Senin, 18 Februari 2013

Skill dalam Berkesenian

 
 Skill Dalam Berkesenian

Dalam berkesenian atau menciptakan sebuah karya seni membutuhkan kecakapan, keahlian, ketrampilan. Keahlian tersebut dapat disebut juga dengan istilah skill. Sebenarnya bukan dalam kesenian saja yang membutuhkan skill, dalam semua pekerjaan membutuhkan skill atau ketrampilan. Lantas skill seperti apa yang dibutuhkan dalam menciptakan sebuah karya seni. Apakah ketika menciptakan sebuah karya seni membutuhkan skill yang berbeda tingkatannya?.Atau skill yang sama tingkatannya dimiliki oleh setiap orang?. Misalkan ketika seniman menciptakan sebuah lukisan Surealisme dengan lukisan dekoratif, apakah membutuhkan skill yang sama?. Atau ketika musisi memainkan musik Progresive dengan musik Punk, apakah membutuhkan skill yang sama atau berbeda?.
Sebelum membahas lebih lanjut persoalan skill dalam berkesenian, ada baiknya kita pelajari terlebih dahulu apa itu yang dimaksud dengan skill?. Skill yang kita tahu adalah ketrampilan atau keahlian dalam memainkan atau mengoperasikan sebuah instrumen atau alat. Memang itulah pengertian skill adalah sama dengan ketrampilan, keahlian yang dimilki oleh setiap individu. Tentunya skill yang dimiliki masing-masing individu memiliki tingkatan atau kapasitas yang berbeda, di akui atau tidak memang ada perbedaan di setiap individu. Maka dari itu ada baiknya kita mencoba menelusuri pengertian skill menurut para ahli atau pemikir.

Pengertian dan jenis skill.
Menurut Nadler skill adalah kegiatan yang memerlukan praktik atau dapat diartikan sebagai implikasi dari aktivitas. Berarti disini dapat dijelaskan bahwa skill atau ketrampilan lebih dititik beratkan kepada proses praktik dari pada teori. Memang idealnya ketrampilan adalah suatu kegiatan aktif, dalam rangka menciptakan atau membuat sesuatu. Tetapi apakah skill yang kita miliki itu sudah ada dalam diri kita? Apakah manusia yang dilahirkan sudah memilki skill ?.Atau skill itu diperoleh dengan pengalaman atau pengetahuan?. Sebaiknya kita perlu mengetahui teori dari Dunnette, menurut Dunnette skill adalah kapasitas yang dibutuhkan untuk melaksanakan beberapa tugas yang merupakan pengembangan dar hasil training dan pengalaman yang di dapat.
Menurut pengertian dari Dunnette, bahawa skill adalah kapasitas atau kemampuan dalam menyelesaikan pekerjaan. Dan pekerjaan terebut akan berhasil jika melalui dua tahap yaitu training dan pengalaman. Maka dari itu ketrampilan yang dimiliki oleh setiap orang memiliki kapasitas yang berbeda. Skill dari masing-masing individu akan bertambah, jika di asah atau ditajamkan melalui pelatihan dan pengalaman yang di dapat dalam kehidupan. Maka tidak heran jika orang yang cukup umur telah berpengalaman, maka orang tersebut secara tidak langsung terasah skill nya. Dalam berkesenian apabila skill yang punyai belum dapat dikatakan maksimal, maka teruslah mengasah skill anda dengan cara rajin berlatih dan mengerjakan apa yang anda cintai dengan ketekunan.
Oleh sebab itu skill atau ketrampilan tidak datang tiba-tiba tanpa diolah dan ditajamkan dengan pelatihan yang intens dan pengalaman. Tetapi lebih jauh kita sebagai individu ada baiknya mengetahui kemampuan dasar(basic abilty) yang dimiliki. Dengan kata lain kita harus mengetahui kecenderungan kita kemana, misalkan sebagai seorang yang mempunyai kecenderungan di bidang seni atau matematika. Dalam bidang kesenian itu juga masih dipecah kecenderungn kita menjadi lebih mengerucut, seni apa yang akan kita tekuni atau pelajari. Maka dari itu kita harus tahu kemapuan dasar kita (basic abilty). Dengan kemampuan dasar yang kita milki di bidang seni, maka kita dapat dengan mudah mengerjakan atau menciptakan karya seni dengan cukup mudah dan tepat. Kemampuan dasar menjadi pertimbangan awal dalam memilih kecenderungan kita dalam suatu bidang, tak terkecuali kesenian. Yang nantinya kecenderungan itu akan berbuah kecintaan dalam melaksanakan suatu pekerjaan. Ketika suatu pekerjaan dilandasi dengan kecintaan, maka dalam mengerjakannya akan menikmati dan akan mendapatkan kepuasan (passion).
Jadi dalam dunia kesenian memang diperlukan skill supaya seni tersebut dapat diciptakan atau dimainkan dengan sungguh, dan menghasilkan sebuah kepuasan bagi sang kreator dan juga audiens. Tentu saja dalam menciptakan sebuah seni, memerlukan tingkatan skill yang berbeda. Misalkan ketika seorang pelukis menciptakan lukisan jenis Dekoratif dengan Surealisme, tentunya memerlukan tingkatan skill yang berbeda. Begitu juga ketika musisi memainkan jenis musik Dangdut dengan Progresive, tentunya akan memilki tingkatan skill yang berbeda. Terdapat beberapa tingkat kesulitan atau kerumitan dalam setiap  bidangnya, maka dari itu perlu di imbangi pula dengan ketajaman skill yang berbeda.
Mengenai tingkat skill yang berbeda menurut Robbins, skill dapat dikelompokan menjadi beberapa tingkatan:
1.Basic Literacy Skill adalah keahlian dasar, merupakan keahlian seseorang yang pasti dan wajib dimiliki oleh kebayakan orang, seperti membaca, menulis dan mendengar.
2.Technical Skill adalah keahlian teknik, merupakan keahlian seseoarang dalam pengembangan teknik yang dimiliki, seperti melukis, bermusik, menghitung, dll.
3.Interpersonal Skill adalah keahlian interpersonal, merupakan kemampuan seseorang secara efektif untuk berinteraksi dengan orang lain maupun dengan rekan kerja, seperti pendengar yang baik, menyampaikan pendapat secara jelas dan bekerja dalam satu tim (kecakapan sosial).
4.Problem Solving adalah menyelesaikan masalah, adalah proses untuk menajamkan logika, beragumentasi dan penyelesaian masalah serta kemampuan untuk mengetahui penyebab, mengembangkan alternatif dan menganalisa serta memilih penyelesaian masalah yang baik.
Itulah pembagian skill berdasarkan tingkat kemampuan individu, tentunya kita bisa memiliki semua keahlian di atas dengan pelatihan dan pengalaman belajar. Namun dalam konteks ini perlu ditekankan, bahwa pembahasan disini adalah dalam konteks berkesenian.
Maka dari itu skill yang tepat untuk mendalami kesenian atau mencipta karya seni adalah basic litercy skill dan technical skill. Dimana dalam kedua skill tersebut dirasa cukup tepat dalam konteks berkesenian, maka dari itu akan di fokuskan pembahasan pada kedua skill tersebut. Sebagimana telah dijelaskan di atas, kita hendaknya mengetahui kecenderungan kita atau skill dasar kita dalam suatu bidang. Apabila kecenderungan atau kompentensi dasar kita di bidang kesenian, maka tajamkanlah minat berkesenian. Setelah menemukan skill dasar yang kita miliki , selanjutnya kita dapat menajamkan skill tesebut secara intens sehingga meningkat ke technical skill. Disini timbul pertanyaan, bagaimana cara mengasah atau menajamkan skill yang kita miliki untuk dapat sampai ketingkat technical skill.

