Senin, 22 Juli 2013

Eksotisme Kaligua di Bumiayu

 Eksotisme Kaligua di Bumiayu

Warga di kawasan Brebes Selatan tentunya tidak asing lagi dengan Kaligua, ya sebuah tempat wisata agro di kaki Gunung Slamet. Kaligua mempunyai eksotisme alam yang selalu menggoda untuk dikunjungi, hawa dingin pegunungan yang sejuk membuat kita merasakan ketenangan yang tidak kita dapatkan di suasana kota. Mata kita akan dimanjakan secara visual, dengan hamparan gunung, lembah hijau, perkebunan sayur, pepohonan pinus, dan kebun teh yang sangat luas. Keberadaan kawasan kebun teh kaligua sudah ada sejak penjahahan kolonial Belanda. Pemerintah kolonial Belanda melalui divisi dagangnya yaitu V.O.C (Vereenigde Oost Indische Compaignie), mengeruk kekayaan alam bumi persada berupa rempah-rempah dan hasil buminya. Hal itu berlangsung cukup lama, dan seluruh wilayah Nusantara tidak luput dari usaha Belanda untuk mengeruk kekayaan alamnya. Hal itu pula berlaku di wilayah Brebes, hingga terciptanya perkebunan teh kaligua.

Sekilas Sejarah Kebun Teh Kaligua.
Keberadaan kebun teh di wilayah Brebes tepatnya di kecamatan Paguyangan, tentunya memiliki unsur historis yang menarik untuk dipelajari. Kesejarahan tersebut sejalan dengan proses kemerdekaan bangsa Indonesia, yang dulunya benama Hindia Belanda. Tanah Hindia merupakan tanah yang subur di negeri timur, negeri timur dimata orang Barat mempunyai kekayaan alam yang berlimpah. Dari mulai hasil bumi, rempah-rempah, batu mulia, minyak dan warisan budaya Hindu-Budha. Unsur alam dan budaya tersebut ternyata membuat bangsa Eropa berlabuh di tanah nusantara. Kedatangan bangsa Eropa (Inggris, Belanda) tersebut memang bermaksud untuk menjajah dan mengeksploitasi kekayaan alamnya. Disamping juga sebagai bukti untuk menunjukan keperkasaan suatu Bangsa tersebut. Bangsa Eropa yang mempunyai kebiasaan menaklukan daerah-daerah baru, dengan segala cara berusaha menaklukan daerah jajahan tersebut. Cara-cara yang kasar dan kadang tidak manusiawi dilakukan oleh Penajajah, untuk dapat mencapai tujuan guna menghasilkan kekayaan bangsanya sendiri.
Diwilayah Jawa hampir keseluruhannya telah dijajah oleh kolonial Belanda, karena itu di Jawa telah dijadikan pusat eksploitasi V.O.C yang sangat menguntungkan. Untuk dapat mengeruk keuntungan secara ekonomis, segala cara dihalalkan untuk dapat mewujudkannya. Tak terkecuali kekerasan dan kerja paksa dilakukan oleh pemerintah kolonial terhadap rakyat pribumi. Masyarakat pribumi merasakan penderitaan yang sangat panjang dan menyiksa. Begitu pula yang terjadi di kawasan Brebes, mengalami sistem kekerasan yang dilakukan pemerintah Belanda. Daerah kabupaten Brebes pada waktu itu merupakan daerah yang ramai walaupun masih banyak hutannya. Daerah pegungungan seperti Bumiayu dan sekitarnya, pada jaman pelaksanaan tanam paksa (cultuurstelstel) banyak ditanam  kopi, terutama di wilayah Paguyangan.
Jadi secara historis wilayah Brebes Selatan dulunya banyak ditanami kopi, tanaman teh baru dibudidayakan sekitar tahun 1837 di seluruh Jawa pada waktu itu. Sistem yang digunakan oleh Belanda dalam membuka lahan dan perkebunan dengan tanam paksa (cultuurstelstel). Sistem tanam paksa sendiri pertama kali diterapkan oleh Gubernur Jendral J. Van Den Bosch, yang diberlakukan sejak tahun 1830. Konsep ini sungguh jitu untuk mengeksploitasi ekonomi yang maksimal dalam dalam kondisi sosial ekonomi Jawa pada masa itu. Sistem tanam paksa sendiri memadukan unsur-unsur tradisional, yaitu menguasai tanah dan tenaga kerja lewat para penguasa pribumi, menggunakan paksaan untuk menanam tanaman ekspor kepada rakyat petani Jawa, dengan unsur-unsur modern yaitu manajemen produksi dan pemasaran di bawah monopoli pemerintah Kolonial. Tetapi pemerintah kolonial Belanda pada waktu itu lebih mengutamakan komoditas tanaman kopi dan tarum. Tanaman teh, tembakau, dan jati hanya komoditas tanaman kelas dua.

