Minggu, 23 Oktober 2011

Sejarah dan perkembangan seni rupa di Bumiayu

 

Sejarah dan perkembangan seni rupa modern di Bumiayu.

Bumiayu adalah kota kecil yang terletak di ujung selatan kabupaten Brebes, mayoritas penduduknya berprofesi sebagai pedagang, petani dan buruh. Tetapi di balik semua itu Bumiayu menyimpan potensi di bidang seni rupa. Kapan tepatnya gerakan seni rupa itu muncul di Bumiayu? Secara historis memang tidak ada narasi yang jelas tentang dunia kesenian. Tidak ada seniman atau hasil karya yang dapat menjadi rujukan dalam pemetaan sejarah tersebut. Tetapi di Bumiayu wilayah barat, tumbuh dan berkembang kerajinan produksi alat musik tradisional, yaitu rebana atau kencer dalam bahasa Bumiayu-an. Kita tahu bahwa kota tersebut identik pula dengan nilai-nilai religiusnya, bumiayu dimata orang asing terkenal dengan sebutan “Kota Santri”. Secara tidak langsung keriligiusan tersebut membawa imbas dalam bidang kesenian yaitu seni musik tradisional dan seni kerajinan. Pusat kerajinan alat musik tradisional tersebut berada di desa Kaliwadas, disitu diproduksi alat tradisional dan modern. Alat-alat yang di produksi antara lain , rebana, bedug, drum, guitar dan lainnya.

Kapan tepatnya kemunculan kesenian tradisional di Bumiayu  memang tidak diketahui secara pasti karena keterbatasan dalam literatur. Apabila ditelusuri lebih jauh kebudayaan tradisional ini memang tidak lahir murni di Indonesia, khususnya kebudayaan dengan nuansa islami. Kesenian tradisional yang ada di Indonesia adalah karena pengaruh dari bangsa asing. Hasil kerajinan tersebut mungkin di pengaruhi kebudayaan Islam yang datang di nusantara. Menurut Buya Hamka, Islam dibawa ke Indonesia oleh bangsa Arab dan masuk ke Indonesia pada abad ke-7. Mengenai sejarah musik rebana, konon berasal dari Timur Tengah, di nusantara seni rebana dibawa oleh para pedagang dari Arab yang tinggal di pesisir pantai Indonesia. Hingga dalam perkembangannya alat tersebut bisa di produksi oleh masyarakat pribumi.

proses pembuatan rebana di desa Kaliwadas
Tetapi kemunculan pusat kerajinan  itu tidak dapat dijadikan tolok ukur dalam pemetaan seni rupa di Bumiayu. Kesenian tersebut masuk dalam kategori kesenian tradisional, walaupun kerajinan itu masuk dalam kategori seni rupa, tetapi orientasinya lebih kepada mass production bukan fine art. Maka dari itu tidak masuk dalam kategori fine art, di mana yang akan kita bahas di sini adalah seni rupa yang berbasiskan seni murni, yaitu seni lukis, seni grafis, dan seni patung. Sebagai tonggak munculnya gerakan seni rupa dikota tersebut kira-kira dimulai pada kira-kira tahun 1983, ditandai dengan munculnya Sanggar Karya Lestari. Sanggar ini dipimpin oleh Sudarsono yang menampung teman-teman yang mempunyai kemampuan dibidang seni rupa khususnya seni lukis. Para anggotanya antara lain adalah Nurkholis, Sobirin, Roji, Sutrisno (Alm), Slamet (Alm), Jumaris (Alm), Irfan, Junaedi dan Suyatno. Sudarsono yang mempunyai latar belakang akademis di bidang seni rupa, beliau pernah megeyam pendidikan seni rupa di Yogyakarta. Beliau belajar di STSRD ASRI, mengambil jurusan seni rupa. Bermodalkan keahlian dibidang tersebut Sudarsono memotivasi teman-teman untuk mendirikan perkumpulan atau wadah yang berfungsi sebagai ajang kreatifitas seniman Bumiayu  pada waktu itu, maka di bentuklah Sanggar Karya Lestari.