Faktor-faktor dalam meningkat skill.
Dalam pencapaian suatu tingkatan skill dipengaruhi oleh banyak faktor, diantaranya adalah faktor proses belajar, faktor pribadi, dan faktor lingkungan. Faktor-faktor tersebut menjadi penentu untuk sebuah pencapaian skill yang akan dicapai. Berikut penulis akan mencoba uraikan faktor-faktor tersebut.
proses belajar, pada intinya skill atau ketrampilan memang dapat dipelajari. Proses belajar yang intens  akan mengasah skill kita menjadi lebih tajam. Dalam berkesenian misalnya seorang pelukis tentu tidak akan langsung dapat melukis realis, sebelum belajar tentang sketsa, anatomi, pencampuran warna, komposisi dan elemen lainnya. Walaupun ada pendapat yang mengatakan bahwa kesenian itu membutuhkan bakat atau ada pengaruh genetis. Sebenarnya pendapat tersebut belum tentu dapat dikatakan sepenuhnya benar, dalam abad ilmu pengetahuan semua dapat dipelajari secara ilmiah.
Proses belajar mempunyai andil yang cukup penting dalam meningkatkan skill berkesenian kita. Seniman-seniman seperti Picasso menghasilkan 20.000 an karya, sedangkan Van Gogh menghasilkan lebih dari 800 lukisan dan sekitar 900 gambar. Kedua seniman besar tersebut sebagai contoh proses belajar yang tekun dan mencintai sebuah pekerjaan dalam hal seni, akan menghasilkan karya-karya yang bercitarasa tinggi. Ketekunan dalam melukis tentunya melalui proses yang lama, semua melalui tahap demi tahap, kedua seniman tersebut adalah contonya. Selain dedikasi terhadap bidang yang digelutinya, faktor selanjutnya adalah faktor internal yang berhubungan kepribadian kita.
Faktor pribadi merupakan faktor kedua setelah faktor belajar. Faktor pribadi (personal factor) adalah faktor yang di milki oleh individu secara khusus yang berupa kemampuan dari dalam. Menurut Singer ada 12 faktor yang sangat berhubungan dengan upaya peningkatan skill diantaranya adalah : (1) ketajaman mata(indra) (2) Persepsi (3) intelegensi (4) ukuran fisik (5) pengalaman masa lalu (6) kesanggupan (7) emosi (8) motivasi (9) sikap (10) faktor-faktor kepribadian (11) jenis kelamin dan (12) usia. Itulah ke 12 faktor pribadi yang berperan dalam peningkatan skill, berikut penulis akan coba uraikan tiap poin tersebut. Yang pertama disebutkan adalah ketajaman mata, mungkin disini perlu disempurnakan pengertian tersebut. Akan lebih tepat jika ketajaman mata mengandung pengertian penginderaan. Karena mata adalah salah satu panca indera kita, tetapi dalam konteks ini mungkin indera seperti pendengaran juga dirasa cukup berperan dalam pencapaian skill. Intinya kesemua indra itu mendukung dalam menajamkan skill kita, karena tidak semua disiplin ilmu seperti seni mengandalkan mata, seni musik harus mengedepankan indra pendengaran.
Sedangkan persepsi adalah bagaimana menerjemahkan sensasi indra yang kita terima saat ini. Persepsi adalah perpanjangan dari pencerapan indera kita, lebih utamanya indera penglihatan. Proses pengolahan persepsi indra kita sebagian memang ditentukan secara genetik, tetapi sebagaian besar merupakan hasil dari pembelajaran selama bertahun-tahun, baik melalui pengetahuan  atau pengalaman. Maka dari itu, proses persepsi antara satu individu dengan individu lainnya memilki tingkat perbedaan. Dalam konteks ini persepsi ada dua macam yaitu persepsi indra dan persepsi kognitif. Dengan adanya persepsi indra, kita melihat, mendengar, merasakan dunia dengan cara yang sama. Sedangkan persepsi kognitif lebih bervariasi antara individu satu dengan yang lainnya. Variasi persepsi kognitif timbul dari perbedaan suku, agama, lingkungan sekitar, atau tingkat sosioekonomi kita.
Selanjutnya adalah intelegensi, adalah sifat pikiran yang mencakup sejumlah kemampuan, seperti kemampuan menalar, merencanakan, memecahkan masalah, memahami gagasan dan belajar. Ketajaman intelegensi mempunyai peranan yang sama penting dalam meningkatkan skill kita, dalam hal ini adalah berkaitan dengan kemampuan kita dalam berpikir secara kognitif. Dengan adanya intelegensi maka kita dapat dengan mudah memikirkan sekaligus berusaha memecahkan masalah yang berkaitan dengan peningkatan skill. Faktor selanjutnya adalah ukuran fisik  seseorang ternyata memengaruhi dalam usaha peningkatan skill. Apabila dipikir secara logis saja, memang kita sudah dapat membanyangkan bagaimana jika ukuran fisik kita terlalu besar atau kecil. Misalkan seseorang memilki tubuh fisik yang gigantis, dengan jari-jari yang panjang tentu akan kesulitan memainkan instrumen gitar, begitu juga sebaliknya orang yang berukuran kecil. Maka yang terjadi adalah penyesuaian suatu alat atau instrumen tersebut. Tetapi yang jadi pertanyaan di jaman yang serba canggih seperti sekarang, bukan tidak mungkin kurang sempurnanya fisik seseorang dapat terbantu dengan rekayasa sains atau teknologi.
Pengalaman masa lalu berperan dalam meningkatkan skill kita dalam satu disiplin ilmu. Dengan adanya pengalaman masa lalu, membuat kita merasa tidak asing lagi terhadap sesuatu yang kita tekuni pada saat ini. Dapat dikatakan, ketika kita mempelajari suatu bidang, secara tidak langsung kita menyempurnakan ide-ide masa lalu dalam bentuknya yang baru. Faktor berikutnya adalah kesanggupan, ketika seseorang mendalami skill yang diinginkannya maka harus ada kesanggupan atau ketekunan. Memang ketika kita menekuni bidang tersebut harus ada yang dikorbankan, kita harus total dalam waktu, tenaga, pikiran dan materi. Dengan segala kesungguhan tersebut maka akan terbayar dengan kemampuan skill kita yang semakin terasah. Kemudahan akan kita dapatkan dalam bidang tertentu, dalam bidang seni misalkan maka akan mudah memainkan instrumen gitar atau melukis.
Selanjutnya adalah emosi yang ada pada diri kita ternyata berperan dalam meningktakan skill. Emosi disini adalah bukan amarah yang tinggi dalam mendalami suatu bidang tertentu, emosi disini berkaitan dengan suasana hati dari individu. Dalam artian emosi tidak selamanya berakibat buruk dalam kehidupan, memang emosi selalu ada dan hadir dalam diri kita. Perlu ditekankan disini, ketika kita dapat mengendalikan emosi kita untuk hal-hal yang positif maka bukan tidak mungkin segala sesuatunya akan menjadi lebih baik. Sebagaimana yang dikatakan oleh Paul Ekman bahwa emosi-emosi kita harus dalam jumlah yang benar, yang proporsional dengan peristiwa yang ditimbulkan, emosi itu harus diekspresikan pada waktu yang benar, dalam suatu cara yang sesuai dengan pemicu emosional dan lingkungan dimana hal itu terjadi, dan emosi itu juga harus diekspresikan dengan cara yang benar, dalam suatu cara yang tidak menimbulkan kerugian. Memang tidak mudah mengatur emosi kita untuk hal yang positif.
Motivasi yang kuat dari masing-masing individu dibutuhkan dalam meningkatkan skill, harus ada motivasi yang kuat untuk mendalami suatu bidang tertentu. Dan motivasi tersebut biasanya didasari kausal yang berpengaruh dalam diri individu. Dan kejadian yang spesifik dari seseorang menjadikan kadar motivasi tiap individu berbeda. Kejadian atau pengalaman masa lalu seseorang kadang menjadi motivasi yang kuat disamping juga motivasi dari orang-orang terdekat. Selanjutnya sikap, dalam hal ini adalah berkaitan dengan perilaku kita dalam mendalami suatu bidang. Sikap kita dalam menajamkan skill, tentunya menjadi perhatian kita semua. Memang sikap kadang berkaitan dengan watak seseorang, tetapi bukan tidak mungkin kita dapat menyesuaikan sikap dengan situasi dan kondisi yang kita hadapi. Tentunya sikap yang positif perlu ditanamkan dalam menjalani proses peningkatan skill, seperti disiplin, tata krama, bahasa, dan mudah berinteraksi.