Tanaman yang mempunyai komoditi adalah kopi, sehingga di wilayah Brebes juga banyak ditanami kopi khususnya di wilayah selatan. Budidaya tanaman teh sendiri di picu oleh keberhasilan Koloni Inggris yang mengeksploitasi teh di Srilangka dan Assam di India bagian Timur, membuat pemerintah Hindia Belanda tertarik untuk mengembangkannya di Jawa. Di wilayah Brebes tentunya dibudidayakan tanaman teh di daerah pegunngan, karena salah satu syarat tanaman teh dapat tumbuh adalah di daerah pegunungan. Dan wilayah di Brebes yang terdapat pegunungan adalah di Brebes Selatan, tepatnya di daerah Paguyangan di kaki gunung slamet. Perkebunan teh Kaligua didirikan tahun 1899 oleh Cultuur Onderneming di Negeri Belanda, untuk perwakilan di Indonesia ditunjuk Van John Pletnu & Co yang berkedudukan di Jakarta. Tetapi dalam perkembangannya hingga tahun 1901 perusahaan ini di beli dan di kelola pengusaha Van de Jong. Dan pada masa pendudukan Jepang sekitar tahun 1942, pengelolaan kebun teh di ambil alih oleh Jepang.
Syarat penanaman teh tidak jauh dengan kopi, yaitu menggunakan tanah belukar atau tegal di lereng gunung atau perbukitan. Penanaman dan pemeliharaan kebun teh dilaksanakan dengan kerja-wajib oleh kuli kenceng seperti halnya kopi. Dapat dibayangkan ketika dulu sebelum ada kebun teh Kaligua, adalah hutan belantara dengan pepohonan yang besar dan rimbun. Sehingga untuk membuka lahan untuk perkebunan teh, membutuhkan pekerja untuk dapat menebang pohon-pohon di hutan. Melalui kekuasaan bupati inilah rakyat dikerahkan  untuk menebang pohon-pohon di hutan-hutan. Kerja-wajib tertua (yang diepergunakan oleh penguasa kolonial) ini disebut kerja Blandhong. Beratnya kerja-wajib blandhong sering menyebabkan rakyat melarikan diri ke kabupaten lain agar terbebas dari beban tersebut. Itulah sedikit cerita tentang para pekerja yang membuka lahan untuk budidaya tanaman teh di tanah Jawa tak terkeculai di Kaligua di Paguyangan.
Untuk melengkapi produksi teh tersebut, maka dari itu didirikanlah pabrik pengolahan teh untuk dapat dijadikan komoditas ekspor. Di Kaligua sendiri pendirian pabrik pengolahan teh tersebut, dikerjakan oleh para rakyat pribumi yang diperintah oleh pemerintah kolonial. Konon pada saat pembangunan pabrik, para pekerja membawa ketel uap dari Paguyangan menuju Kaligua ditempuh dalam waktu 20 hari. Peralatan tersebut dibawa dengan rombongan pekerja yang berjalan kaki naik sepanjang 17 km. Selama proses pengangkutan tersebut, para pekerja pada saat istirahat dihibur oleh kesenian ronggeng Banyumas. Sampai sekarang setiap memperingati HUT pabrik Kaligua setiap tanggal 1 Juni selalu ditampilkan kesenian tradisional tersebut. Dapat dibayangkan pekerjaan tersebut pada jaman itu belum ada transportasi modern, yang dapat mempermudah dan mempercepat suatu pekerjaan. Sehingga pekerjaan berat dikerjakan dengan tenaga manusia yang membutuhkan tenaga ekstra dan waktu yang cukup lama. Dengan pola kerja yang berat tersebut akhirnya kebun teh Kaligua dan sarana pendukungnya ada dan lestari sampai sekarang. Dan kebun teh Kaligua sekarang sudah menjadi magnet wisata yang potensial di wilayah Brebes Selatan, yang selalu ramai dikunjungi para wisatawan dari berbagai daerah.