       Dengan demikian gerakan seni rupa yang dipimpin oleh Sudarsono adalah termasuk dalam kategori seni rupa modern. Menurut Sanento Yuliman dalam bukunya Dua Seni Rupa mengatakan bahwa yang dimaksud dengan seni rupa modern Indonesia bukanlah lanjutan dan juga bukan transformasi seni tradisional, baik seni tradisional salah satu maupun seluruh etnis di Indonesia. Dengan demikian sudah jelas bahwa kemunculan Sanggar Karya Lestari, lepas dari pengaruh dari kesenian tradisional yang ada di kota tersebut
para anggota sanggar Karya Lestari, di depan karya-karyanya
        Sejak kemunculan sanggar tersebut dunia kesenian di kota kecil tersebut menjadi produktif dan dinamis. Dengan berbekal kemampuan otodidak yang dimiliki dari setiap anggotanya mereka berkarya dengan penuh semangat. Karya-karya yang dihasilkan dari para anggotanya bermacam aliran mulai dari naturalisme, dekoratif, realistik, kaligarfi, dan ekspresionisme. Karya mereka masih terpengaruh seniman-seniman besar Indonesia seperti Raden Saleh, Basuki Abdulah, Affandi, Sudjojono, Amri Yahya, dan yang lainnya. Seniman yang bernaung disanggar Karya Lestari cukup produktif dalam mengasilkan karya-karyanya. Dengan segala kemampuan mereka melukis dengan meggunakan media apa saja seperti pensil, pastel, konte, arang, dan cat minyak. Karya-karya yang dihasilkan dari belajar bersama mempunyai karakter tersendiri, memang sebuah karya seni mengekspresikan jiwa setiap senimannya. Sebagaimana yang dikatakan Sudjojono “Kalau seorang seniman membuat barang kesenian, maka sebenarnya buah kesenian tadi tidak lain dari jiwanya sendiri yang kelihatan. Kesenian adalah jiwa yang ketok , jadi kesenian adalah jiwa”, Demikian statement yang diungkapkan oleh pendiri Persagi.
para pengunjung serius mengapresiasi karya dari sanggar Karya Lestari
Tetapi proses berkesenian mereka memang dipengaruhi oleh masyarakat sekitar yang masih awam dalam dunia kesenian. Akibatnya karya yang dihasilkan masih sebatas realistik dan enak untuk dilihat atau di nikmati. Karya-karya yang dihasilkan adalah jenis lukis potret, lukisan pemandangan, lukisan kaligrafi, dan dekoratif. Secara teknik memang sudah bagus dan artistik, namun secara konseptual mungkin masih ada kekurangan. Kita tahu  di dunia kesenian  ada beberapa komponen yang saling melengkapi dan mengisi. Komponen yang pertama adalah seniman, masyarakat penyangga, lembaga kesenian, kritikus dan media. Keberlangsungan sanggar tersebut memang berjalan tanpa komponen-komponen kesenian tersebut. Tetapi dengan segala kekuatan dan energi, Sudarsono bersama teman-temannya terus bergerak aktif mengadakan dan mengikuti pameran-pameran. 

Kemunculan sanggar tersebut membuat suasana yang berbeda di kota Bumiayu, ketika ada sebuah acara atau kegiatan yang dilaksanakan oleh pemerintah setempat, sanggar Karya lestari ikut andil dalam perhelatan tersebut. Tetapi sanggar tersebut tidak hanya pameran di dalam kota, tetapi merambah keluar seperti pameran di Purwokerto, dan Brebes. Pada waktu itu memang kondisi dunia kesenian di Bumiayu tidak berjalan mulus, sehingga para seniman Bumiayu yang tergabung dalam sanggar tersebut hanya berpameran di kota-kota tetangga. Memang sungguh ironis ada sebuah perkumpulan seniman yang mencoba membawa nama daerahnya, kurang begitu di perhatikan oleh pemerintah setempat. Tetapi seniman-seniman yang bernaung di Sanggar Karya Lestari mencoba untuk tetap eksis dalam berkesenian. Mereka terus berkarya, menerima pesanan-pesanan lukisan, mendidik anak-anak di sanggar, dan tetap berpameran. Selama eksisnya sanggar tersebut tidak ada pencapaian atau prestasi yang membanggakan, sanggar tersebut hanya aktif di Bumiayu dan kota-kota tetangganya. Menurut narasumber yaitu saudara Suyatno, Sanggar Karya Lestari mulai non aktif pada tahun 1992. Bubarnya sanggar tersebut dipengaruhi oleh banyak faktor, antara lain adalah karena kesibukan dari masing-masing anggotanya, pemerintah setempat yang kurang mendukung, dan masalah eksternal lainnya.

