Jumat, 16 November 2012

Persoalan Kontribusi Dalam Dunia Seni di Bumiayu


PERSOALAN KONTRIBUSI DALAM DUNIA SENI DI BUMIAYU

Dalam dunia kesenian memang didukung oleh beberapa elemen, yang menjadi satu kesatuan atau unity dalam rangka menjadikan keutuhan dalam seni. Seniman atau artist tidak mungkin sendiri dalam mekspresikan sebuah karya seninya, semua itu membutuhkan dukungan dari semua elemen tersebut. Sebelum membahas permasalahan kontribusi dalam dunia seni sebaiknya kita harus tahu terlebih dahulu, siapa saja yang turut berperan dalam membangun iklim berkesenian. Seniman atau musisi tidak mungkin sendiri menjalankan seninya. Intinya tulisan saya ini menjawab dari sebuah perdebatan yang pernah terjadi dalam sebuah komunitas virtual, yang saya rasa masih subjektif(banget) dalam membahas sebuah persoalan. Menurut hemat saya dari pada berdebat yang orang-orang nya masih belum menyadari arti penting sebuah diskusi. Dimana sebuah diskusi akan mengasah dan mempertajam pemikiran kita, melahirkan ide-ide baru, mendapatkan ilmu dari dari temen diskusi yang tidak tahu jadi tahu, yang sudah tahu bukan berarti sok tahu. Ketika semua orang sudah menyadari peranan atau kapasitasnya dalam sebuah komunitas, maka yang terjadi bukan lah adu mulut yang berujung pada penghinaan, cekcok, apalagi sampai pencemaran nama baik, sungguh keadaan yang tidak mencerminkan kearifan dalam pemikiran atau masyarakat yang sadar pendidikan.

