Sabtu, 03 November 2012

sebuah karya seni masih dihargai sebatas...

Sebuah Karya Seni Masih Dihargai Sebatas.....

Bertolak dari sebuah kota kecil yang tidak begitu cantik, bahkan dapat dikatakan kotor dan terkesan kumuh. Sebuah nama kota yang yang tidak sesuai dengan namanya, yaitu Bumiayu. Mungkin kalau secara keseluruhan, dalam artia kondisi alam di wilayah Bumiayu memang cukup ayu dan indah. Tetapi apabila kita perhatikan kondisi di jalan-jalan kota Bumiayu terkesan kotor dan semrawut, mudah-mudahan tidak berimabas ke penduduknya menjadi semrawut. Saya disini tidak akan membahas tantang kesemrawutan kota kita tercinta, kota kelahiran kita, kota kita semua yang katanya ayu. Biarlah itu menjadi tanggung jawab pihak yang berwenang, saya hanya bisa mengungkapkan dengan kata-kata. Dan saya percaya kekuatan kata-kata dapat membuat perubahan pada yang membacanya. Namun dari kesemuanya itu akan menimbulkan cerita yang beragam yang di alami oleh saya selaku penggiat seni di Bumiayu. Dengan situasi dan kondisi kota Bumiayu yang terbatas dan apa adanya, menimbulkan berbagai cerita yang menarik dalam perhelatan seni rupa yang saya alami bersama teman-teman komunitas di BumiArtyou Creativity.
Selama saya menjalani kehidupan seni di Bumiayu memang dirasa cukup berat dan sulit. Masa depan dunia kesenian di kota tersebut seolah tertutup debu yang sangat tebal dan sulit untuk ditembus. Dalam artia kondisi sosial ekonomi masyrakatnya memang masih dapat dikatakan jauh dari realitas seni. Dari pengalaman-pengalaman saya pameran bersama dengan teman-teman komunitas seni rupa Bumiayu, respon masyarakat memang cukup antusias. Setelah dunia seni rupa Bumiayu dapat dikatakan mati suri, setelah vakum dalam waktu ± tujuh tahunan. Dalam periode 90-an akhir memang masih aktif beberapa senior saya yang sering menggelar kreasinya dijalan, menjadi seniman jalanan di komplek Telkom Bumiayu. Seniman tersebut antara lain Haris “Agep” Zulfikar, Maryanto, dan Hanif, yang tiap harinya menggelar karya kreasinya di tempat tersebut. Tetapi saya kurang tahu juga apakah mereka hanya mangkal saja, atau membuat kegiatan pameran atau kegiatan lainnya, mungkin ada tetapi saya kurang begitu tahu. Seingat saya, pameran yang diadakan kelompok Agep cs, sering dilaksanakan di pendopo Kawedanan Bumiayu.
Ketika mulai masuk periode 2000-an kelompok tersebut mulai surut dalam perhelatan seni rupa di Bumiayu, mungkin dikarenakan kesibukan dari masing-masing anggotanya. Dengan adanya kelompok-kelompok seni rupa yang ada tersebut harusnya menjadi pembelajaran penting bagi masyarakat Bumiayu, minimal dapat mencintai dan menghargai sebuah karya seni. Dari pengalaman saya dan teman-teman dalam memamerkan karya kepada publik Bumiayu cukup mendapat sambutan yang cukup beragam sampai ke titik yang tidak enak di dengar. Pameran saya dengan temen-temen yang pertama dengan mengangkat tema “Freedom Expression on the Road”. Pameran kelompok kami menjadi stimulus dalam membangkitkan kembali pelaku seni di Bumiayu serta menjaring manusia seni baru. Walaupun pameran yang dapat dikatakan jauh dari layak dalam memamerkan sebuah karya seni.