Faktor-faktor kepribadian sesorang turut berperan dalam peningkatan skill.  Memang manusia itu termasuk spesies yang unik yang memilki kepribadian yang tidak sama. Setiap individu memiliki kepribadian yang berbeda-beda, dengan perbedaan tersebut menjadi berpengaruh dalam segala sesuatunya, termasuk dalam mengasah skill. Dengan latar belakang pribadi yang berbeda, maka pencapaian sutu tujuan akan melalui proses yang berbeda. Individu yang mempunyai faktor kepribadian yang tempramental dan pendiam tentunya mempunyai pencapaian skill yang berbeda pula. Selanjutnya dalam peningkatan skill ternyata ada pembeda antara wanita dan laki-laki. Disadari atau tidak memang perbedaan jenis kelamin memengaruhi dalam peningkatan skill kita dalam berkesenian atau ilmu pengetahuan.
Dalam hal ini skill berhubungan erat dengan kreativitas, ketika sudah ada skill dalam diri sesorang maka kreativitas akan mudah diwujudkan. Dalam konteks ini jenis kelamin  memengaruhi dalam pencapaian keahlian, apakah disini ada ke-tidak-adilan terhadap salah satu gender. Dalam konteks ini mungkin yang merasa dirugikan adalah dari pihak perempuan. Sebagai bukti penguatan teori tersebut perlu dikutip studi oleh Murray (2003), wanita hanya mengambil porsi 2,2% dari para genius kreatif di negar-negara Barat, Arab, India, China dan Jepang untuk bidang bidang ilmu pengetahuan, filsafat, sastra, seni dan musik. Tentunya ada faktor yang mendasari kenapa wanita tidak dominan  dalam industri kreatif berkaitan dengan skill. Perbedaan wanita dengan kaum pria bukanlah di otak, tetapi pebedaan justru di rahim, karena wanita memilki rahim, wanita bisa hamil dan melahirkan anak.
Pengaruh anak terhadap peningkatan skill perlu digaris bawahi karena menurut Hayes (1989), para wanita yang kreatif hampir semuanya tidak memiliki anak, atau kalaupun ada, hanya memilki sedikit anak. Selain itu faktor kedua adalah yang menghambat peningkatan skill adalah sosiokultural dari lingkungan sekitar yang kadang masih terkungkung pada paradigma lama, yaitu wanita hanya bertugas di dapur sebagai ibu rumah tangga. Tetapi di abad milenium kesetaraan gender terus diperjuangkan di beberapa negara maju. Bukan tidak mungkin wanita akan sejajar dengan laki-laki dalam segala bidang, tidak terkecuali dalam dunia seni. Tetapi sebagai catatan saja memang dalam dunia seni hanya sedikit deretan nama perempuan, seperti Rene Magritte, Frida Kahlo(seni lukis), Jane Austen, Emily Dickinson, Sylvia Path, Ane Sexton, JK. Rowling(sastra). Sedangkan dari dalam negeri hanya ada beberapa nama-nama yang tercatat seperi R.A. Kartini, Dewi Sartika,dalam dunia seni lukis tercatat nama seperti Lucia Hartini, Erika, Arahmaini, di bidang sastra ada Zara Zetira, NH Dini, Ayu Utami, Dewi Lestari dan S. Mara Gd.
Dertan nama-nama tokoh perempuan tersebut tentunya tidak sebanding dengan jumlah tokoh atau seniman laki-laki. Dalam satu periode seni hanya memunculkan beberapa nama wanita, tetapi bukan tidak mungkin di masa depan wanita dapat sejajar dengan pria. Selanjutnya manusia hidup di dunia ini tentunya dianugerahi umur atau usia yang terbatas, dan dengan usia yang terbatas memengaruhi dalam proses meningkatkan ketrampilan atau keahlian. Secara logika saja memang kita dapat membaca, kekuatan tubuh manusia berpengaruh dalam segala aktifitasnya. Maka dengan bertambahnya usia, manusia semakin terhambat dalam melaksanakan aktifitasnya termasuk dalam mengasah skill atau menciptakan kreasi. Jarang sekali kita mendengar kemampuan orang yang sudah sepuh memilki prestasi dalam suatu kreativitas artistik, bukan dalam hal pemikiran atau teori.
Faktor lingkungan adalah faktor terakhir dalam penentu penajaman skill. Memang lingkungan sangat berpengaruh besar terhadap pribadi dan pembentukan karakter individu, tak terkecuali dalam usaha peningkatan skill atau kemampuan seseorang. Lingkungan tempat seoarang berada sangat berpengaruh dalam hal pemikiran dan ketrampilan. Kondisi sosiokulktural sekitar kita memengaruhi pola pikir kita dalam menjalankan segala aktivitasnya. Lingkungan terkecil atau terdekat dengan kita adalah keluarga, komunitas terdekat kita yang memberikan dukungan moril dan semangat kepada kita. Diantara  dukungan tersebut adalah menanamkan semangat belajar sejak masih kecil, disiplin waktu, motivasi dan psikologis.
Lingkungan tersebut menjadi kunci dalam menjalankan atau menempuh aktivitas kita, dalam usaha peningkatan mutu ketrampilan kita dalam satu bidang. Sekalipun dukungan keluarga optimal, tetapi kondisi masyarakatnya tidak mendukung maka besar kemungkinan, proses menuju peningkatan mutu skill akan sia-sia. Sebagai contoh kondisi masyarakat yang pemalas, berpendidikan rendah, pemikiran yang sempit, maka kondisi seperti itu cukup berimbas kepada pemikiran kita dan psikologis. Jadi dalam konteks ini harus ada kondisi yang memang benar-benar harus mendukung, kalaupun tetap tidak dapat lepas dari pengaruh buruk tersebut, jalan keluarnya kita harus meninggalkan atau pindah tempat agar menemukan ide-ide baru. Disamping itu juga kita harus terbuka pada ide-ide baru yang muncul dilingkungan sekitar, dalam artian tidak tertutup terhadap input positif dari lingkungan. Pada intinya keadaan sosial masyarakat tertentu berpengaruh terhadap usaha peningkatan mutu seseorang. Membuka diri terhadap ide-ide dari luar merupakan faktor penting juga dalam meningkatan skill seseorang.
Itulah beberapa faktor yang melandasi dalam usaha peningkatan skill, untuk mencapai suatu penciptaan atau kreasi di suatu bidang. Dalam bidang seni semua itu mutlak dibutuhkan dan menjadi bahan pertimbangan untuk mencapai tujuan artistik. Jadi tidak ada perdebatan mengenai masalah skill yang dimiliki oleh satu individu dengan individu lainnya. Setiap seni mempunyai tingkat kesulitan yang berbeda. Dalam seni musik, skill dalam memainkan musik Punk, Dangdut, Progresive atau Death Metal tentunya mempunyai tingakatan yang berbeda. Begitu juga dalam seni lukis tentunya dalam menciptakan sebuah lukisan yang berbeda jenis di perlukan skill yang berbeda pula. Maka dari itu skill yang kita punyai dalam satu disiplin ilmu menjadi modal dasar (basic literacy skill), untuk dapat ditingkatkan lagi menjadi tingkatan selanjutnya ke tahap technical skill. Sebagai penutup mudah-mudahan artikel ini dapat bermanfaat bagi semua, kita disini sama-sama belajar apabila terdapat ketidaksempurnaan dalam tulisan ini, saya disini sebagai penulis hanya manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan. Maka dari itu penulis tunggu saran, kritik, masukan,  cacian, makian, atau apalah, silakan tulis di buku tamu atau bisa langsung komentar di kolom komentar.[]