Eksotisme Kaligua.
Hasil peninggalan kolonial Belanda tersebut sampai sekarang masih tetap terjaga, dan menjadi salah satu objek wisata andalan yang dipunyai oleh Kabupaten Brebes. Letak geografis dari Perkebunan teh Kaligua berada pada ketinggian 1200 - 2050 m dpl. Kondisi udara sangat dingin, berkisar 8° - 22° C pada musim penghujan dan mencapai 4° -12° C pada musim kemarau. Jadi tidak heran kalau wilayah perkebunan teh ini hampir selalu diselimuti kabut tebal. Perkebunan teh tersebut terletak di lereng barat Gunung Slamet (3432 m dpl) yang merupakan gunung tertinggi kedua di pulau jawa setelah Gunung Semeru. Dari salah satu tempat di perkebunan teh Kaligua kita dapat menikmati keindahan puncak gunung Slamet dari dekat, melalui puncak Sakub.
Untuk dapat mencapai ke pegunungan Kaligua dapat ditempuh dengan kendaraan umum atau dapat menggunakan sepeda motor. Lokasi wisata agro Kaligua terletak sekitar 10 kilometer dari arah kota Kecamatan Paguyangan, atau sekitar 15 kilometer dari Bumiayu. Jalur transportasi dapat ditempuh melalui jalur utara dari Brebes atau Tegal-Bumiayu-Kaligua, Cirebon-Bumiayu-Kaligua. Dan jalur selatan dari Purwokerto-Paguyangan-Kaligua, dimana transportasi jalur tesebut selalu ramai karena berada di jalur Provinsi. Semua transportasi umum tersebut kemudian harus berhenti di pertigaan Kretek, yang kemudian dapat dilanjutkan untuk dapat mencapai tujuan dengan menggunakan ojek atau anggkutan pedesaan. Bagi yang menggunakan kendaraan pribadi tentunya dapat lebih mudah untuk dapat sampai tujuan tanpa harus naik turun dari transportasi umum.
Ketika sudah berada di jalan utama yang menuju ke Kaligua, jalanan sudah mulai naik dan di kanan-kiri jalan terdapat rumah penduduk, sawah, sungai, pegunungan, lembah, dan hutan pinus. Jalan sudah mulai naik dan berkelok-kelok dan hawa pegunungan sudah mulai terasa. Akses jalan utama tersebut kondisinya masih mulus, sehingga mempercepat untuk dapat sampai ke lokasi. Ketika sudah memasuki desa Pandansari akan ditemui perkebunan sayuran, sayur yang ditanam di daerah tersebut berupa kentang, kobis, rangkok, dan sayuran lainnya. Hamparan hijau ladang sayur di kelilingi pepohonan rimbun memanjakan penglihatan kita, ditambah hawa dingin pegunungan yang sejuk membuat kita bisa berlama-lama menyelami keindahannya. Dari desa Pandansari naik ke atas lagi akan ditemui Telaga Ranjeng yang masih menyimpan banyak misteri dan cerita mistik.
Telaga Ranjeng yang terletak di antara desa Pandansari dan desa Taman, berada di tepi jalan utama sebelah kiri jalan. Untuk dapat masuk ke area Telaga Ranjeng kita tidak perlu berjalan jauh, hanya perlu memarkir kendaraan kita diarea tersebut dan kemudian dapat langsung masuk ke area Telaga tersebut. Telaga Ranjeng yang masih terjaga keasriaannya dikelilingi pohon yang sudah berusia ratusan tahun. Sehingga area tersebut terkesan rimbun karena banyak pepohonan dan tumbuhan semak yang tumbuh disekitar telaga tersebut. Yang menjadi istimewa dan unik adalah di telaga Ranjeng terdapat ribuan ekor ikan lele yang akan muncul dan mendekat ketika diberi makan. Untuk asal-usul dari ribuan ikan lele tersebut masih misteri, keberadaan ikan lele di telaga tersebut konon sudah ada sejak dulu. Menurut cerita dari warga sekitar jika kita mengambil ikan lele tersebut maka akan terjadi  bencana atau malapetaka. Memang dalam masyarakat Jawa terdapat hal-hal yang tidak diperbolehkan atau yang disesbut dengan pamali. Pamali dituturkan oleh para nenek monyang kita, supaya kita memerhatikan dan mematuhi peraturan yang ada. Seperti ketika berada ditempat yang masih asing atau sakral, kita dituntut untuk mematuhi aturan yang ada dan tidak merusak alam. Sehingga terjadi keseimbangan antara mikrokosmos dan makrokosmos, dengan terjaganya kondisi alam sekitar kita.