Dengan semangat yang masih baru kami dapat memamerkan karya kami di trotoar di depan kantor Pegadain Bumiayu. Pameran yang berlangsung sekitar empat hari, cukup mendapat sambutan yang cukup antusias dari masyarakat, walaupun dengan kemasan yang apa adanya. Pameran kelompok kami berlangsung pada bulan agustus tahun 2006, dengan dana yang serba minim tetapi dengan semangat yang lebih. Selanjutnya tahun 2007 kelompok kami menggelar pameran yang kedua kalinya ditempat yang sama, di depan kantor Pegadaian Bumiayu. Pameran kedua kami dengan mengangkat tema “BumiArtyou”, dalam pameran kedua ini masyarakat Bumiayu lebih antusias lagi dalam mengapresiasi sebuah karya seni. Tujuan dari diadakan pameran di trotoar adalah supaya masyarakat dapat langsung melihat tanpa harus datang ke gedung pameran(disamping memang belum ada gedung pameran). Dan tujuan lainnya adalah menjaring semua kalangan masyarakat dapat mengapresiasi langsung karya seniman-seniman Bumiayu.
Dari pengalaman mengadakan pemeran  di troatoar tersebut, saya mulai dapat menilai sebatas mana masyarakat Bumiayu dalam mengapresiasi sebuah karya seni, khususnya seni rupa. Berikut saya akan berbagi cerita dengan temen-temen di dunia virtual,mudah-mudahan bermanfaat. Pameran yang kami gelar pada intinya memang membuat masyarakat dapat melihat karya-karya seni rupa. Memang sudah lama masyarakat Bumiayu tidak di suguhi karya-karya seni rupa secara langsung. Dari beragam jenis lukisan yang ditampilkan tentunya mengundang tanya para apresiator. Sewaktu pameran belangsung memang cukup banyak orang yang berlama-lama melihat karya dan mengobrol tentang lukisan dengan saya dan juga temen saya. Dari semua obrolan memang mereka cukup senang dengan kegiatan seperti pameran lukisan ini, dan bahkan pameran lukisan di trotoar baru pertama kali di adakan di Bumiayu. Dari sambutan dan antusiasme masyarakat saja kita sudah cukup senang dan bangga.
Tetapi apakah cukup sampai disitu penghargaan sebuah karya seni, apakah dengan pujian kita lantas sombong dan lupa diri. Dari komentar-komentar yang diucapkan audiens memang cukup beragam, dari mulai yang baik sampai dengan yang tidak enak di dengar. Tetapi itulah resiko dari sebuah karya yang hadir di publik akan mengundang kritik dan saran. Seniman tentunya menginginkan karyanya dapat laku terjual, itulah salah bentuk penghargaan tertinggi terhadap karya seni tanpa mengabaikan nilai estetikanya. Dengan kata lain seniman atau pekerja seni juga butuh makan. Kita sering mendengar lukisan si seniman ini laku sekian sampai sekian, bahkan sampai dapat dikatakan harga tidak wajar untuk sebuah lukisan. Kenapa hal ini dapat terjadi pada sebuah lukisan kadang harganya bisa selangit dan sangat mahal. Jawaban singkat nya itulah seni yang memang harus dibayar mahal karena tidak semua orang dianugrahi kemampuan dalam seni serta seni membutuhkan tingkat pemahaman, kreatifitas, teknik yang tidak biasa.
Lalu kondisi semacam itu apakah sudah dipamahami oleh masyarakat Bumiayu. Saya rasa mereka belum menyadari secara substansial dari seni itu sendiri. Dari pengalaman saya dilapangan dalam menggelar lukisan berasama temen komunitas. Masyarakat Bumiayu masih dalam pemahaman yang konservatif, mereka masih menghargai sebuah karya seni sebatas media atau ukuran yang digunakan. Misalkan sebuah drawing menggunakan pensil warna atau pastel, mereka pasti akan menawar dengan harga yang sesuai dengan media yang digunakan. Tetapi ketika ada lukisan dengan cat minyak, mereka kadang perbandingan ukuran lukisannya. Ketika lukisannya kecil mereka akan menawar dengan nilai yang rendah, sebaliknya lukisan dengan ukuran yang besar mereka juga menawar dengan harga yang cukup(dalam persepsi mereka cukup). Ada lagi sebuah gambar dengan pensil hitam atau konte akan ditawar dengan harga paling rendah, dikarenakan menggunakan pensil yang dikira mereka gampang dalam menggambarnya. Tetapi ada beberapa orang yang sudah memahami esensi seni, mereka tahu tetapi hanya sebatas pemahamannya saja, disamping memang faktor ekonomi tidak mendukung untuk mencoba mengoleksi karya seni.