Sumber pustaka.
Ø      It Pin Arifin, “Ketika Archimides berteriak “EUREKA!”.
Ø      R.J.M. PHILPOTT, “Van Gogh, Sebuah Boigrafi”
Ø      Paul Ekman, “Membaca Emosi Orang”
Ø      Desy Ariani, “Evaluasi Pelatihan Ketrampilan Bagi Perajin Keramik Plered”
Ø      Agus Nggermanto, “Quantum Quotient”
Ø      www.id.shvoong.com
Ø      www.wikipedia.com

Kamis, 31 Januari 2013

Seni Tidak Akan Hidup di Tengah-Tengah Orang Lapar

Seni Tidak Akan Hidup di Tengah-Tengah Orang Lapar

Seni atau barang seni merupakan sesuatu yang memiliki nilai estetika tinggi. Untuk menilai sebuah karya seni orang memerlukan keahlian tertentu. Karya seni tidak bisa dinilai dengan cara yang sembarangan, sehingga tidak sembarang pula orang yang dapat memaknai dan mengapresiasikannya secara mendalam. Secara substansial, jika dilihat dari segi ekonomi, seni atau barang seni memang tidak bisa dikatakan murah dalam arti lain ia membutuhkan nilai nominal yang tidak sedikit. Hal ini karena pada dasarnya seni berada di titik teratas dalam tingkatan kebutuhan manusia yang biasa kita sebut sebagai kebutuhan tersier. Dengan kata lain, untuk mendapatkan benda seni kebutuhan pokok/premier kita harus telah terpenuhi terlebih dahulu.
Berikut akan penulis bahas tentang benda seni yang dikategorikan dalam kelompok kebutuhan tersier. Di dalamnya juga akan sedikit menyinggung dan menilai apakah kesenian dapat tumbuh dan hidup di kota Bumiayu. Mengapa? Karena penulis cukup tergelitik dengan kenyataan yang dijumpai di lapangan, bahwa masyarakat Bumiayu masih jauh dari sadar seni. Ada banyak faktor yang mempengaruhi hal tersebut, salah satunya adalah kondisi sosial ekonomi yang masih berada di tingkat menengah bawah. 
Penulis teringat dengan sebuah ungkapan yang kemudian dijadikan judul untuk artikel penulis kali ini, yaitu “Seni Tidak Akan Hidup di Tengah-tengah Orang Lapar”. Ungkapan tersebut menjadi relevan jika dikaitkan dengan sebuah masyarakat yang kondisi ekonominya masih berada di bawah standar atau belum tercukupi. Untuk menghidupkan seni di tengah-tengah masyarakat yang serba kekurangan akan menjadi tidak mudah karena untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja masih susah apalagi harus menyisihkannya untuk kepentingan seni. Disamping faktor biaya, terdapat faktor lain yang mendukung ke-tidakberkembangan seni di masyarakat semacam ini, yaitu kurangnya apresiasi seni. Mengapresiasikan seni adalah masalah selera atau hati. Setiap orang memiliki kecenderungan terhadap karya seni yang berbeda-beda, semua kembali pada selera masing-masing.
Benda seni tentu berbeda dengan benda industri yang dapat diproduksi secara massal. Benda industri memiliki nilai konsumtif yang tinggi, sementara benda seni memiliki nilai ekslusifitas yang pada gilirannya mempengaruhi value dari karya seni itu sendiri.
Pembahasan berikut merupakan cuplikan dari pengalaman penulis sendiri yang telah bertahun-tahun berkecimpung di dalam dunia kesenian kota Bumiayu, lebih khususnya adalah seni rupa. Tidak dipungkiri, banyak sekali permasalahan yang dijumpai oleh penulis dan juga rekan-rekan satu komunitas. Contohnya, kita mulai saja dari pameran-pameran seni rupa yang telah dilaksanakan oleh Komunitas Ikatan Pengembang Bakat Seni (IPBS) Bumiayu. Ini merupakan komunitas seni di Bumiayu yang masih eksis dan aktif mengadakan beberapa kegiatan berkesenian, salah satunya adalah pameran seni rupa.  Berikut akan dijelaskan terlebih dahulu mengenai substansi seni yang sebenarnya sehingga tidak terjadi kesalahpahaman dalam membaca tulisan ini.

Sebuah Komparasi Dalam Nilai
Kenapa seni rupa menjadi eksklusif dalam artikel kali ini? Hal ini karena untuk mengapresiasikan seni rupa, kita perlu memahami seluk beluk tentang seni rupa itu sendiri. Ada beberapa alasan yang menyebabkan apresiasi seni rupa ini menjadi tidak biasa. Misalnya, untuk dapat menikmati sebuah karya seni rupa dalam bentuk lukisan, kita harus datang ke sebuah pameran lukisan atau bazar seni. Ini akan membutuhkan tenaga, waktu, pikiran dan juga biaya. Ini sangat berbeda jauh dengan kondisi seni pertunjukkan yang sudah terindustrialisasi, di mana seni itu sudah masuk ke dalam ranah produksi dan diproduksi secara massal dan komersil. Salah satu jenis seni ini adalah seni musik. Kita dapat dengan mudah mengakses dan menikmati hasil dari kesenian tersebut melalui berbagai sarana, seperti; video, Compact Disc (CD),  Video Compact Disc (VCD), Digital Versatile Disc (DVD), Cassete Tape dll. Namun, seni musik juga dapat menjadi eksklusif jika ditampilkan di concert hall atau di tempat pertunjukkan lain yang dikemas atau dikonsep dengan luar biasa.
Pada kenyataannya, sebagian besar seni musik memang sudah terindustrialisasikan dan bersifat massal; semua orang dapat menikmati segala jenis musik sesuai selera mereka tanpa harus datang ke sebuah pertunjukkan dan merogoh kocek yang besar. Terlebih, kemajuan teknologi sekarang sangat mendukung kemudahan kita dalam mengakses musik seperti halnya melalui perangkat/aplikasi portable. Kita dapat mendengarkan musik tanpa harus duduk di depan mesin pemutas musik, tetapi kita bisa menikmati musik di manapun kita berada, di situasi seperti apapun. Dengan adanya teknologi dalam industry musik, perubahan cara dalam menikmati musik menjadi semakin praktis, bahkan sekarang kita mendapati musik dalam keadaan tidak berujud atau virtual. Di abad digital ini, kita dapat memperoleh musik tanpa harus membeli dalam bentuk barang di music shop. Ini memudahkan kita untuk mendapatkan musik dengan cara mengunduh file musik dari perangkat yang tersedia. Bahkan, melalui media HP, MP3 player dan lain-lain kita dapat dengan leluasa dan bebas mendengarkan musik dalam situasi dan kondisi apapun.
Pembahasan di atas hanyalah sebuah komparasi terhadap seni jenis lain yaitu seni rupa, di mana seni musik sudah terindustrialisasi dan bersifat massal. Hal ini yang dapat menyebabkan pergeseran nilai atau value seni musik itu sendiri. Ini terjadi apabila seni musik telah merambah ke ranah budaya populer seperti yang tengah terjadi sekarang ini. Namun begitu, tidak seluruhnya menjadi populer karena masih ada jenis seni musik yang bertahan dengan konsep tradisi dan budaya adiluhung yang kuat.  Dengan bahasan di atas, setidaknya kita menjadi jelas tentang bagaimana seharusnya kita memahami seni yang bersifat eksklusif dan tergolong ke dalam kelompok kebutuhan tersier.
Sebenarnya, tidak menutup kemungkinan apa yang terjadi pada seni musik dapat pula terjadi  pada seni rupa. Ini dikarenakan adanya pembagian seni berdasarkan nilainya, yaitu seni rendah (low art) dan seni tinggi (high art), dan kategorisasi ini berlaku untuk segala jenis seni.
Dalam penciptaan sebuah karya seni tentunya didukung oleh berbagai unsur, diantaranya adalah keahlian, ketrampilan, ide, imajinasi, teknik, media dan juga bahan. Jika semua unsur tersebut ada dan mendukung dalam prosesnya, maka sebuah karya seni akan tercipta dengan sempurna. Jika salah satu unsur tersebut tidak ada, maka nilai estetika dalam seni tersebut akan berkurang atau bahkan menghilang. Yang akan dibicarakan di sini adalah konteks seni tinggi (high art) yang merupakan jenis seni rupa yang diciptakan oleh rekan-rekan penulis dari komunitas Ikatan Pengembang Bakat Seni (IPBS) Bumiayu.