Dan biasanya pamali yang disampaikan oleh nenek monyang dalam bentuk metaphor, sehingga kita butuh waktu untuk dapat menafsirkannya. Tetapi pada intinya tujuannya adalah untuk kebaikan kita dan lingkungan sekitar atau alam dimana kita tinggal. Eksotisme dan keasrian Kaligua memang perlu kita jaga dan lestarikan, salah satunya adalah dengan berwisata dan mematuhi aturan yang ada. Setelah puas menikmati keindahan telaga Ranjeng yang masih menyimpan misteri, perjalanan dapat diteruskan menuju ke kebun teh kaligua yang hijau dan luas. Perkebunan teh Kaligua merupakan kawasan wisata agro dataran tinggi yang terletak Kaligua di Desa Pandansari. Kebun Kaligua dikelola oleh PT. Perkebunan Nusantara IX (Persero) Jawa Tengah dan merupakan diversifikasi usaha untuk meningkatkan optimalisasi aset perusahaan dengan daya dukung potensi alam yang indah. Hasil pengolahan perkebunan teh Kaligua adalah berupa produk hilir teh hitam (black tea) dengan merk “Kaligua” dalam kemasan teh celup dan serbuk. Jadi wisatawan yang berkunjung dapat langsung menikmati hangatnya teh hitam (black tea) Kaligua atau dapat membeli sebagai oleh-oleh.
Perkebunan teh yang hijau dan sangat luas tersebut tidak selesai kalau dijelajah selama satu hari. Luas dari kebun teh Kaligua yang mencapai luas 607,25 Ha, dilengkapi dengan berbagai fasilitas pendukung untuk berwisata. Fasilitas pendukung untuk menjaga kebersihan lingkungan di area kebun teh, disediakan tempat sampah khusus yang dibagi menjadi dua yaitu sampah organik dan non-organik. Jadi ketika berkeliling kebun teh jagalah kebersihan dengan membuang sampah pada tempat yang telah disediakan. Untuk fasilitas yang lain seperti pos atau gasebo untuk istirahat terdapat di area kebun teh, sambil istirahat sekaligus dapat menikamati indahnya kebun teh yang hijau dan luas. Fasilitas lain seperti penginapan atau vila juga tersedia, untuk mereka yang ingin berlama-lama menikmati alam pegunungan yang indah. Di area kebun teh juga dapat dijadikan untuk camping, dan juga terdapat fasilitas untuk kegiatan outbond serta lapangan untuk kegiatan yang bersifat kelompok.
Selain fasilitas yang disediakan oleh pengelola dari dinas pariwisata, di area kebun teh Kaligua masih terdapat situs-situs bersejarah yang tidak boleh kita lewatkan. Situs seperti Gua Jepang, Tuk Bening, yang berada di balik bukit kebun teh. Gua Jepang merupakan salah satu situs sejarah peninggalan Jepang ketika menjajah Indonesia. Gua Jepang secara fungsional sebagai tempat persembunyian tentara Jepang ketika ketika selesai berperang dan sebagai tempat untuk mengatur siasat perang.  Gua Jepang memang terletak di daerah pegunungan, peninggalan Jepang berupa gua persembunyian hampir dapat di temui di seluruh pegunungan di Jawa. Untuk dapat masuk ke gua Jepang di area Kebun teh Kaligua harus didampingi oleh petugas. Karena kondisi gua yang gelap, lembab, sempit, dan becek, harus mempertimbangkan unsur keselamatan. Tak jauh dari gua Jepang terdapat mata air, yaitu Tuk Bening dengan airnya yang jernih dan segar. Konon menurut cerita, sumber air ini menjadi cikal bakal nama Kaligua.
Di aera kebun teh tersebut juga terdapat makam para sesepuh, yang dulu membuka lahan perkebunan Kaligua. Makam tersebut antara lain makam Van Dee Jong, Mbah Joko, Aki Soka, dan Aki Waslim. Kebun teh Kaligua selalu menarik untuk dikunjungi, dengan berbagai keindahan alamnya dan situs-situs bersejarahnya. Kebun teh Kaligua merupakan wisata andalan dari Kabupaten Brebes, kita sebagai warganya hendaknya berusaha menjaga dan melestarikan warisan sejarah tersebut. Sehingga wisata dengan panorama alam yang ada di wilayah kabupaten Brebes dapat terus lestari. Maka dari itu kita dituntut aktif dalam melestarikan wisata alam dan berwisata dengan sadar akan peraturan. Dengan berwisata dan mematuhi aturan yang ada, diharapkan dapat terjadi keseimbangan antara alam dan manusianya.[]
Referensi :
·        Sejarah Kelahiran Brebes, Pemkab Brebes, 2011.
·        Eksploitasi Kolonial Abad XIX, A.M. Djuliati Suroyo, 2000.
·        Wikipedia dan website terkait.










  












Tidak ada komentar:

Posting Komentar