Cuma sebatas itukah mengghargai sebuah karya seni, sungguh pemahaman yang sangat dangkal. Idealnya jika sebuah karya seni masih dilihat sebatas kulitnya tanpa meninjau lebih dalam lagi. Dari sebuah karya seni tentunya memiliki esensi dan estetika, itulah yang membedakan benda seni dengan benda industri atau sehari-hari. Itulah pemahaman yang masih melekat pada sebagian besar masyarakat Bumiayu, memang harus disadari Bumiayu memang bukan kota seni yang masyarakatnya melek seni. Tetapi dengan adanya kegiatan seni yang intens, maka dari situ akan timbul pembelajaran bagi publik. Tidak semua orang dapat menciptakan semua karya seni, tidak semua orang mampu memunculkan bakatnya dalam seni. Karena seni memag butuh nilai lebih, berupa kepekaan disamping di dukung dengan skill, dan pemikiran yang jauh dari biasanya. Kalau kita tengok sejarah Renaisans, Mesir, Maya, Yunani, Indonesia, diamana seni telah ikut andil dalam membangun sebuah peradaban. Dimana dapat kita temui berupa peninggalan-penigalan bangunan bersejarah yang memiliki nilai seni tinggi.
Seni telah menjadi bagian dari kehidupan manusia, kehidupan manusia tanpa seni maka akan menjadi hambar dan biasa saja. Jadi menghargai sebuah karya seni tidaklah sebatas luarnya saja atau tampilannya saja. Di dalam sebuah karya seni terkandung makna, cerita, pesan, pembelajaran, peringatan, yang kadang dapat dijadikan sebuah perenungan dan introspeksi bagi manusianya. Seni telah mewarnai perejalanan kehidupan manusia dari waktu ke waktu, dan telah menghasilkan pemahaman baru dalam membaca dunia atau bahkan masa depan. Karena disadari atau tidak terkadang seniman atau pencipta seni dapat dikatakan mendahului jamannya. Ketika masyarakat belum siap dengan hadirnya karya dari sang seniman, maka yang terjadi adalah sikap tidak tahu dan bahkan mecemooh. Banyak contoh yang telah dialami para seniman pendahulu kita, seperti apa yang dialami Vincent Van Gogh. Lukisan Van Gogh tidak pernah diterima masyarakat pada waktu, karena dianggap aneh dan tidak sesuai dengan tren pada waktu. Sampai akhirnya Van Gogh wafat pada usia yang masih sangat muda, lukisannnya tidak pernah ada yang membelinya. Van Gogh tidak pernah menikmati hasil jerih payahnya dalam menekuni seni.
Tetapi apa yang terjadi, justru setelah kematiannya barulah lukisan Van Gogh dicari dan di buru oleh para kolektor. Dan semua lukisan yang jumlahnya ribuan dapat terjual habis dan bahkan gaya lukisan Van Gogh akhirnya mengilhami aliran baru dalam seni lukis, yaitu aliran Ekspresionisme. Van Gogh tidak dapat menikamti hasil jerih payahnya, tetapi yang menikmati justru adiknya yaitu Theo, yang selalu memberi dukunag moril dan materil ketika Van Gogh menciptakan seninya. Itulah sebuah gambaran bahwa kadang seniman muncul atau hadir memang mendahului jamannya, ketika masyarakat belum siap seniman telah muncul dengan pemikirannya yang tidak lazim pada waktu itu. Dan pada dasarnya seni memang membuthkan pemahaman yang lebih dalam mencernanya tidak hanya sebatas kulit luarnya saja. Ada sebuah ungkapan yang diungkapkan oleh Robert Motherwell bahwa “Seni merupakan hal yang tidak terlalu penting dibandingkan dengan hidup, tapi sungguh malang jika hidup ini tanpa seni”. Mudah-mudahan ini menjadi bahan renungan kita bersama, bahwa hidup itu tidak hanya urusan makan minum, tidur, belajar, bekerja, tetapi ada yang lebih penting yaitu seni untuk kehidupan yang lebih baik dan bahagia. Semoga tulisan kegundahan saya bermanfaat bagi semua.[]


Tidak ada komentar:

Posting Komentar