Perjuangan di Tengah Orang Lapar
Pengalaman penulis dalam menyajikan sebuah karya seni dalam bentuk pameran-pameran yang di selenggarakan di kota Bumiayu dan sekitarnya memang tidak selamanya berjalan mulus. Banyak kendala dan rintangan di sana-sini, di antaranya adalah kesadaran masyarakat, birokrasi, dan faktor ekonomi masyarakat. Kesadaran masyarakat Bumiayu terhadap seni masih sangat kurang dan bahkan ada yang tidak tahu. Keadaan semacam ini berlaku terhadap seni rupa, bukan pada seni bentuk lain seperti seni pertunjukkan di antaranya adalah musik (band, dangdut, campursari, rebana, dll), teater, tari, dll. Untuk seni pertunjukkan musik populer seperti dangdut dan band cukup mendapat apresiasi yang bagus di lingkungan masyarakat Bumiayu. Ini dikarenakan karena sifatnya yang praktis dan tidak perlu mengeluarkan biaya yang banyak bagi seorang apresiator atau penonton.
Keberadaan seni rupa di lingkungan masyarakat Bumiayu sebenarnya bukan merupakan barang baru. Ini dibuktikan dengan adanya beberapa sanggar seni di periode tahun-tahun tertentu, misalnya di tahun 80-an ada sebuah sanggar seni yang dinamakan Sanggar Karya Lestari, dan di akhir tahun 90-an muncul sanggar yang lain yaitu Sanggar Kulit. Dengan begini, setidaknya masyarakat Bumiayu pernah mengetahui dan merasakan iklim seni rupa yang cukup dinamis.  Pameran atau kegiatan-kegiatan seni mungkin pernah ada di periode-periode tersebut. Tetapi, yang menjadi pertanyaan kemudian adalah mengapa komunitas-komunitas seni semacam itu tidak dapat bertahan lama dalam eksistensinya. Kita tahu, dalam dunia seni terdapat konstruksi seni yang saling melengkapi satu sama lain, di mana keberadaan seniman harus didukung oleh lembaga seni, audiens, kritikus dan juga media. Jika konstruksi seni tersebut tidak ada atau mungkin ada tetapi tidak berjalan dengan efektif; maka yang terjadi adalah sebuah ketimpangan, di mana seniman akan berkarya sendiri tanpa ada apresiasi, kritisi, dan peliputan media.
Kejadian yang terjadi di lapangan yang dialami oleh penulis dan rekan-rekan komunitas cukup banyak dan bervariatif. Misalnya dalam sebuah pameran seni rupa yang pernah di adakan di Bumiayu dan Brebes. Terdapat cerita-cerita menarik untuk diceritakan kembali di sini. Dalam sebuah pameran seni rupa banyak sekali kritikan dan juga komentar dari audiens yang merupakan masyarakat Bumiayu dan sekitarnya. Komentar dari masyarakat bermacam-macam mulai dari pujian, penghormatan, ejekan, celaan bahkan hinaan yang diungkapkan secara langsung oleh audiens kepada kami. Kekaguman yang diutarakan oleh masyarakat Bumiayu cukup bervariasi, mulai dari sekedar memuji sebuah lukisan misalnya  “Bagus Mas, nglukisnya pakai apa mas, ko bisa bagus kaya gini?” dan “Bagus lukisannya, nggambarnya mesti lama ya, Mas “. Masyarakat Bumiayu pada umumnya sudah mengetahui konsep dari sebuah lukisan dan ketika lukisan itu bagus maka harganya akan mahal juga (dalam pandangan mereka).
Itu mungkin beberapa contoh pujian dari masyarakat Bumiayu dan sekitarnya ketika mereka merasa kagum dan suka terhadap karya seni yang dipamerkan, akan tetapi sayangnya, mereka hanya sebatas mampu mengagumi saja. Dalam artian tidak ada tindak lanjut untuk dapat memiliki atau mengoleksi sebuah karya seni atau lukisan yang dipamerkan tersebut. Hal ini tentunya kembali kepada faktor ekonomi si audiens atau penikmat seni tersebut, ketika faktor ekonomi mencukupi kemungkinan mereka akan berusaha memiliki atau mengoleksi sebuah karya seni tersebut. Cerita akan berbeda ketika audiens tersebut suka sekali atau selera terhadap satu lukisan yang dipamerkan, tetapi kondisi ekonomi audiens tersebut tidak mencukupi; maka yang terjadi adalah sebuah penawaran terhadap karya seni yang di sukai tersebut. Sebenarnya harga yang ditetapkan penulis dan rekan-rekan dalam sebuah pameran telah disesuaikan dengan kondisi ekonomi masyarakat Bumiayu. Tetapi justru yang terjadi di lapangan kadang berbeda dengan apa yang sudah direncanakan.
Dengan harga lukisan yang cukup tinggi, maka akan terjadi penawaran dari sang audiens. Terkadang penawaran lukisan tersebut dapat dikatakan tidak memenuhi nilai nominal yang diinginkan, bahkan menawar lukisan sampai ke level yang paling rendah hampir sama dengan barang industri. Alasan dari masyarakat yang banyak ditemui di lapangan antara lain, mereka masih mempertimbangkan ukuran dan juga media yang digunakan dalam pembuatan karya seni itu. Misalkan untuk sebuah lukisan dengan media pensil atau media kering lainnya, lukisan tersebut akan ditawar pada level paling rendah. Alasannya, media yang digunakan hanyalah pensil, pastel, atau pensil warna, di mana media tersebut sangat populer dan mudah didapatkan. Tetapi mereka lupa untuk mempertimbangkan nilai estetika, proses pembuatan, ide, dan konsep cerita karya seni tersebut.
Kejadian di atas dipengaruhi oleh faktor ekonomi masyarakat, sehingga mereka akan berusaha menawar karya seni pada level yang paling rendah tanpa mempertimbangkan nilai artistik dan estetikanya. Hal ini dikarenakan ekonomi masyarakat Bumiayu tidak mencukupi untuk membeli benda seni, sehingga ketika akan membeli mereka tetap mempertimbangkan kebutuhan pokok lebih dulu. Sebenarnya terdapat golongan kelas atas atau elite di dalam masyarakat Bumiayu, tetapi cerita akan berbeda ketika mereka tidak begitu memperhatikan atau mencintai dunia seni. Mereka mempunyai orietasi yang berbeda dalam membelanjakan uang mereka. Walaupun dapat dikatakan berpotensi tetapi saluran pengeluaran mereka bukan ke seni, sehingga market seni di kota Bumiayu masih belum bisa terbentuk. Kalaupun ada masyarakat dengan kondisi ekonomi yang pas-pasan namun mencintai seni, maka faktor ekonomi-lah yang menghalangi mereka untuk berapresiasi seni. Yang terjadi kemudian adalah mereka mengoleksi benda seni yang menurut pengamatan penulis, merupakan benda seni yang low art dengan harga yang rendah dan murah meriah juga. Mungkin sebuah lukisan dengan harga yang murah dan nyaman dilihat, cukup untuk menghiasi ruang tamu agar terlihat lebih nyeni, padahal belum tentu lukisan tersebut dikerjakan dengan teknik yang tinggi, media yang berkualitas, konsep dan ide yang menarik. Mereka hanya tau bahwa lukisan tersebut bagus dan nyaman dilihat. Itulah beberapa cerita yang ditemui di lapangan, suka duka dalam menyajikan sebuah karya seni di tengah-tengah masyarakat yang belum mengerti akan sebuah nilai estetika.
Membutuhkan perjuangan ekstra bagi penulis dan teman-teman komunitas dalam menumbuhkan minat dan wawasan seni terhadap seni, khususnya di wilayah Bumiayu dan sekitarnya. Dengan mengadakan kegiatan seni seperti pameran, lomba lukis, pelatihan, workshop, diskusi dll, diharapkan muncul sebuah pembelajaran bagi masyarakat Bumiayu. Perlu ditekankan di sini bahwa karya seni murni atau benda seni adalah bukan barang industri yang dapat diproduksi massal. Memang ada seni yang sudah terindustrialisasi, tetapi nilai dari benda seni tersebut juga sesuai dengan proses produksinya yang singkat. Berbeda dengan sebuah karya seni yang diciptakan secara khusus, yaitu dengan jiwa dari si senimannya. Sebagaimana yang dikatakan S. Sudjojono Bapak seni rupa modern Indonesia bahwa “Kalau seorang seniman membuat suatu barang kesenian, maka sebenarnya buah kesenian tadi tidak lain dari jiwanya sendiri yang kelihatan. Kesenian adalah jiwa ketok (terlihat,kelihatan). Jadi kesenian adalah jiwa”. []

Sabtu, 26 Januari 2013

Pameran "PAGERMUDA" Di Pendopo Brebesa

PAGER MUDA
 (PAGUYUBAN PERUPA MUDA NGAPAK)

Liputan Pameran Artmosfer, pagermuda, di pendopo kabupaten Brebes, Bulan April-Mei 2012.