Pameran yang diadakan sanggar Karya Lestari


Setelah bubarnya sanggar tersebut dunia kesenian di Bumiayu mengalami kevakuman yang cukup lama. Kevakuman tersebut membawa pengaruh yang cukup signifikan dunia kesenian di kota Bumiayu, tidak ada kegiatan berkesenian yang membanggakan bagi masyarakat , mungkin hanya pameran-pameran di tingkat sekolah. Kevakuman tersebut disikapi seniman-seniman eks-sanggar Karya lestari untuk tetap berkarya, dengan intensitas yang tidak begitu greget. Hingga pada akhir tahun 1999 muncul perkumpulan anak muda Bumiayu, yang dipimpin pemuda yang bernama Heppy. Mereka muncul ke publik dengan membawa panji-panji kesenian, dan menamakan perkumpulan mereka dengan nama Sanggar Kulit. Dan para anggota awal yang bergabung dengan sanggar ini antara lain Aji, Yono, Iqbal, dan Ferry Kemunculan Sanggar Kulit yang di ketuai oleh Heppy tidak berjalan mulus, banyak masalah ekternal yang menghampiri. Salah satunya adalah perselisihan antara sanggar dan pihak luar yang ingin mengambil alih dan memanfaatkan. Hingga pada akhirnya kepemimpinan Sanggar pindah tangan kepada Haris Zulfikar yang akrab disapa Agep, pemuda pendatang yang juga aktif di seni rupa
Hinga pada akhirnya sanggar tersebut diberikan fasilitas berupa gedung dan seperangkat alat kesenian oleh dinas pendidikan dan kebudayaan daerah. Dan sanggar ini menempati gedung milik dinas pendidikan dan kebudayaan, yang berlokasi di depan rumah sakit Bumiayu. Dengan kemudahan yang didapat tersebut, seharusnya sanggar tersebut bisa aktif dan produktif dalam berkesenian. Tetapi fasilitas itu tidak daimanfaatkan secara maksimal dan orientasi dari perkumpulan tersebut lebih kepada seni pertunjukan atau parade band. Anggota yang bergabung di sanggar ini mempunyai keahlian di bidang seni lukis, musik, dan fotografi. Karya-karya dari anggotanya yang mempunyai keahlian dalam melukis masih berorientasi kepada aliran Realistik, Naturalisme, Kaligrafi, dan seni lukis potret. Mereka kurang aktif  dalam berkarya dan pameran di Bumiayu , dan hanya sesekali mengadakan acara pertunjukan atau parade band.
Pengunjung antusias menyaksikan karya-karya seniman sanggar Karya Lestari
Sanggar Kulit hanya sedikit memberi warna dunia kesenian di kota Bumiayu, pameran-pameran mulai ada, acara-acara pertujukan mulai ramai, dan kegiatan kesenian yang lain. Namun sangat disayangkan Sanggar Kulit berumur pendek, sanggar tersebut mulai non aktif dan bubar kira-kira pada tahun 2002. Munurut beberapa sumber, keberadaan sanggar ini dimasuki oknum-oknum yang tidak berkompetensi di bidangnya. Mungkin ini gambaran singkat dari perjalanan Sanggar Kulit yang singkat dan mungkin juga penuh kontroversi.

Suyatno sedang serius melukis
Bumiayu kembali vakum  dalam dunia keseniannya, terutama seni rupanya. Tetapi disisi lain, banyak komunitas-komunitas seni musik yang bermunculan. Ini ditandai dengan banyaknya acara musik yang diadakan, banyaknya band-band yang bermunculan, dan event organizer. Dunia seni rupa di kota tersebut benar-benar vakum untuk waktu yang cukup lama. Para bekas anggota dari kedua sanggar tersebut mulai sibuk dengan pekerjaan masing-masing, dalam hal pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Mungkin menurut pemikiran mereka, dunia berkesenian dikota kecil tidak menjanjikan keuangan yang cukup, sehingga mereka bekerja diluar seni. Hal ini di buktikan oleh sebagian beberapa anggota yang merantau ke ibukota, bekerja serabutan, dan berwirausaha. Tetapi tidak dipungkiri sebagian dari mereka masih ada yang tetap berkarya dan berkesenian, seperti yang dilakukan oleh Suyatno, Nurkholis, dan Agep.