Konstruksi Dalam Dunia Kesenian.
Menjawab dari persoalan kontribusi dalam sebuah dunia seni atau komunitas seni, seperti apakah bentuk kontribusi seseorang dalam kesenian. Sebelum membahas lebih jauh masalah kontribusi sebaiknya kita harus mengetahui terlebih dahulu kontstruksi seni yang turut serta dalam membangun dunia seni. Konstruksi dalam dunia seni secara garis besar di bagi menjadi empat bagian yaitu
1.      Seniman dan karya.
2.      Masyarakat penyangga.
3.      Lembaga-lembaga sosio kultural.
4.      Mediator teknis (wacana).
Demikian ada empat pilar konstruksi dalam dunia seni, semuanya menjadi satu kesatuan dalam dunia seni yang saling melengkapi dan mengisi dalam rangka menjadikan iklim berkesenian yang kondusif dan seimbang. Jadi seniman atau musisi tidak berdiri sendiri dalam melahirkan atau mengekspresikan seninnya, semua itu membutuhkan dukungan dari semua komponen tersebut.
Komponen utama dalam dunia kesenian adalah artist atau seniman, semua ini berlaku untuk semua bentuk seni tidak hanya seni rupa. lahirnya sebuah karya seni tentunya dari tangan sang seniman, dari hasil pemikiran, ide, imajinasinya akan menghasilkan sebuah karya seni yang artistik dan indah. Seniman akan menghasilkan lukisan yang tentunya akan dipamerkan atau dijual melalui galeri-galeri. Karya musisi akan didengar oleh audiens, seniman teater akan menghasilkan pertunjukan yang kan dipentaskan dan ditonton oleh para masyarakat. Karya seni itu tentunya akan disajikan atau dipamerkan kepada publik. Seniman atau musisi tidak mungkin membuat karyanya untuk kepentingan sendiri, karena seni itu pada dasarnya mempunyai fungsi untuk kehidupan atau bersifat sosial. Jadi seni selain berfungsi untuk mencapai kepuasaan individual, juga berfungsi secara sosial untuk memberikan stimultan positif dalam kehidupan manusia.
Komponen yang kedua adalah masyrakat penyangga, dalam masyarakat penyangga dibagi lagi lebih spesifik menjadi empat bagian. Yang termasuk masyarakat penyangga adalah comunal suport, religion suport, goverment suport dan comercial suport. Bagian pertama yang termasuk masyarakat penyangga yang pertama adalah comunal suport atau kelompok pendukung. Siapa saja yang termasuk dalam kelompok Comunal Suport , yaitu orang atau individu yang terdekat dalam ruang lingkup si seniman atau musisi. Dalam konteks ini dapat disebutkan antara lain, teman dekat, asisten, rodhie, crew, audiens, dan kelompok spesialis yang dekat dengan seniman atau musisi. Kelompok pendukung ini berperan penting dalam membantu terciptanya sebuah karya seni, terkadang memang seniman atau musisi tidak dapat bekerja sendiri dan membuthkan bantuan orang lain. kelompok masyarakat penyangga selanjutnya adalah Religion Suport, dalam masyarakat penyangga terdapat masyarakat agama. Hal ini secara historis dapat ditelusuri sejak peradaban Renaisans, diamana pada waktu itu peranan gereja sebagai pendukung penuh dalam sebuah penciptaan karya seni sang seniman. Seniman sering diminta oleh pihak gereja untuk melukis cerita dari Al kitab di langit dan dinding gereja. Pada saat sekarang dapat dilihat peran masyarakat agama adalah pada event-event yang bernuansa religius. Dalam seni rupa peran masyarakat agama bersinergi denga karya-karya yang religius yang terpajang pada tempat-tempat iabadah.
Selanjutnya ada Goverment Suport atau dapat disebut juga masyarakat modern, siapa saja yang tergolong masyarakat modern. Masyarakat modern yaitu para intelektual, para pelajar, mahasiswa, audiens seni, kolektor seni dan penulis. Mereka inilah yang tergolong masyarakat modern, kenapa disebut masyarakat modern karena mereka tidak hanya sebagai penikmat seni yang pasif mereka intens dan kritis dalam mengapresiasi karya seni. Kekritisan dalam penilain akan menimbulkan sudut pandang yang berbeda dan terkadang pemikiran mereka manjadi bahan pertimbangan dalam penciptaan karya seni selanjutnya. Kelompok  terakhir yang tergolong dalam masyarakat peyangga adalah Comercial Suport. Kelompok ini dapat disebut juga sebagai kelompok masyarakat yang mempunyai peranan nilai kapital dan jaringan (sosial). Yang tergolong dalam masyarakat kapital dan sosial antara lain, kolektor seni, sponsoship, galery seni, studio rekaman,  event organizer, industri dan media. Mereka inlah yang ikut membantu dalam memasarkan sebuah karya seni dari sang seniman atau musisi. Disamping menghasilkan nilai kapital, kelompok comercial suport seperti media tentunya akan membuat karya dari si seniman akan lebih dikenal oleh masyarakat luas. Jadi masyarakat penyangga merupakan bagian penting yang tidak dapat dibaikan peranannya dalam perhelatan dunia seni secara umum.
Konstruksi seni yang ketiga adalah lembaga-lembaga sosio kultural, adalah lembaga atau instansi yang mendukung dan menjalankan program-program seninya secara konsisten. Lembaga-lembaga sosio kultural dibagi menjadi tiga lagi yaitu lembaga kebudayaan pemerintah, lembaga kebudayaan swasta dan lembaga kebudayaan/pendidikan kesenian. Lembaga sosio kultural pemerintah seperti taman budaya, dinas kebudayaan, dewan kesenian, museum, dan perpustakaan, lembaga swasta antara lain museum, sanggar seni, art space, galery dan kelompok kesenian. Dan lembaga kebudayaan pendidikan antara lain sekolah, sanggar seni, kelompok belajar, perpustakaan dan lainya. Semua ini turut serta dalam membangun satu fondasi yang bernama kesenian. Keberadaan lembaga sosio kultural merupakan elemen penting yang tidak dapat diabaikan keberadaannya.
Konstruksi seni yang terakhir adalah mediator teknis (wacana), yang termasuk dalam mediator teknis antara lain kurator, kritikus dan pengamat seni. Mediator teknis merupakan elemen pendukung terakhir dalam ranah seni, mereka mempunyai sudut pandang yang berbeda dalam menampilkan seni ke publik. Mereka mengkritisi, mengkurasi, mengamati karya seni, yang kemudian diolah ke dalam wacana ditujukan kepada publik. Jadi sebuah karya seni tidak hanya berhenti sampai di galery, panggung, music shop, karya seni akan dikritik dan diamati oleh publik. Dalam konteks ini semua individu dapat menjadi kritikus dan pengamat seni, walaupun memang sudah ada bagian khusus yaitu para kritikus dan pengamat seni. Dalam konteks ini saya berpegang pada teori “The Death of Author” , yaitu matinya sang pengarang atau pencipta. Sang seniman atau pengarang sebagai unit yang memproduksi makna telah berlalu, proses pemaknaan dapat diproduksi oleh para pemabaca atau audiens. Ketika sebuah karya seni hadir ke hadapan publik, makna yang telah diusung oleh sang seniman atau pencipta  akan hilang dan akan lahir makna baru dari sang pembaca (reader). Sang pembaca atau apresiator lahir sebagai “kreator makna” baru. Dan bagaimanapun proses tafsir atau penciptaan makna akan diserahkan kepada pembaca atau penikmat sebuah karya seni. Sehingga karya seni yang lahir tidak cukup berhenti hanya sampai disitu saja, semua orang dapat menyelami sebuah karya seni dan melahirkan makna- makna baru. Sebuah karya seni yang sudah tercipta oleh sang seniman akan dikonstruksi maknanya oleh audiens, sehingga yang lahir adalah makna-makna baru. Konsep ini menyingkirkan arbirternes sebuah teks atau makna yang telah diciptakan oleh unit produksi makna yaitu seniman atau musisi.