           Para perupa muda yang tergabung dalam Paguyuban Perupa Muda Ngapak (PAGERMUDA), akan berpameran bersama di pendopo Kabupaten Brebes. Pameran akan berlangsung dari mulai tanggal 27 April sampai dengan 1 Mei 2012. Pameran yang diketuai oleh Alik Setiawan S.Sn., yang merupakan alumni ISI Yogyakarta. Pameran pada kali ini mengangkat tema Artmosfer, dengan maksud untuk menciptakan iklim berkesenian di kabupaten Brebes. Pameran Artmosfer diharapkan menjadi stimulan bagi para perupa muda Brebes dalam berkesenian khususnya seni rupa. Disamping itu membuktikan pada masyrakat bahwa seniman Brebes itu memang ada dan berpotensi dalam mewujudkan iklim berkesenian yang kondusif dan maju. Dengan adanya pameran ini para seniman Brebes diharapkan dapat lebih giat lagi dalam memciptakan karya seni yang berkwalitas dan dapat diapresiasi oleh masyarakat Brebes.
            Pameran Artmosfer sendiri di ikuti oleh para seniman muda seluruh Brebes, baik Brebes utara maupun selatan. Para perupa yang berpartisipasi dalam pameran kali ini antara lain, Sony Hendrawan, Alik Setiawan, Suyatno, Maskur Subaweh, Iwan K, M. Ali Sobah, Purwanto, Agus Pakujati, Bachtiar Fugara, Haris Zulfikar, Khaerunisa, dan Dwi Agung Wibowo. Selain itu menghadirkan pula karya seni lukis dari perupa senior Bumiayu, yaitu Bpk. Darsono. Dan karya-karya yang disuguhkan oleh para perupa Brebes ini cukup bervariasi, menarik, dan berbobot. Karya lukisan yang ditampung dalam pameran ini berjumlah sekitar enam puluh karya lukis dengan berbagai jenis aliran. Jenis lukisan yang dipamerkan mulai dari Naturalis, Realistik, Kaligrafi, Ekspresionis, Surealisme, Kontemporer hingga Abstrak.
           Dengan berbagai macam jenis lukisan yang akan ditampilkan, diharapkan dapat menjadi media pembelajaran bagi masyrakat. Pameran yang rencananya akan dibuka oleh ketua Dewan Kesenian Brebes, bapak Lukman Suyanto S.H. Rangkaian acara yang akan berlangsung dalam satu minggu, antara lain workshop berupa melukis, sketsa dan melukis model. Diharapkan rangkaian acara tersebut dapat menarik para apresiator. Acara melukis bersama akan dilakukan oleh para peserta pameran. Disini dapat disaksikan bahwa kemampuan teknik dari para seniman Brebes akan terlihat dan tidak kalah dengan seniman kota lain. Terlaksananya pameran ini berkat dukungan penuh dari Dewan Kesenian Daerah kabupaten Brebes, yang menampung kreativitas dari seniman muda Brebes.
              Dengan dilaksanakan pameran ini, diharapkan iklim berkesenian di kabupaten Brebes dapat dimunculkan. Karena di Brebes memang menyimpan potensi seni yang tidak sedikit. Kedepannya dukungan dan kerjasama dari semua pihak, dapat mewujudkan Atmosfer berkesenian yang produktif, aktif, berkwalitas dan kondusif. Diharapkan kedepannya event-event berkesenian akan sering diadakan di wilayah kabupaten Brebes, khususnya seni rupa yang dapat dikatakan belum terlalu  muncul di wilayah Brebes. Nantinya seni rupa di wilayah Brebes diharapkan akan sejajar dengan seni-seni lain, seperti seni musik.  Dengan hadirnya pameran Artmosfer, akan menjadi sinyal kebangkitan seniman muda Brebes. Dan membuktikan bahwa karya-karya seni dari seniman Brebes tidak kalah dengan seniman daerah lain.
Berikut dokumentasi dari pameran Artmosfer :
Dari kiri : Sony Hendrawan, Alik Setiawan, Ketua Dewan Kesenian Brebes Bpk. Lukman Suyanto, dan Yatno. Berpose di depan karya para peserta pameran.


Para anggota Pagermuda
Berdiri : Alik Setiawan, Agus Pakujati, Bpk.Lukman Suyanto, Yatno, Bpk. Dharsono, Giar, Dwi Agung Wibowo.
Jongkok: Iwan K, M. Ali Sobah, dan Poerwanto.

Pengunjung pameran sedang mengapresiasi karya seni yang dipamerkan.



Sebagian karya yang dipamerkan dalam pameran Artmosfer.

Test Video


Jumat, 16 November 2012

Dokumentasi dari Lereng Merapi



DOKUMENTASI DARI LERENG MERAPI


 









Peranan Kritik Terhadap Dunia Seni di Bumiayu

 
PERANAN KRITIK TERHADAP DUNIA SENI DI BUMIAYU

Ketika sebuah karya seni hadir ke hadapan publik, maka harus menerima konsekuensi yang ada berupa kritikan dan saran. Bukan Cuma karya seni saja, semua karya, semua perbuatan, tingkah laku, teks, omongan dan yang lainnya akan menuai pro dan kontra. Pro  dalam bentuk pujian, setuju, idem, penghormatan, pengagungan, pengkultusan, ikonisasi dan  persahabatan. Sedangkan kontra akan dalam bentuk kritik, pembenaran, rekonstruksi, dekontruksi, reformasi, atau bahkan celaan, hinaan, cacian dan makian. Sebenarnya kritik itu memang diperlukan dalam segala disiplin ilmu, tidak hanya kesenian yang membutuhkan kritik. Dalam bahasan berikut ini saya akan mencoba menulis dan sekaligus merespon iklim berkesenian yang ada di Bumiayu. Kenapa saya menulis tentang kritik dalam konteks seni, dikarenakan konsentrasi saya di bidang kesenian. Tetapi disisi lain ada pemicu atau stimulus, dan yang menyebabkan saya mencoba mendalami apa itu kritikan.
Dan dari pemicu tersebut akan saya tuangkan dalam bentuk tulisan, diharapkan nantinya dapat dijadikan bahan diskusi atau renungan kita bersama. Pemicu yang meggelitik seperti apa dan menyebabkan saya menganggkat tema tentang kritik. Kausal tersebut muncul ketika ada pelaku seni di Bumiayu mengutarakan pernyataan, yang kurang lebih seperti ini “ anak-anak ini, baru mau muncul, belum siap untuk di kritik, kritiknya nanti dulu”. Kurang lebih itulah bentuk pernyataan yang muncul, dan menurut saya cukup menggelitik dan perlu untuk didalami. Pada intinya ketika semua bentuk karya atau apa saja yang tampil dan muncul kehadapan publik akan menuai berbagai komentar, tak terkecuali kritik. Sebelum membahas kritik tentang atmosfir berkesenian di Bumaiyu, saya akan mencoba membahas esensi dari kritik itu sendiri.