Kevakuman dunia seni rupa Bumiayu, setelah periode kedua sanggar tersebut berlangsung cukup lama kira-kira lima tahunan. Tetapi di dalam diam itu ada pergerakan yang secara pelan tapi pasti mulai menajamkan untuk muncul ke permukaan. Pergerakan yang secara diam-diam itu di mulai oleh Alik Setiawan dan Lukman Aris. Kedua pemuda itu mempuyai pemikiran yang baru dan cemerlang, mereka bermaksud mendirikan perkumpulan yang menampung insan seni yang potensial. Dengan semangat dan energi yang baru, mereka membentuk dan mendirikan perkumpulan yang dinamakan Ikatan Pengembang Bakat Seni (IPBS). Kedua pemuda tersebut mempunyai konsep menampung bakat seni dan mengembangkan dunia seni di Bumiayu, khususnya seni rupa. Dan sebagai tempat untuk berkumpul dan berdiskusi tentang kesenian, dipusatkan di toko souvenir Lukman Aris yang berlokasi di depan kantor Pegadaian Bumiayu. Alik setiawan yang mempunyai latar belakang pendidikan seni rupa di kampus ISI Yogyakarta, dipercaya oleh teman-teman sebagai leader dalam perkumpulan tersebut.

Alik Setiawan, salah satu penggiat seni di Bumiayu
Perkumpulan yang baru terbentuk secara tidak sengaja mempertemukan dua generasi yang berbeda, yaitu alumni sanggar Karya Lestari dan Sanggar Kulit. Nama-nama yang masuk dalam perkumpulan ini antara lain Suyatno, Agep, (mewakili generasi tua),Alik Setiawan , Lukman Aris, Martin Awom, Deny Aris Susanto, Muhamad Ali Sobah, Fery Jangkung, Purwanto, Iwan K,dan Bachtiar Fugara. Setelah terkumpul nama-nama diatas maka, rencana kedepan dari perkumpulan ini adalah mengadakan pameran sebagai bukti kepada publik. Dan sebagai bukti eksistensinya maka diadakan pameran yang pertama dengan tema “Fredoom Ekspression On The Road”. Pameran yang pertama dari IPBS dilaksanakan tidak lazim seperti pameran pada umumnya. Dimana pameran ini digelar di trotoar jalan raya, dengan perlengkapan seadanya dan mungkin tidak layak untuk dapat dikatakan sebuah pameran. Kegiatan pameran tersebut cukup memberi kejutan bagi  masyarakat Bumiayu, publik tidak menyangka setelah beberapa tahun tidak ada kegiatan seni, tiba-tiba saja ada pameran lukisan di trotoar yang tidak biasa bahkan mungkin belum pernah ada di Bumiayu. Karya-karya yang ditampilkan dalam pameran ini antara lain realistik, naturalis, dekoratif, surealisme, kaligrafi sampai abstrak. 

Para panitia pameran "Bumi Art You" sedang berkumpul di stand pameran
Pameran tersebut sebagai sinyal akan bangkitnya dunia seni rupa di Bumiayu, walaupun masih kurang dari layak. Dengan adanya pameran tesebut masyarakat Bumiayu beranggapan bahwa seniman bumiayu memang masih ada dan mencoba untuk bangkit kembali dari tidur panjangnya. Pada tahun 2007 bulan Agustus, IPBS mengadakan pameran lagi yang diberi judul “Bumi Art You”. Pameran yang kedua ini dilaksankan di trotoar lagi dengan konsep pameran yang berbobot dan lebih baik. Pameran Bumi Art You ini menampung karya seniman dari kota Bumiayu dan kota lainnya seperti dari Banyumas, Temanggung, Yogyakarta, dan Jakarta. Dan pameran ini menampilkan karya-karya dengan berbagai macam aliran, mulai dari realis, naturalis, kaligrafi, surealisme, ekspresionisme, abstrak hingga kontemporer. Dengan banyaknya jenis lukisan yang ditampilkan, secara tidak langsung memberikan wawasan baru bagi masyarakat Bumiayu. Dan pameran ini cukup mendapat sambutan hangat dari masyarakat, ini dibuktikan dengan ramainya apresiasi yang diberikan oleh masyarakat.
Panitia sedang berdiskusi dengan pengunjung pameran "Bumi Art You"


Yang jadi pertanyaan, kenapa IPBS mengadakan pameran di trotoar? Hal ini dipengaruhi oleh banyak faktor,salah satunya adalah tidak adanya gedung kesenian di kota tersebut. Pemerintah setempat seolah tutup mata terhadap acara-acara kesenian, terutama seni rupanya. Faktor lainnya adalah apresiasi masyarakat Bumiayu masih sangat minim terhadap seni rupa, sehingga pameran-pameran tersebut dilaksanakan di trotoar. Sehingga diharapkan masyarakat dapat dengan mudah mengakses dan melihat langsung, tanpa harus mengeluarkan biaya yang banyak. Memang dengan diadakan pameran di trotoar tersebut, masyarakat dengan antusias mengapresiasi karya-karya yang dipamerkan.