Kontribusi Individu di Dunia Seni  Bumiayu.
Itulah beberapa konstruksi seni yang membangun sebuah fondasi yang bernama rumah seni. Jadi kesemuanya itu ikut berperan dan saling menjalin untuk sebuah satu pencapaian dan saling bersinergi satu dengan yang lain. Dapat dikatakan seniman atau musisi yang dapat dikatakan sebagai center sign tidak mungkin berdiri sendiri dalam ranah dunia kesenian. Lantas apa relevansi itu semua dengan permasalahan kontribusi dalam dunia seni. Sebenarnya yang menjadi pokok bahasan tulisan saya ini, adalah untuk meluruskan kekeliruan yang pernah terjadi dan sering saya dengar di lingukungan komunitas seni di Bumiayu. Kata kontrubusi sendiri mempunyai arti yaitu sumbangan, sumbangan dalam konteks ini apakah harus berupa materi karya seni, wujud fisik, atau tak berujud. Nah, disini dipertanyakan apa subtansi dari sebuah kontribusi dari seorang atau individu. Di atas telah dijelaskan panjang lebar konstruksi dunia seni, dimana pada intinya semua orang itu mempunyai kontribusi dalam dunia kesenian atau komunitas walaupun dalam porsi yang berbeda.
Jadi semua individu dalam dunia seni semuanya mempunyai kontribusi, semuanya tertampung dalam konstruksi seni yang akan saling melengkapi. Jadi tidak ada suatu pernyataan yang yang tidak tepat atau keliru dalam sebuah komunitas seni atau dunia berkesenian. Tidak ada pernyataan yang kurang lebihnya seperti ini, jangan Cuma omongan saja!! Pinternya Cuma ngomong saja!! Jangan Cuma pinternya mengkritik saja!. Permasalahanya bukan Cuma omong atau kritik saja, jika kita tinjau lebih jauh bentuk omongan dari seorang individu dapat berupa masukan, ide, pemikiran, konsep, atau paradigmas. Jangan sampai yang merasa mempunyai posisi yang vital dalam komunitas  seni atau dunia kesenian mengklaim individu tersebut banyak omong, sok tau, atau bullshit. Sungguh pemahaman yang pendek dan dangkal dalam menyikapi sebuah omongan atau ide. Kalau begitu yang terjadi berarti mereka yang belum memahamai substansi sebuah kontribusi.
Apakah semua individu dalam dunia kesenian harus menjadi pelaku utama, harus menjadi seniman, musisi, aktris dan aktor, tentu tidak kan!!. Sebuah pemahaman yang keliru jika ada yang mengatakan, akh kamu kontribusinya apa, Cuma omong doang. Permasalahannya ketika omongan itu menghasilkan paradigma atau konsep baru kenapa tidak, dan tentunya omongan tersebut ditindaklanjuti dengan perbuatan. Misalkan dalam komunitas musik, semuanya menjadi musisi dan semuanya pentas di panggung, lalu siapa yang akan menonton dan mengkritisi, siapa yang akan menilai, siapa yang akan mengapresiasi. Di atas telah disebutkan  ada masyarakat penyangga yaitu audiens yang akan mengapresiasi dan menonton pertunjukan mereka. Apakah semua itu bukan kontribusi, apakah kehadiran seseorang dalam menyaksikan atau menonton pertunjukan musik itu bukan suatu kontribusi. Lalu kontribusi macam apa yang diminta, apakah individu itu harus main, harus pentas, harus main gitar, harus nyanyi, harus jadi pelukis dll, tentu tidak kan!!. Kontribusi dalam komunitas musik atau seni lainnya, mengapresiasi atau menyumbangkan pemikiran atau kritikan itu sudah merupakan sebuah sumbangan dalam bentuk yang berbeda dan porsi yang berbeda pula. Mengkritik dan mengamati merupakan bentuk kontribusi yang secara sadar akan menjadi bahan pertimbangan sang seniman atau musisi.
Kenapa saya menulis sedetail itu, karena saya pernah mendengar sendiri atau melihat tulisan seseorang dalam sebuah komunitas seni di Bumiayu, yang dominan menilai bahwa kontribusi itu harus dengan porsi yang lebih atau harus menjadi aktor utama. Dalam dunia seni semua mempunyai posisi yang berbeda-beda, tidak harus menjadi pelaku utama. Peran masyarakat penyangga dan wacana teknis dalam hal ini adalah kritikus dan pengamat mempunyai peranan yang tidak dapat dipandang sebelah mata. Jadi ketika suatu karya seni sudah hadir ke hadapan publik, maka publik akan menilai dan mencari makna yang tersembunyi dalam karya tersebut. Semua audiens berhak menkonstruksi makna yang telah diciptakan oleh sang seniman, sebagaimana konsep the death of author, semua bebas menacari makna dalam sebuah karya seni, semuai bebas mengkritisi karya seni yang hadir.