Esensi Kritik.
Kritik merupakan suatu bentuk pembenaran atau dekontruksi dari seseorang yang merasa peduli terhadap suatu pokok bahasan, dimana tujuan kritik adalah untuk menjadi bahan pertimbangan bagi pelakunya atau penciptanya. Lalu apakah semua individu itu mempunyai kapasitas dalam menilai atau mengkritik suatu bentuk?. Pada intinya semua individu mempunyai kebebesan berpendapat atau berbicara, dan berbicara itu merupakan hak asasi yang sudah dimiliki oleh manusia sejak lahir. Berbicara dalam bentuk kritik merupakan hak setiap individu, dan tentunya harus relevan dalam suatu pokok bahasan, dan tentunya masih dalam batas kewarasan. Sebagaimana yang dinyatakan Roland Barthes, bahwa kita tanpa merasa takut bisa menentang siapa pun untuk mempraktikan kritik yang “polos”, yang bebas dari determinasi sistematis apapun. Tentunya individu yang mengkritik haruslah obyektif dalam melihat pokok permasalahan yang ada, tanpa ada tendensi apa-apa di balik semua itu Ditujukan kepada hasil karya, tata cara, perialaku, sikap, perbuatan, omongan, dan juga pada subyek itu sendiri.
Sebuah kritik pada dasarnya merupakan kritik terhadap subjek, pemikiran, rasio dan kesadaran, atau meniliti pemikiran untuk mensistematisirnya, menganalisa rasio untuk mengkonstruksinya dan merivisi pandangan manusia dengan deskripsi nilai-nilai yang muncul dari kesadaran dirinya dan mampu mengekspresikan dengan subyekstivitas dirinya. Dalam artian sebuah kritik itu merupakan penjelasan tentang subyek yang menngungkapkannya dengan tujuan untuk merekonstruksi sesuatu dalam realitas dunia dan dinamikanya. Dengan demikian kritik merupakan bentuk ungkapan yang dilontarkan oleh individu, dalam rangka merekontruksi sebuah tanda yang ada dalam suatu bentuk yang hadir di dunia. Tanda tersebut diteliti, direvisi, dikontruksi dalam sudut pandang sang pengamat.
Memang terdapat kecenderungan dalam diri manusia itu sendiri, ketika seseorang berkarya atau berekspresi individu tersebut merasa bahwa itu sudah benar. Sesungguhnya dalam dunia ini tidaklah ada kebenaran absolut dan manusia adalah tempatnya salah dan kekurangan. Ketika sebuah karya seni atau teks itu diciptakan oleh sang pengarang maka yang ada adalah sebuah ketidaksempurnaan dari suatu karya, dalam konteks ketuhanan. Tidak ada teks atau penafsiran yang lebih utama dan lebih benar daripada yang lain, sehingga tidak mungkin suatu aliran memonopoli kebenaran tanpa yang lain serta tidak mungkin sebuah school of thought mengganggap dirinya sebagai satu-satunya pembentuk sumber ilmu pengetahuan. Jadi tidak patutlah meyombongkan diri dalam sebuah penciptaan, maka dari itu dari sisi lain muncul subjek yang berupaya mengkontruksi tanda yang telah diciptakan author. Terdapat kecenderungan pula, dalam sebuah penciptaan sering terdapat kelalaian atau ketidaksadaran dalam menyusun atau mengkomposisikan sesuatu. Maka dari situ lah kritik hadir menjalankan tugasnya, merevisi, meniliti, mengkuliti, mengkaji, mengkritisi apa yang tidak sesuai secara obyektif.
Baik dari author atau kritikus dalam menilai sesuatu tidaklah mendekati kebenaran yang absolut, semuanya itu relatif. Bentuk kritikan yang dilontarkan tentunya bukanlah bentuk kebenaran yang obsolut, kritikan merupakan bentuk penyempurnaan menuju ketidaksempuraan. Secara substansial kritik itu sendiri dapat dibangkitkan oleh individu sendiri dalam rangka mengintrospeksi diri sendiri menuju kebaikan yang lebih dan pemahaman yang mendekati sempurna. Semua individu dapat menjadi kritikus bagi dirinya sendiri, tanpa menunggu kritikan dari subyek lain. Kita dapat melakukannya dengan melakukan kritik dan instropeksi terhadap diri kita sendiri. Keduanya tidak akan berarti apa-apa kecuali kita bergaul dengan subyek kita dan mengekspresikannya kepada alam tanpa memperdulikan segala kelemahan dan kegagalan kita.
Jadi secara sadar kita harus mengetahui bahwa kita memang mempunyai kelemahan dan kegagalan dalam kehidupan kita. Tetapi kelemahan, kegagalan, kesalahan, ketidaktahuan menjadikan kita berpikir dan mengintrospeksi dan sekaligus mengkritik subyek dan juga orang lain. Idealnya sebelum mengkritik subyek lain hendaknya kita memamahami kapasitas diri kita sendiri. Pantas tidakkah kita melontarkan sebuah krtitikan, tetapi idealnya sebuah kritikan memang dapat dilontarkan oleh siapa saja dalam batas kewarasan. Jadi suatu bentuk utopia, kelamahan, romantisme yang dimiliki oleh sebagian individu merupakan bentuk pelemahan dari individu itu sendiri. Individu yang mencipta selalu diliputi dengan kebimbangan dan keraguan atau bahkan ketidaksadaran. Ketika suatu karya itu ditampilakan kehadapan publik, maka kritik akan mencoba menilisik masuk menuju ruang terdalam.
Kapasitas kritik adalah sebuah penggalian, penggungkapan, penelanjangan dan pembukaan. Ia tidak menunjukan kesia-siaan dan pembakaran. Ia adalah pengungkapan yang bertujuan untuk merekonstruksi dan reproduksi. Ia merupakan suatu penjelasan yang untuk membebaskan subyek dari kelemahannya dan menjadikannya mampu memberikan pengaruhnya pada siklus kehidupan dan pemikiran. Sedangkan kelemahan adalah ketiadaan kekuatan untuk mengatasi segala kesulitan atau tuntutan yang cenderung membawanya ke dalam situasi kehidupan yang membatasi segala dinamikanya. Sumber kelemahan itu berasal dari nilai-nilai lama(romantisme) yang membuat hubungan seseorang dengan subyektivitasnya, orang lain, realitas dan alam khayal, serta pengetahuan dan otoritas menjadi negatif dan tidak produktif, bahkan menyedihkan dan menghancurkan.
Nah, disinilah krtik menjalankan peranannya, dari sinilah harus ada pembongkaran, pembersihan segala hal yang menjadi penghalang, penghapusan semua dugaan, prasangka dan keyakinan dogmatis, penjelasan pengetahuan yang masih samar, serta pembebasan dari otoritas tertentu yang membatasinya. Kritik merupakan usaha untuk menyingkapkan segala kekuatan dan potensi yang tersemnbunyi dalam setiap sesuatu, dengan cara membuka segala sesuatu yang tertutup, mengungkap sesuatu yang tersembunyi, merubah sesuatu yang tetap, mengeksplorasi sesuatu yang samar, mengganti teologi menjadi sejarah, metafisika menjadi fisika, irasional menjadi rasional. Mengungkapkan sistem makna dan menguraikan simbol-simbol inti, membebaskan diri dari otoritas tradisi teks dan teks serta menghidupkan pengetahuan yang telah mati. Itulah substansi dari sebuah kritikan yang dalam implementasi pada kehidupan manusia.
Hasil cipta karya manusia apa intinya memang tidaklah sempurna, semuanya memerlukan pembenahan. Maka dari itu kritik hadir dalam kehidupan, dalam komunitas, dalam atmosfir kesenian dan lainnya. Singkatnya  arah tujuan kritik menjadikan pikiran kita bangkit dari kegegelapan tidurnya dan subyektifitasnya sendiri, membebaskan diri dari kelemahan dan keluar dari keterbatasanya. Jadi, memang pada dasarnya sebuah sikap atau wujud penciptaan tak luput dari yang namanya ketidaksempuraan. Maka dari itu kita memanglah masih jauh dari sempurna, begitu juga hasil karya kita masih jauh dari sempurna. Maka jauhkan sifat sombong, yang menganggap bahwa kita ini sudah benar sudah sempurna, semua itu membutuhkan pembenahan yang terus menerus. Tak terkecuali dalam penciptaan sebuah karya seni. Lihatlah para maestro seni kita, mereka berkarya sampai tua bahkan sampai akhir hanyatnya, mereka merasa bahwa karya seni mereka masih jauh dari sempurna dan perlu disempurnakan oleh generasi selanjutnya.
Jadi sebagai insan seni hendaknya kita menyadari bahwa, manusia itu masih jauh dari kebenaran dan kesempurnaa. Jadi tidak lah pantas menyombongkan diri dihadapan sesama manusia, kita harus menyadari kapasitas kita masing-masing. Untuk itu, orang-orang yang menyatakan bahwa kebenaran bersifat tetap dan tidak dapat berubah serta mengaku-ngaku telah memliki kuncinya, maka sebenarnya dia termasuk orang yang telah dibohongi oleh banyak kebenaran dan dibenturkan dengan multi-realitas. Maka dari itu tidak ada kebenaran atau kesempurnaan yang absolut, maka dari situlah lahir kritik yang akan mejadikan dinamika di suatu komunitas. Akan menjadi stagnan, statis, dan kemandekan dalam sebuah komunitas, jika tidak adanya sebuah kritik atau masukan. Itulah bahasan tentang esensi sebuah kritikan yang memang diperlukan dalam sebuah komunitas, iklim,kelompok seni, atmosfir, apa saja, tak terkecuali pada forum.... yang ada di Bumiayu.

Kritik Terhadap Atmosfir Seni di Bumiayu.

