempunyai kepekatan warna hitam dan tidak mengkilat ketika dogoreskan di permukaan kertas.

Nicholas Jaques Conte.
Pemrosesan pensil di era modern dibuat dengan menghancurkan grafit murni dan tanah liat menjadi bentuk bubuk. Campuran ini kemudian diberi air, dianginkan, dan kemudian dibakar selama tiga hari. Kemudian isi pensil yang telah dicetak menjadi bentuk yang panjang dan tipis dilapisi dengan kayu halus. Awalnya pensil lebih banyak dibuat dalam bentuk persegi karena keterbatasan mesin produksi. Nuremberg, Jerman adalah tempat kelahiran dari massa-diproduksi pensil pertama di 1662. Dipicu oleh Faber-Castell, Faber-Castell didirikan pada tahun 1761 di Stein, Jerman. Berawal dari pabrik pensil yang dibangun oleh Kaspar Faber (masa hidup 1730-1784) di Nuremberg, perusahaan itu pada awalnya hanya memproduksi pensil yang disebut ”Bleiweißstifte”. Kemudian bisnis itu berubah nama menjadi “A.W.Faber” yang diambil dari nama putra Kaspar, Anton Wilhelm Faber (masa hidup 1758-1810). Sepeninggal Kaspar, Anton Wilhelm mengambil alih kendali bisnis warisan sang ayah dan membuatnya berkembang pesat. Selanjutnya pendirian Lyra, Steadtler dan perusahaan lain, industri pensil aktif dikembangkan di seluruh revolusi industri abad ke-19.
Pada abad ke-19, pembuatan pensil menjadi bisnis besar. Grafit ditemukan di beberapa tempat, termasuk Siberia, Jerman, dan yang sekarang disebut Republik Ceko. Di Jerman dan kemudian di Amerika Serikat, sejumlah pabrik dibuka. Mekanisasi dan produksi massal menekan harga, dan pada awal abad ke-20, bahkan anak-anak sekolah menggunakan pensil. Awalnya pensil grafit diberi balutan kertas yang dirobek sesuai keinginan pemakainya. Namun kemudian ditemukan cara lebih praktis dan efisien dengan menyelimuti seluruh batang grafit dengan dua bilah kayu yang ditoreh untuk menyediakan tempat bagi batang grafit dan kemudian disatukan. Pensil di era modern dibuat dengan menghancurkan grafit murni dan tanah liat menjadi bentuk bubuk, diberi air, dianginkan, dan dibakar selama tiga hari, dicetak, dilapisi dengan kayu halus (awalnya lebih banyak dibuat dalam bentuk persegi). Namun hari ini, pensil lebih banyak ditemui bentuk bulat karena lebih nyaman digenggam. Dan selongsong pensil (grafit) tersebut berkembang tidak hanya dalam bentuk kayu, tetapi terbuat dari bahan plastik dan logam seperti yang kita lihat sekarang ini.

Komposisi bahan dan jenis pensil.

Ø      Pensil Grafit.
Pensil grafit adalah pensil yang kita gunakan sehari-hari dan pensil jenis ini merupakan jenis yang paling populer digunakan. Komposisi bahan yang digunakan dalam pensil jenis ini antara lain grafit sebagai bahan utama, kemudian dicampur dengan tanah liat dan bahan pengikat (binder). Grafit adalah bahan mineral/tambang yang merupakan satu keluarga dengan karbon, charcoal, dan diamond. Grafit berwarna iron grey yang mengkilat metalik, selain digunakan sebagai bahan utama pensil grafit juga digunakan sebagai komponen pengecoran logam serta sebagai pelumas. Bahan-bahan tersebut di atas kemudian dicampur dan di cetak dalam bentuk silinder kecil, yang kemudian dimasukan dalam selongosng kayu atau plastik.