Sebuah kritikan dan pengamatan dari individu dalam komunitas merupakan sebuah kontribusi, begitu pula pemikiran atau diskusi dalam sebuah komunitas. Kontribusi tidak harus tampil di panggung utama harus tampil sebagai pelaku utama, tentunya tidak kan. Jadi sebuah pendapat yang keliru jika ada yang mengatakan pintere cuma omong tok!!. Tetapi ketika omongan tersebut ditindaklanjuti dengan tindakan, kenapa tidak. Kecenderungan sosial iklim berkesenian di Bumiayu dalam pengamatan saya, dalam sebuah komunitas jika ada individu baru dalam sebuah komunitas seni yang mempunyai paradigma yang berbeda(tidak senada dengan pemikiran kebanyakan), maka akan langsung dklaim tidak cocok dan bahkan sok tahu. Dan individu tersebut akan di anggap sebagai outsider, yang tidak akan mempunyai suara dalam komunitas atau dunia seni tersebut. Sungguh keadaan yang ironis dan tentunya tidak kita harapkan. Dalam bahasa bumiayuan ada pendapat yang sering terdengar dalam dunia kesenian atau bidang lain, lah ko bocah wingi bisa apa (lha kamu anak kemarin sore, bisa berbuat apa).
Yang jadi permasalahan bukan masalah anak kemarin sore, ketika individu kemarin sore tersebut mempunyai pemikiran atau paradigma dirasa berbeda, kenapa tidak dikaji dulu bukan langsung menghakimi, bahwa pemikiran itu salah. Tulisan saya ini mencoba memperbaiki iklim berkesenian di Bumiayu yang dirasa tidak terlalu kondusif dan kurang nayaman, atau dapat dikatakan tidak balan. Jangan sampai ada sebuah kekeliruan yang terjadi akibat dari pemahaman yang dangkal dalam menyikapi pendapat dari seorang. Jika pendapat tersebut juga merupakan sebuah kontribusi dalam memajukan iklim berkesenian atau dunia seni, kenapa tidak diklarifikasi, dikaji atau didiskusikan oleh komunitas seni tersebut. Jauhkan konsep outsider dalam sebuah komunitas, ketika pemahaman outsider itu tetap dipegang maka yang terjadi adalah stagnansi dalam sebuah komunitas seni. Semua orang berhak mengungkapkan pendapat, saran, kritik terhadap karya seni atau dalam sebuah komunitas. Bukankah dalam negara kita adalah negara demokrasi yang bebas mengungkapkan pendapat atau pemikiran. Dan lebih jauh dalam semboyan negara kita Bhineka Tunggal Ika, sudah jelas yaitu berbeda-beda tetapi tetap satu. Perbeadaan itu bukan perpecahan bung, bahkan dari perbedaan itu akan menghasilkan dinamika dan cinta. Dimana cinta itu secara substansial menyatukan dua perbedaan.
Demikian tulisan saya intinya adalah mengkritisi iklim berkesenian di Bumiayu yang dirasa tidak kondusif dan kurang nyaman. Karena Bumiayu bukanlah Jogjakarta yang berhati nyaman, saya tidak tahu moto Bumiayu, apakah bumi yang ayu atau Bumiayu berhati apa saya tidak tahu. Sebelum sesudahnya saya mohon maaf jika tulisan saya kurang berkenan dihati para petinggi-petinggi seni yang ada di Bumiayu, bukan maksud saya memojokan atau menggurui anda-anda semua. Saya menulis disini sesuai dengan kapasitas saya sebagai sesama pelaku seni, jika ada salah dalam penulisan silahkan diklarifikasi dan kemudian didiskusikan. Jika dalam penulisan ini ada yang merasa dikritik, silakan balik mengkritik tulisan saya atau karya seni saya. Demikian tulisan atau kritikan terhadap dunia berkesenian di Bumiayu, mudah-mudahan dengan hadirnya individu-individu yang kritis akan menjadikan iklim bekesenian di kota Bumiayu lebih dinamis dan berwarna. Kritis dalam paradigma dan ide merupakan bentuk kontribusi dalam porsi yang tentunya berbeda.

Salam budaya dan tetap dalam semangArt kebersamaan!.

Referensi :
·        Kuliah seni selama di ISI yogyakarta.
·        Hipersemiotika, Yasraf Amir Piliang.
·        Dunia Yang Dilipat, Yasraf Amir Piliang.
·        Membedah Mitos-mitos Budaya Massa, Roland Barthes.








Tidak ada komentar:

Posting Komentar