Di atas telah dijelaskan panjang lebar mengenai substansi dari sebuah kritik, sekarang tinggal implementasi dalam atmosfir seni di Bumiayu. Kenapa yang dibahas atmosfir seni di Bumiayu, karena memang itulah pokok bahasan yang sesungguhnya. Dimana kritik itu memang harus hadir dan dijalankan di atmosfir seni di Bumiayu. Bumiayu sebuah kota kecil yang memang mempunyai atmosfir seni yang dapat dikatakan cukup dinamis dan bergairah, dapat juga  dikatakan “Demeyar”. Memang itulah salah satu kecenderungan sesuatu di Bumiayu, ramainya hanya awal-awalnya saja. Mereka mencoba membuktikan eksistensi individu atau kelompoknya, dan kadang eksistensi tersebut menuju ke titik arogansi. Begitu juga dalam dunia seni yang ada di Bumiayu, eksistensi dari suatu kelompok terkadang terlalu asik dalam ekstase popularitas. Atau bahkan individu atau komunal mengalami sebuah titik yang dapat dikatakan sebuah kesombongan dan merasa dirinya paling benar.
Dunia seni yang ada di Bumiayu memang dirasa kurang subur dalam menerima sebuah kritik dari sesorang. Sebenarnya kritik di atmosfir seni itu memang ada, hanya saja masih ada bebarapa pihak yang belum menyadari substansi dari kritik itu sendiri. Dalam artian ada sebuah pemahaman yang beranggapan bahwa, mereka yang mengkritik jika bukan dari lingkungan atau golongan(balane dewek) dirasa sok tahu atau hanya omong kosong. Itulah kecenderungan yang subyektif dari beberapa individu, yang masih menganggap bahwa ada orang asing yang akan mengusik kandang sebuah kelompok seni. Sungguh situasi yang ironis, ketika di belahan wilayah lain membutuhkan kritik dari sesorang, jusrtu keadaan di Bumiayu sebaliknya, menolak kritik atau saran dari seseorang yang di anggap sebagai outsider. Itu adalah pendapat subyektif saya, bukan kenapa-kenapa memang keadaan seperti itu pernah terjadi di lingkungan seni di Bumiayu.
Sebenarnya kritik mengkritik itu tidak melihat dari mana orang itu berasal semua bisa mengkritik sebagaimana yang di nyatakan Roland Barthes. Kita semua dapat mengkritik secara “polos”, sesuai dengan pandangan kita dalam menyikapi sesuatu. Terlalu rapatnya pintu untuk sebuah kritikan dalam beberapa komunitas di Bumiayu, menyebabkan iklim seni di Bumiayu menjadi stagnan. Kita lihat saja contoh konkritnya, misalkan dalam sebuah acara seni saya ambil contoh event Bumiayu Fair yang biasa menampilkan pementasan seni pertunjukan tiap malamnya. Kita amati saja dari tahun ke tahun dalam panggung utama apa yang sering ditampilkan pada tiap malamnya. Pertunjukan apa yang sering paling tampil mengisi acara tersebut, mungkin kita sepakat menjawab band dan dangdutan. Pertunjukan lain tetap ada hanya mungkin dalam porsi yang sedikit.
Lalu kesimpulan seperti apa, yang didapat dari mengamati sebuah pertunjukan tersebut?. Mungkin tidak banyak orang yang mengkritisi perunjukan setiap malamnya di Bumiayu Fair. Pertunjukan dari tahun ke tahun apakah cukup ada peningkatan, perubahan, dinamika, atau hanya biasa-biasa saja. Tetap ada kekurangan disana-sini tetapi dalam setiap tahunnya event pertunjukan tersebut saya rasa tidak ada perubahan atau penigkatan yang cukup signifikan. Memang banyak faktor yang mempengaruhi kenapa pertunjukan seperti itu terkadang tidak optimal. Salah satu faktornya adalah mungkin pendanaan, sumber daya manusianya, dan masalah lainnya. Permasalahan seperti sound system, tata lampu, pengisi acara sampai gaya penggung pengisi acaranya. Sound system dalam panggung seni di Bumiayu Fair memang masih jauh dari cukup, pengisi acara yang itu-itu saja tidak ada yang lain. Gaya panggung pengisi acara yang biasa-biasa saja yang tidak balan dengan musik yang dibawakannya.
Mungkin itu sedikit pengamatan saya di panggung seni Bumiayu Fair, masih banyak permasalan lain di dunia kesenian di Bumiayu tetapi disini saya mengambil contoh tersebut. Selanjutnya saya tidak akan membahas secara mendalam masalah panggung seni di Bumiayu Fair. Memang idealnya kritik diperlukan bukan hanya dalam acara tersebut, dalam segala sesuatu yang telah muncul di hadapan publik. Dalam pengamatan saya atmosfir seni di Bumiayu ada semacam privilise, yang mengakibatkan tertutupnya hak individu lain dalam mengungkapkan pendapat atau kritiknya. Selain itu menjadi monoton ketika yang muncul atau tampil hanya orang-orang itu saja, acaranya hanya seperti itu saja, penampilannya cuma biasa saja. Seperti yang saya tuliskan pada awal tulisan ini, yaitu bentuk pernyataan dari seseorang yang mengungkapkan “jangan dulu mengkritik”. Privilise yang diberikan kepada individu dalam suatu komunitas tersebut, walaupun itu secara sadar atau tidak sadar, saya juga kurang mengetahui. Sehingga yang terjadi adalah mandeknya kritik atau mediator teknis dalam konstruksi dunia seni di Bumiayu.
Dengan tidak adanya salah satu konstruksi seni tersebut maka yang terjadi adalah sebuah ketimpangan dan arogansi. Mereka yang menjadi author merasa bahwa karyanya sudah benar atau bagus, penampilanya sudah pantas, gayanya sudah luar biasa secara subyektif. Padahal dalam dunia kesenian adalah unity  yang saling melengkapi dan mengisi, sang pencipta ingin karyanya di apresiasi dan sang audiens ingin memberikan komentar terhadap karya yang dilihatnya. Semua menjadi satu kesatuan yang nantinya akan menjadi balan dan berjalan harmonis. Dunia kritik mengkrtik bukanlah hal yang menjelek-jelekan, memojokan, menggurui atau menghancurkan. Jadi kita harus bisa mengklarifikasinya dan menyikapinya dengan tujuan untuk menjadikannya mejadi lebih baik. Yang merasa sebagai kreator akan mendapat masukan dari audiens, dan penikmat akan belajar mengkritisi karya seninya. Sehingga diharapkan akan terjadi kesinambungan, kreator akan lebih percaya dalam menampilkan karyanya dan sebaliknya apresiator akan menjadi pengamat yang kritis dan cerdas.
Memang kritik itu tidak hanya ditujukan buat orang lain saja, kita sendiri dapat mengkritisi subyektivitas kita. Jadi tidak ada salahnya melakukan kritik mengktitik, jika masih kontekstual dan sesuai dengan porsinya. Semua orang mempunyai hak untuk mengungkapkan pendapatnya  kepada siapa saja dan tentunya di imbangi dengan sebuah tanggung jawab. Jika memang belum ada kesiapan dalam menghadapi sebuah kritik memang itu kembali kepada individu masing-masing atau suatu kelompok. Akan  menunggu kritik jika sudah mencapai popularitas atau dikritik ketika memang sudah saatnya dan membutuhkan saran dari seseorang. Tidak perlu menunggu, semua kembali kepada individu masing-masing, yang secara sadar memang harus tahu substansi dari kritik. Ketidaksiapan kita dalam menerima kritik memang menjadi kecenderungan, yang membedakan kita dengan bangsa Barat. Sebagai penutup akan saya kutip pernyataan dari pemikir kebangsaan Libanon Dr. Ali Harb “ Inilah sebenarnya titik perbedaan antara kita dengan Barat. Mereka mengkritik subyektivitas mereka sendiri, sedangkan kita tidak. Mereka menjelaskan batasan-batasannya dan menguraikan segi-segi kelemahannya sendiri di saat kita menutup-nutupi kekalahan kita dan menyembunyikan realitas kita “.

Referensi :
·      Membedah Mitos-mitos Budaya Massa, Roland Barthes.
·      Relativitas Kebenaran, Dr. Ali Harb.
·      Posmodernisme dan Budaya Pop, Angela Mc Robbie.
·      Tamasya Dalam Hiperealitas, Umberto Eco.