Pensil grafit ini mempunyai tingkatan dalam ketebalan dan kerasnya bahan grafit tersebut. Maka dari itu pabrik yang membuat pensil jenis ini mencantumkan kode sebagai penanda dan sekaligus sebagai pembeda karakter pensil. Untuk pengaturan kode dicantumkan dengan kode H (hard) , yang menginformasikan bahwa komposisi grafit/lead yang keras. Yang berati komposisi bahan ini mengandung tanah liat yang dominan. Sedang kode B (boldnes) yang berarti kandungan grafitnya lebih dominan dari tanah liat, sehingga diperoleh ketebalan yang cukup.
Sedang jumlah tingkatan adalah 9 H untuk menandai yang paling keras, sedangkan 8 B untuk menandai yang paling tebal dan lunak. Semakin besar kode angka tersebut maka akan semakin keras untuk kode H dan semakin tebal dan lunak untuk kode B. Kelompok kode H biasanya digunakan untuk menggambar teknik, sedangkan kelompok kode B biasanya untuk menggambar bebas. Sedang untuk tingkatan medium diberi kode HB, digunakan untuk menulis. Perkembangan bentuk pensil ini mengalami perubahan dalam bentuk yang cukup bervariasi. Bentuk pensil tidak hanya silinder, ada juga bentuk polygonal, persegi, dan oval yang mempunyai mata pensil yang lebar.
 Warna pada pensil memperlihatkan area produksinya. Pabrik-pabrik di Amerika Utara memberi warna kuning, Jerman dan Brasil memberi warna hijau. India dan beberapa wilayah Asia memberi warna hitam dan merah. Swiss memberi warna merah. Sedangkan Inggris memberi warna kuning dan hitam. Kebanyakan standardisasi warnaini diciptakan produsen Faber-Castell. Namun ban yak pula produsen yang tidak mengikuti standar ini. Pensil Modern Pensil sekarang adalah alat tuilis dan gambar yang canggih sekaligus serbaguna, yang setiap tahun diproduksi di seluruh dunia hingga milliaran batang. Pensil dapat membuat garis sepanjang 60 kilometer dan menulis 45.000 kata.
Ø      Pensil Konte.
Nama pensil konte di ambil dari nama penemunya yaitu Nicholas Jaques Conte, seorang insinyur berkebangsaan Prancis. Pada dasarnya pensil jenis ini merupakan jenis arang gambar. Hanya saja telah melalui proses pembuatan yang lebih praktis. Yaitu melalui proses produksi dengan dicetak/press dan kemudian dimasukan kedalam tabung (pot), ataupun gulungan kertas yang padat. Keistimewaan dari pensil konte adalah dapat diruncingkan, sehingga dapat dipakai untuk membuat garis-garis detail maupun arsiran yang halus.
Untuk karakteristik dari jenis pensil konte ini mempunyai beberapa karakteristik yaitu, tipe soft, medium dan hard. Nama sebenarnya dari pensil jenis in adalah pensil arang, tetapi kita sudah terlanjur menyebutnya dengan pensil konte. Dimana penyebutan pensil jenis ini kerena merk dagang yang populer adalah Conte.  Yang diambil dari nama penemunya yaitu Nicholas Jaques Conte. 

Ø      Pensil Logam (stifthouder)/Pensil Mekanis.
pada prinsipnya pensil logam (bahasa Belanda : stifthouder) adalah sama dengan pensil grafit. Hanya yang membedakan dalam kemasanya saja atau pembungkusnya. Yaitu grafit tidak lagi di bungkus dengan kayu atau kulit, tetapi menggunakan selongsong logam atau plastik. Dan pensil tersebut sudah diberi tombol mekanis, sebagai alat penekan batangan grafit agar keluar dari selongsong jika akan dipakai.
Pensil mekanis ditemukan di Britania Raya pada 1822 oleh Sampson Mordan dan Gabriel Riddle. Awalnya Pensil Morgan berlabel SMGR. Simpson Morgan terus membuat pensil dan benda perak yang lebar sampai Perang Dunia Kedua, ketika pabriknya dibom.
Antara 1822 sampai 1874, lebih dari 160 hak paten telah didaftarkan berkaitan dengan keanekaragaman untuk mengembangkan pensil mekanis. Pensil mekanis berisi pegas dipatenkan pada 1877 dan mekanisme pengisian melilit dikembangkan pada 1895. Pensil mekanis untuk ukuran 0.9 milimeter dikenalkan pada 1938, dan kemudian diikuti dengan 0.7, 0.5, 0.3 bahkan ukuran 1.4 juga ada dan vesi 0.4, 0.2 kini diproduksi. Pensil mekanis menjadi tenar di Jepang dengan beberapa pengembangan di tahun 1915 oleh Tokuji Hayakawa, seorang pekerja besi yang selesai magangnya. Pensil mekanis ciptaannya dinamakan Ever-Ready Sharp Pencil.

Ø      Pensil Warna.
Pensil warna merupakan perkembangan dari pensil hitam, dimana untuk memenuhi kebutuhan para seniman atau ilustrator. Kegunaan dari pensil warna yang praktis memudahkan dalam membuat karya seni seperti desain, ilustrasi dan drawing. Komposisi dari pensil warna tentunya berbeda dengan pensil hitam. Komposisi dari warna pensil warna terdiri dari Leads, untuk pensil warna merupakan campuran antara pigment (organic dan inorganic), Kaolin, Carboxy Methyl Cellulose, Wax dan Surfactant. Bahan-bahan tersebut harus dicampur, dan di bentuk sehingga menjadi bentuk leads yang sempurna. Leads tersebut lalu dipotong dengan ukuran pensil dan melewati proses pengeringan.Setelah Leads mengering, leads dimasukkan ke dalam dua lembaran kayu yang sudah dicetak dengan bentuk alur dengan tambahan lem perekat. tersebut lalu di panaskan sehingga pensil tidak mudah patah.

Setalah semua komposisi bahan tersebut masuk dalam selongsong kayu, kemudian proses terakhir adalah pemberian warna pada selongsong kayu tersebut. Biasanya pemberian warna disesuaikan dengan warna dari leads pensil tersebut. Setelah itu baru proses pemberian merk atau branding. Secara historis perkembangan dari pensil warna ini, di kembangkan oleh Kaspar Feber yang mendominasi produk pensil di dunia. Yang kemudian dikembangkan oleh anaknya Anton Wilhelm, yang kemudian memegang indusrti pensil ternama yaitu A.W. Faber Castel. Dalam perkembangan selanjutnya, pensil warna penggunaanya menggunakan campuran air untuk mendapatkan kesan aquarel. Pensil warna jenis ini penggunaannya dengan cara menggoreskan lebih dulu di permukaan kertas, kemudian setelah itu goresan tadi disapu dengan kuas yang sudah dicelupkan ke air. []