Sampai pada tahun-tahun berikutnya, IPBS sering diundang untuk mengikuti pameran di acara Bumiayu Fair, dengan mengisi stand dari dinas pendidikan dan kebudayaan. Setelah mengadakan pameran-pameran yang cukup banyak, IPBS vakum selama kurang lebih tiga tahunan, dan selama vakum tersebut tidak ada kegiatan kesenian di Bumiayu. Hingga pada akhirnya tahun 2011, IPBS mengadakan pameran yang diadakan di stasiun Bumiayu. Pameran ini bekerjasama dengan PT.KAI, dengan mengangkat tema “Sebuah Ekpresi Cinta Kereta Api”. Dalam pameran ini setiap seniman diwajibkan, menampilkan salah satu karya dengan tema kereta api. Dan karya-karya yang ditampilkan cukup bervariasi dengn penambahan konsep karya tentang kereta api. Pameran ini hanya diikuti oleh para anggota IPBS, tanpa mengundang para seniman di luar daerah, dikarenakan kurangnya persiapan. Walaupun pameran tersebut kurang maksimal dalam persiapan, tetapi mendapat sambutan yang cukup bagus dari masyarakat. 
Pameran "sebuah ekspresi cinta kereta api" IPBS,di stasiun Bumiayu
Perkumpulan seniman Bumiayu yang tergabung dalam IPBS, bisa dikatakan cukup aktif mengadakan pameran seni rupa. pameran-pameran yang diadakan Alik Setiawan dan kawan-kawannya, dilaksanakan secara mandiri tanpa bantuan dana dari pemerintah setempat. Pendanaan dalam pameran-pameran tersebut diperoleh dari sumbangan masyarakat Bumiayu dan sponsor. Disini peran pemerintah daerah jelas kurang memperhatikan dunia kesenian, khususnya seni rupa. Sebagai catatan saja, dari seluruh perkumpulan yang pernah ada, mereka bergerak secara mandiri. Bantuan dana dari pemerintah daerah tidak pernah sampai ke tangan penggiat seni, hal ini menjadi semacam polemik antara para seniman dan pemerintah daerah. Dunia kesenian dikota Bumiayu memang jauh dari apa yang diharapkan para penggiat seni. Pemerintah, dalam hal ini adalah Dewan Kesenian Daerah (DKD) seolah kurang memperhatikan kegiatan berkesenian.

Bumiayu, sebuah kota kecil di ujung selatan kabupaten Brebes ternyata menyimpan sejarah tentang dunia seni. Bumiayu memang tidak identik dengan dunia seni, imej yang menempel di kota tersebut adalah Kota Santri. Tetapi fakta memang ada, ternyata kota kecil tersebut menyimpan insan-insan seni yang gigih dalam memperjuangkan nilai-nilai kesenian. Ini ditandai dengan kemunculan sanggar seni dan kelompok seni, yang tetap konsisten dengan mengibarkan panji-panji kesenian mereka. Para penggiat seni mencoba mengenalkan seni rupa, menggiatkan dunia kesenian dikota mereka, mencoba membuat pandangan baru dalam berkesenian. Walaupun disisi lain komponen-komponen kesenian tidak mendukung atau bahkan tidak ada, untuk dapat mendukung perjuangan mereka. Sehingga seniman yang terbagung dalam kelompok seni tidak dapat mengekspresikan jiwa seni mereka secara maksimal,dan bahkan kelompok seni tersebut berumur pendek. Tetapi penulis yakin, bahwa seniman Bumiayu memang tidak kenal menyerah, tetap semangat, dan terus bergerak untuk mewujudkan nilai kesenimanannya. Dan berusaha membawa nama daerahnya di kancah seni nasional atau bahkan internasional. Mungkin itu sedikit catatan singkat tentang perjalanan para pelaku seni yang ada di Bumiayu.

Di tulis oleh ; Alik Setiawan S.sn.
Yogyakarta, 24 Oktober 2011



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar